Connect with us

Dunia

Konflik dengan Iran, AS Terjunkan 1.000 Tentara Tambahan ke Wilayah Timur Tengah

Published

on

Ilustrasi Tentara AS. (Foto: U.S. Marine Corps/Reuters)

Geosiar.com, AS – Hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Iran belakangan ini mengalami peningkatan ketegangan. Oleh karena itu, pemerintah AS memastikan bakal menerjunkan 1.000 tentara tambahan ke wilayah Timur Tengah.

Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan AS, Patrick Shanahan. Dia menjelaskan bahwa pengerahan personel tambahan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk pertahanan dari ancaman di udara, laut, dan darat di Timur Tengah.

“Serangan Iran belakangan ini menghasilkan intelijen kredibel yang kami terima terkait sikap pasukan Iran dan kelompok proksi mereka yang mengancam personel dan kepentingan AS di kawasan,” tutur Shanahan dikutip dari kantor berita AFP.

Ketegangan ini bermula dari AS yang terus menyalahkan Iran atas serangan ke dua kapal tanker yang terbakar di Teluk Oman.
Kendati demikian, Shanahan memastikan bahwa pengerahan pasukan tambahan itu dilakukan bukan untuk berperang dengan Iran.

“AS tidak ingin konflik dengan Iran. [Pengerahan ini] untuk memastikan keamanan personel militer kami yang bekerja di kawasan dan menjaga kepentingan nasional kami,” tegasnya.

Seperti diketahui, hubungan AS dan Iran mulai memanas disebabkan oleh ancaman Presiden Hassan Rouhani yang menyebut bakal melanjutkan pengayaan uranium. Hal itu merupakan salah satu poin penting dalam kesepakatan nuklir.

Dalam perjanjian yang digelar di era Barack Obama itu, Rouhani mengatakan bakal melanjutkan pengayaan uranium apabila negara Eropa yang tergabung dalam perjanjian nuklir 2015 atau JCPOA itu tidak membela Teheran dari sanksi AS. Kemudian, kesepakatan yang terjalin yakni negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran.

Sebagai timbal-baliknya, Iran mesti menghentikan segala bentuk pengembangan senjata rudal dan nuklir mereka, termasuk pengayaan uranium.

Akan tetapi, sejak Donald Trump memimpin AS, negara adikuasa itu mulai menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir tersebut pada Mei 2018 lalu. Selain itu, AS kembali menerapkan sanksi atas Iran.

Dari saat itu, AS dan Iran terus saling melontarkan ancaman. Bahkan, Donald Trump menunjuk kapal induk dan sejumlah pesawat pengebom ke wilayah Timur Tengah.