Connect with us

Nasional

TGPF Duga Motif Penyerangan Novel, Terkait 6 Kasus Besar

Published

on

Konferensi pers hasil investigasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus Novel Baswedan di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (17/7/2019).(Foto: KOMPAS)

Geosiar.com, Jakarta – Kasus peyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan masih menjadi pemberitaan hangat setelah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menyerahkan hasil investigasi yang dilakukan selama 6 bulan kepada Kepala Kepolisian RI, Jenderal Tito Karnavian, pada 9 Juli lalu.

Dari hasil investigasi tersebut, Juru Bicara TGPF, Nur Kholis menduga penyerangan Novel berhubungan dengan lima kasus besar yang pernah ditangani KPK, dan satu kasus pencurian sarang burung walet di Bengkulu. Sebab, penyidikan semua kasus itu dipimpin langsung oleh Novel Baswedan.

Oleh karena itu, Nur Kholis merekomendasikan agar Kapolri melakukan pendalaman terhadap enam kasus yang dinilai high profil itu.

“TPF merekomendasikan kepada Kepala Polisi Republik Indonesia melakukan pendalaman probabilitas sekurang-kurangnya enam kasus high profil yang ditangani korban. TPF meyakini kasus tersebut menimbulkan serangan balasan,” kata Nur Kholis di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (17/7/2019).

Adapun kasus di KPK tersebut, papar Nur Kholis, yakni kasus korupsi e-KTP, kasus mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar, kasus suap Sekjen Mahkamah Agung (MA) Nurhadi Abdurrachman, kasus suap Bupati Buol, dan kasus Wisma Atlet.

“Satu lagi ini kasus yang tidak dalam penanganan KPK, tetapi memiliki potensi. Mungkin tidak berkaitan dengan pekerjaan beliau (Novel sekarang), tetapi tidak menutup kemungkinannya ada yaitu kasus sarang burung walet di Bengkulu,” tambah Nur Kholis.

Sebagai informasi, TGPF Novel Baswedan bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, berhasil menemukan fakta bahwa ada tiga orang tidak dikenal yang menjadi terduga sebagai penyerang Novel Baswedan. Namun, tim belum berhasil mengumumkan nama pelaku maupun aktor intelektual penyerangan tersebut.