Connect with us

Ekonomi

Inflasi Mei Sebesar 0,68%, BPS: Efek Ramadan dan Lebaran

Published

on

Ilustrasi kenaikan inflasi yang diakibatkan dari komoditas bahan pokok dan makanan.

Geosiar.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan laju inflasi pada Mei 2019 sebesar 0,68 persen. Nilai inflasi itu meningkat dibanding dengan Mei tahun 2018 yang hanya sebesar 0,37 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan bahwa secara tahunan, laju inflasi mencapai 3,32 persen. Angka tersebut lebih rendah dari target inflasi pemerintah yang mencapai 3.5 persen. Sehingga, dia menyimpulkan bahwa inflasi bulan Mei 2019 masih terkendali.

“Dengan memperhatikan target inflasi pemerintah 3,5 persen bisa saya simpulkan inflasi Mei terkendali,” kata Suhariyanto saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (10/6/2019).

Kenaikan angka inflasi Mei 2019 dikarenakan efek dari kenaikan harga selama bulan ramadan hingga lebaran yang terpusat di bulan lalu. Hal itu berbeda dengan Mei 2018, di mana efek ramadan dan lebaran berpengaruh pada inflasi bulan Juni 2018.

Oleh karena itu, Suhariyanto meyakini bahwa pada bulan Juni 2019, angka inflasi akan menurun sebab kondisi perekonomian sudah stabil.

“Inflasi Juni 2019 diperkirakan akan lebih rendah (dibanding Mei 2019),” prediksinya.

Secara rinci, BPS merilis penyumbang inflasi Mei 2019 tertinggi berasal dari komoditas bahan pokok dan makanan, yakni sebesar 2,02 persen secara bulanan dengan andil 0,43 persen.

“Penyebab utama karena permintaan akan bahan makanan meningkat selama Ramadan sehingga berikan andil besar terhadap inflasi Mei 2019,” tuturnya.

Berdasarkan data BPS, komoditas cabe merah memberi kontribusi inflasi sebesar 0,1 persen, kemudian diikuti dengan daging ayam ras 0,05 persen. Lebih lanjut, bawang putih berkontribusi sebesar 0,05 persen, ikan segar 0,04 persen, dan selebihnya kenaikan sayuran yang memang tak terlalu signifikan.

Selain itu, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga menyumbang inflasi sebesar 0,54 persen dengan andil 0,1 persen. Kemudian dari kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mengekor dengan inflasi sebesar 0,56 persen dengan andil sebesar 0,1 persen.

Inflasi juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar inflasi sebesar 0,06 persen dengan andil 0,02 persen. Diikuti dengan kelompok sandang sebesar 0,45 persen dengan andil 0,02 persen dan kesehatan sebesar 0,18 persen dengan andil 0,01 persen.

Suhariyanto mengatakan, dari 82 kota yang dilakukan pemantauan, 81 diantaranya mengalami inflasi. Hanya satu kota yang mengalami deflasi, yaitu Merauke.

“Inflasi tertinggi di Tual sebesar 2,91 persen dan inflasi terendah di Kediri sebesar 0,05 persen. Sedangkan deflasi di Merauke dengan minus 0,49 persen.” tandasnya.