Connect with us

Nasional

Pengacara Serang Hakim, Polisi: Tak Hormati Pengadilan

Published

on

Suasana kericuhan persidangan di PN Jakarta Pusat, Kamis (18/7/2019). Hakim H diserang pengacara penggugat dalam perkara perdata yang disidangkan. (Foto: iNews).

Geosiar.com, Jakarta – Pihak kepolisian Polres Jakpus resmi menahan seorang pengacara bernama Desrizal Chaniago lantaran menyerang hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus), pada Kamis (18/7/2019) sore kemarin. Pengacara itu merupakan kuasa hukum pengusaha nasional, Tomy Winata.

Kasubag Humas Polres Metro Jakpus, Kompol Purwadi mengatakan, pihaknya mempunyai pertimbangan khusus atas penahanan Desrizal.

“Dia disangkakan Pasal 351 ayat (1) KUHP tentang penganiayaan ringan. Ancaman 2 tahun penjara. Yang bersangkutan ditahan karena ini kasus menonjol, viral, polisi antisipasi terjadi sesuatu,” tutur Purwadi, Sabtu (20/7/2019).

Saat menjalani pemeriksaan, kata Purwadi, tersangka Desrizal mengaku menyesali perbuatannya tersebut. Desrizal mengaku salah lantaran tidak menghormati pengadilan.

“Ya (menyesal), karena kan (penyerangan) terjadi saat sidang yang artinya tidak menghormati pengadilan,” lanjutnya.

Leboh lanjut, Purwadi menyatakan bahwa penyidik Polres Metro Jakpus memutuskan untuk menahan Desrizal selama 20 hari ke depan.

“[Desrizal] ditahan 20 hari ke depan. Sejauh ini belum ada pihak yang mengajukan penangguhan penahanan terhadap Desrizal.” tandasnya.

Sebagai informasi, penyerangan terjadi ketika hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sedang membacakan putusan perdata dengan penggugat Tomy Winata melawan PT Geria Wijaya Prestige (GWP). Di mana keputusan itu mengarah pada penolakan petitum.

Tidak terima atas keputusan itu, Desrizal langsung mendatangi meja hakim sembari melepas ikat pinggang dan kemudian menyerang hakim. Padahal hakim belum mengetok palu.

Klien Desrizal, Tomy Winata (TW) mengaku terkejut atas tindakan kuasa hukumnya itu. Lantas, TW pun menyesalkan dan meminta maaf atas insiden tersebut.

“Tindakan DA memukul hakim di ruang pengadilan tidak seharusnya terjadi,” tutur juru bicara TW, Hanna Lilies dalam keterangan tertulis, Jumat (19/7/2019).

Desrizal ditetapkan sebagai tersangka pemukulan terhadap dua hakim di PN Jakarta Pusat. Desrizal dijerat dengan Pasal 351 ayat (1) KUHP dan Pasal 212 KUHP.

Advertisement

Nasional

‘Jan Ethes’ Jadi Nama Anggur, Ini Respons Jokowi

Published

on

Presiden Jokowi dan Jan Ethes keluar dari RS PKU Muhammadiyah Solo, Sabtu (16/11/2019). [Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom]

Geosiar.com, Jakarta – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menabalkan nama ‘Jan Ethes SP 1’ untuk varietas anggur hasil inovasi Badan Litbang. Nama itu serupa dengan nama cucu pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Mengetahui informasi ini, Jokowi hanya tertawa saat dimintai tanggapan terkait pemberian nama tersebut. “Jangan tanya saya,” ujar Jokowi sambil tertawa saat ditemui di RS PKU Muhammadiyah Solo, Sabtu (16/11/2019).

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu justru menunjuk Jan Ethes, sebagai pemilik nama asli, yang berada di dekatnya. “Tanya langsung ke Jan Ethes,” pungkas presiden tertawa.

Syahrul memberikan nama varietas anggur baru yang mirip dengan cucu pertama Presiden Jokowi tersebut dalam acara Pencanangan Gerakan Nasional Pengembangan Mangga dan Anggur sebagai rangkaian acara Pekan Inovasi Mangga Nasional. Menurutnya, nama yang bernuansa Jawa itu memiliki makna baik.

“Saya suka nama itu, dalam bahasa Jawa artinya sangat bagus, Jan berarti sangat, Ethes berarti cekatan, pas sekali, ini varietas unggul,” ujar Syahrul dalam keterangan tertulis, Jumat (15/11/2019).

Continue Reading

Nasional

Aksi ‘Tenggelamkan Kapal’ Era Susi Masih Berlaku!

Published

on

Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Ranai memusnahkan 2 buah barang bukti berupa KIA Vietnam pelaku illegal fishing di Perairan Pulau Tiga Natuna, Kepulauan Riau dengan cara ditenggelamkan, Minggu (3/3/2019) sore.[Foto: DOK TNI AL]

Geosiar.com, Jakarta – Kebijakan penenggelaman kapal illegal fishing yang diterapkan pada era Menteri Susi Pudjiastuti masih berlaku sampai saat ini. Hal itu ditegaskan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo lewat video yang diunggah oleh akun Twitter resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan (@kkpgoid).

Video itu merupakan pernyataan Edhy Prabowo saat ditemui awak media setelah Apel Siaga PSDKP di Batam, Rabu (13/11) lalu. Dalam video itu, Edhy menegaskan tidak akan mengubah kebijakan yang baik dari menteri sebelumnya.

“Menteri Edhy Prabowo tidak pernah menyatakan ‘tidak ada lagi kebijakan penenggelaman kapal’. Mohon tidak menyebarluaskan pemberitaan yang salah sebelum tahu kebenarannya”. tulis akun @kkpgoid.

Menurut Edhy, kebijakan penenggelaman kapal adalah terobosan yang baik dari Susi Pudjiastuti, dan ia setuju akan kebijakan itu. Akan tetapi, ia juga memiliki kebijakan-kebijakan sendiri terkait masalah kelautan ini.

“Penenggelaman kapal itu terobosan yang dilakukan Menteri sebelumnya dan saya pikir itu bagus. Tapi menenggelamkan kapal saja kan tidak hanya sampai di situ mengelola laut, yang harus ada adalah setelah ini apa,” lanjut Edhy dalam video itu.

Bagi Edhy, selain menenggelamkan kapal, ada langkah lain yang harus dilakukannya sebagai menteri.

“Ada pembinaan, industrinya, industri perikanan kita seperti apa, penangkapan nelayan kita seperti apa, perizinannya seperti apa, ini harus kita perbaiki,” sambungnya.

Kendati demikian, politikus Partai Gerindra ini kembali menegaskan bahwa pihaknya tidak akan ragu untuk menenggelamkan kapal-kapal pencuri ikan.

“Kalau memang harus kita tenggelamkan, tidak ada masalah kita tenggelamkan, tidak ada masalah. Jadi kita tidak akan pernah mengubah kebijakan-kebijakan yang baik sebelumnya,” tegas Edhy.

“Tapi saya akan fokus sesuai perintah Presiden kepada saya membangun komunikasi dengan nelayan, memperbaiki izin-izin yang terlalu lama. Saya sudah berkomunikasi dengan Menteri Perhubungan dan sangat terbuka beliau untuk menyatukan sehingga waktunya izinnya tidak lama-lama lagi,” pungkas Edhy Prabowo.

Continue Reading

Nasional

Penyiram Air Keras di 3 Lokasi Jakbar adalah Pelaku Tunggal

Published

on

Ilustrasi pelaku kejahatan.

Geosiar.com, Jakarta – Polda Metro Jaya telah berhasil menangkap pelaku penyiraman air keras di tiga lokasi di Jakarta Barat. Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Suyudi Ario Seto menyebut penyiram merupakan pelaku tunggal.

“Ya, sudah ditangkap. Semua TKP satu orang pelakunya,” ujar Suyudi saat dikonfirmasi, Sabtu (16/11/2019).

Kendati demikian, Seto masih belum mendetailkan identitas pelaku. Dia juga belum menjelaskan lebih lanjut terkait proses penangkapan pelaku. Saat ini, lanjut Seto, pelaku masih dalam penyelidikan.

“Nanti akan segera dirilis,” pungkas Suyudi.

Seperti diketahui, teror penyiraman air keras terjadi pada tiga lokasi di Jakarta Barat, yaitu Meruya, Kembangan, dan Kebon Jeruk, dalam sepekan terakhir. Total ada delapan pelajar dan seorang pedagang sayur yang menjadi korban.

Penyerangan pertama menimpa dua orang pelajar SMP di Kebon Jeruk, Jakarta Barat pada Selasa (5/11/2019). Kemudian seorang lansia, Sakinah (60) di kediamannya di Meruya, Kembangan pada Jumat (7/11/2019) malam.

Terakhir, pada Jumat (15/11/2019) siang di Jalan Mawar, Srengseng, Kembangan, ada enam orang pelajar SMP yang menjadi korban teror penyiraman air keras.

Continue Reading
Advertisement

BERITA NASIONAL

Advertisement

Trending

Alamat Redaksi : Jl. Mataram No. 21 Gedung Catolic Center Lt 2 Medan – Sumatera Utara, Telp. +626180514970 Email : geosiar.com@gmail.com Copyright © 2017-2018 Geosiar.Com