Connect with us

Dunia

13 Orang Diduga Tewas dalam Kebakaran Studio Animasi Jepang

Published

on

Kebakaran Studio Kyoto Animation di Jepang, Kamis 18/7/2019). (Foto: Kyodo/via REUTERS)

Geosiar.com, Jepang – Sebuah studio animasi di Jepang, Kyoto Animation, mengalami kebakaran pada Kamis (18/7/2019) siang. Setidaknya ada 13 orang terjebak di dalam gedung tersebut, diduga tewas.

“Dua belas orang ditemukan di lantai dasar dan lantai satu,” tutur petugas pemadam kebakaran, seperti dilansir dari AFP, Kamis (18/7/2019).

Sebelumnya, petugas pemadam melaporkan adanya satu korban tewas. Dengan demikian jumlah korban tewas dalam kebakaran itu menjadi 13 orang.

Hingga saat ini, petugas masih melakukan operasi penyelamatan, sebab masih ada sejumlah orang yang terjebak dalam gedung tersebut. Namun, petugas belum dapat memastikan kondisi dari korban yang terjebak.

“Operasi penyelamatan sedang berlangsung, dan kami sedang mencoba untuk membawa keluar sejumlah korban yang terjebak di dalam gedung tiga lantai itu, termasuk satu orang yang tidak berdaya. Kami tidak bisa memastikan kondisi mereka (korban),” lanjutnya.

Petugas pemadam kebakaran menerima laporan adanya kebakaran di studio milik Kyoto Animation pada pukul 10.35 pagi waktu setempat.

“Penelepon melaporkan telah mendengar ledakan keras dari lantai pertama Kyoto Animation dan (mereka) melihat asap,” ujarnya

Petugas kepolisian Kyoto mengatakan, seorang saksi mata melihat pelaku menyiram lokasi dengan cairan sebelum kebakaran terjadi. Pelaku adalah pria berusia 41 tahun. Namun, petugas masih menyembunyikan identitas pelaku.

“Seorang pria melemparkan cairan dan menyebabkan kobaran api,” kata seorang juru bicara kepolisian Kyoto.

Kini pihak kepolisian setempat masih menyelidiki motif penyerangan ini. Sementara itu, pelaku dilaporkan mengalami luka bakar dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

Sebagai informasi, Kyoto Animation yang dikenal dengan KyoAni didirikan pada 1981 dan telah merilis sejumlah cerita animasi dengan menyasar segmen generasi muda.

Dunia

Jadi Bahan Gosip, Trump Sebut PM Kanada Bermuka Dua

Published

on

Trump Sebut PM Kanada Bermuka Dua (Reuters)

Geosiar.com, – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (4/12/2019) menyebut Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau bermuka dua. Hal tersebut dikatakan setelah Trudeau tertangkap kamera diduga sedang mengolok-olok kehadiran Trump di pertemuan tinggi NATO di Inggris.

Perdana Menteri Trudeau tampak terekam tengah berada di acara resepsi KTT NATO di Istana Buckingham, Inggris pada Selasa sore (3/12/2019). Dia menggambarkan dalam sebuah acara konferensi pers, para pejabat tinggi Amerika Serikat cukup kaget dengan kinerja Trump.

Pembicaraan antara Trudeau, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte dan Anne putri Ratu Elizabeth II, terekam.

“Apakah karena itu Anda terlambat?,” kata PM Johnson bertanya kepada Presiden Macron.

“Acara konferensi pers itu berlangsung selama 40 menit. Ya, Saya melihat timnya (Trump) terkejut,” jawab Trudeau.

Merespon ucapan Trudeau itu, Trump langsung menyebutnya bermuka dua. Ia menduga Trudeau kecewa lantaran Trump sempat menantang Trudeau, akan tetapi ia gagal memenuhi target Trump menghabiskan 2 persen dari output nasional untuk pengeluaran sektor pertahanan.

“Dia bermuka dua. Saya dulu melihat dia sebagai orang yang baik, namun kenyataannya saya pernah menyerukan padanya fakta dia tidak membayar 2 persen pajak dan saya bisa melihat dia tidak suka,” tutur Trump.

Trudeau tidak mau perang kata-kata dengan Trump. Pada konferensi pers terakhir KTT NATO, Trudeau mengatakan dia dan Trump menjalani pertemuan NATO dengan baik.

Continue Reading

Dunia

Bayi Kembar di Australia Meninggal Saat Tidur, Sang Ayah Menjerit Sedih

Published

on

Bayi kembar yang baru lahir meninggal saat sedang tidur bersama ibunya. (Tempo.co)

Geosiar.com, Australia – Bayi kembar di Brisbane, Australia berjenis kelamin perempuan yang baru lahir meninggal ketika tengah tidur ditemani ibunya pada Rabu (27/11/2019). Kejadian tersebut viral menyusul adanya penggalangan dana untuk acara pemakanan bayi kembar itu.

Dilansir dari mirror.co.uk pada, Rabu (4/12/2019), bayi kembar tersebut bernama Indiana dan Violet yang berusia enam minggu. Keduanya ditemukan sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan tubuh terbungkus selimut di rumah mereka di Sunnybank Hills, wilayah selatan Kota Brisbane, Australia.

Tim medis yang dipanggil ke lokasi tidak dapat menyelamatkan salah satu bayi kembar itu. Sementara satu bayi lainnya segera dilarikan ke Rumah Sakit Anak Brisbane. Namun sayang, sang bayi itu meninggal juga 36 jam kemudian.

Penduduk sekitar mengaku terkejut ketika mendengar jeritan ayah dua bayi kembar itu. Ayah bayi kembar itu sangat kecewa dengan musibah yang menyelimutinya.

Kieran Garratt, teman keluarga yang berduka membuka laman GoFundMe untuk membantu orang tua kedua bayi kembar itu agar mereka bisa melakukan upacara pemakaman.

“Sulit melihat senyum pada kedua orang tuanya setelah musibah ini. Bayi – bayi ini hanya bertahan hidup selama enam pekan,” tulis Garratt dalam laman GoFundMe.

Tidak dijelaskan secara rinci penyebab kedua bayi kembar itu meninggal dan identitas kedua orang tuanya tidak dipublikasi. Garratt menceritakan kepada News Australia, kedua orang tua bayi kembar itu telah menjadi penakut dan merasa dihantui setelah kejadian dua anak mereka meninggal.

Orang tua bayi kembar itu pun juga memiliki anak berusia empat tahun dan tiga tahun, yang salah satunya menderita autisme. Kejadian tersebut juga sudah berdampak pada anak tertua mereka yang kini menjadi lebih pendiam.

Kepolisian Queensland mengatakan bahwa kematian kedua bayi kembar itu karena faktor alami. Polisi meyakinkan kedua bayi itu tidur pada malam hari dan ditemukan sudah tidak merespon pada pagi harinya.

Continue Reading

Dunia

AL India Usir Kapal Peneliti China di ZEE

Published

on

(militermeter.com)

Geosiar.com, New Delhi – Angkatan Laut (AL) India dikabarkan mengusir sebuah kapal penelitian hidrogafi milik China di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) India pada September lalu. Hal tersebut diungkapkan komandan Angkatan Laut (AL) India.

Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi di dekat Kepulauan Andaman dan Nikobar, wilayah India yang terletak di Teluk Bengal sekitar 300 km barat daya Myanmar. Shiyan 1, kapal penelitian dan survei yang dioperasikan oleh Lembaga Kelautan Laut China Selatan, terlalu dekat dengan kota utama wilayah itu, Port Blair. Sebuah kapal perang Angkatan Laut India kemudian dikirim untuk memantau kapal China tersebut dan mengawalnya begitu kapal itu masuk tanpa izin.

Laksamana Karambir Singh tidak mengkonfirmasi secara rinci soal insiden itu, namun ia, “pendirian kami adalah jika Anda harus bekerja di Zona Ekonomi Eksklusif kami, maka Anda harus meminta izin kami,” katanya seperti dikutip dari Russia Today, Rabu (4/12/2019).

Ia juga mengkonfirmasi jika kapal pelitian China Shiyan 1 diminta untuk pergi. Pihak China sendiri tidak mengomentari laporan tersebut.

Shiyan 1 dibangun di Guangzhou pada tahun 2009 dan memiliki lambung seperti kapal catamaran yang tidak biasa. Panjangnya 60 meter, lebar 26 meter, dan bobot mati hampir 700 ton. Kapal ini dilaporkan mampu bertahan selama 40 hari dan dapat melakukan perjalanan hingga 8.000 mil laut per perjalanan.

Secara teknis itu merupakan kapal sipil, namun instrumennya bisa digunakan untuk mengumpulkan data yang berguna bagi militer China, termasuk peta dasar laut dan tanda tangan akustik kapal selam.

Continue Reading
Advertisement

BERITA NASIONAL

Advertisement

Trending

Alamat Redaksi : Jl. Mataram No. 21 Gedung Catolic Center Lt 2 Medan – Sumatera Utara, Telp. +626180514970 Email : geosiar.com@gmail.com Copyright © 2017-2018 Geosiar.Com