Connect with us

Politik

Peneliti LIPI Sindir Aksi ‘Halal Bi Halal’ PA 212: Masa Di Jalan Umum

Published

on

Massa Halal Bi Halal Akbar Persaudaraan Alumni (PA) 212 saat memadati kawasan Patung Kuda Jalan Merdeka Barat, Rabu (26/6/2019). (Foto: TEMPO)

Geosiar.com, Jakarta – Seorang peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bidang perkembangan politik lokal, Hermawan Sulistyo, menyindir aksi unjuk rasa yang dilakukan sejumlah massa dari berbagai organisasi keagamaan di sekitar Gedung Mahkamah Konstitusi (MK) hari ini, Rabu (26/6/2019).

Hermawan menyebut aksi tersebut tak layak disebut sebagai ‘Halal Bi Halal’ karena sama sekali tidak ada momen saling memaafkan satu sama lain, seperti makna asli dari konsep Halal Bi Halal. Selain itu, dia menilai Halal Bi Halal tak pantas dilakukan di jalanan.

“Pertama, halal bi halal itu untuk silaturahim saling maaf memaafkan di tempat yang tenang. Di MK itu sedang sibuk pengambilan keputusan. Sedang ada masalah sengketa hasil Pilpres. Yang kedua lokasinya di jalanan, jalan umum. Masa halal bi halal nya di jalan raya, itu bukan halal bi halal,” tutur Hermawan kepada awak media, Rabu (26/6/2019).

Selain itu, Hermawan menyinggung soal aksi 21-22 Mei yang berujung rusuh seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi pihak-pihak terkait yang hendak mengerahkan massa. Sebab, ia mengkhawatirkan jika ada pihak tertentu yang ingin memanfaatkan kembali aksi massa itu untuk tujuan pribadi.

“Yang mau halal bi halal, apa tidak takut terjadi seperti kemarin lagi (jatuh korban)? Masa halal bi halal di tengah jalan, halal bi halal itu silaturahmi di tempat yang lagi tak ada konflik politik,” jelasnya.

Lantas, dia pun menyarankan agar polisi di setiap wilayah melakukan upaya pencegahan dengan cara menghentikan mobilisasi warga dari luar Jakarta yang hendak ikut dalam kegiatan di sekitar MK.

“Untuk antisipasinya, polisi harus tahu sumber massanya itu dari mana, kalau misalnya dari Banten ya polisi Banten-lah yang bertindak mengupayakan preventifnya. Jangan setelah ada penembakan, baru sibuk semua,” sarannya.

Seperti diketahui, aksi ini disiasati oleh anggota Persaudaraan Alumni 212 (PA 212), GNPF dan beberapa organisasi lainnya. Juru Bicara PA 212 Novel Bamukmin mengatakan aksi tersebut dilakukan untuk mengawal sidang putusan sengketa pilpres atau PHPU di Mahkamah Konstitusi. Novel pun berdalih pada kesempatan itu juga akan dilakukan kegiatan halalbihalal.