Connect with us

Nasional

Jaksa Agung Tegaskan Status Baiq Nuril: Belum Dieksekusi

Published

on

Jaksa Agung HM Prasetyo saat bertemu Baiq Nuril, di Kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Jumat (12/7/2019).(Foto: KOMPAS.com/Devina Halim)

Geosiar.com, Jakarta – Jaksa Agung RI HM Prasetyo menegaskan bahwa eksekusi terhadap Baiq Nuril belum akan dilakukan sebab masih harus mengikuti perkembangan penyidikan perkara.

“Kami akan ikuti perkembangan jalannya perkara ini. Saya sudah menyampaikan ke Kejaksaan Tinggi NTB jangan dulu berbicara soal eksekusi,” tutur Prasetyo setelah bertemu Baiq Nuril dan Rieke Diah Pitaloka di kantornya, Jumat (12/7/2019).

Menurut Prasetyo, hukum tidak sekedar berbicara soal keadilan dan kebenaran. Dalam kasus Baiq Nuril, jelas Prasetyo, kejaksaan harus mampu melihat kepentingan hukum yang lebih besar lagi yaitu menyangkut tentang perlindungan hak asasi manusia khususnya kaum perempuan.

“Ini bagian dari politik kesetaraan gender. Jadi kalau ada pihak yang pro-kontra saya bilang ini adalah politik kesetaraan gender untuk melindungi HAM,” jelasnya.

Dengan demikian, Prasetyo berharap Baiq Nuril tidak perlu merasa cemas atas eksekusi penjara yang dijatuhkan kepadanya. “Untuk ibu Baiq, tidak perlu khawatir dan ketakutan akan dieksekusi dimasukkan ke jeruji besi. Kita akan lihat perkembangan selanjutnya.” pungkasnya.

Sebagai informasi, Baiq Nuril Maqnun adalah korban pelecehan seksual verbal yang divonis bui karena merekam percakapan mesum atasannya.

Baiq Nuril dijerat Pasal 27 ayat 1 UU ITE juncto Pasal 45 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) setelah dilaporkan atas perbuatan merekam aksi pelecehan seksual yang dilakukan oleh kepala sekolah tempat dirinya bekerja.

Setelah memenangkan perkara di Pengadilan Negeri Mataram dan kasasi di Mahkamah Agung, Baiq Nuril kembali mengajukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung.

Akan tetapi, permintaan tersebut ditolak. Hal itu berarti Baiq Nuril akan tetap dihukum 6 bulan penjara dan denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan penjara.

Selain mengajukan penangguhan eksekusi, kini Baiq juga berusaha untuk meminta pertimbangan Presiden agar memberikan amnesti terhadap pidana yang menjerat dirinya.

“Mudah-mudahan amnesti diberikan,” tutur Baiq Nuril di depan Kantor Kejaksaan Agung RI, Jumat (12/7/2019)