Connect with us

Dunia

Paus Fransiskus Setuju Perubahan Satu Kalimat dalam ‘Doa Bapa Kami’

Published

on

Pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus. (Foto: AFP)

Geosiar.com, Vatikan – Pemimpin Gereja Katolik se-dunia, Paus Fransiskus telah menyetujui perubahan satu kalimat dalam ‘Doa Bapa Kami’, yang semula berbunyi “Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan,” menjadi “Dan janganlah biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan.”

Perubahan ‘Doa Bapa Kami’ itu sudah disetujui oleh majelis umum dari Konferensi Episkopal Italia dalam edisi ketiga dari Misa Italia pada 22 Mei 2019 .

Rencananya, kalimat baru itu akan mulai digunakan pada buku liturgi edisi ketiga Messale Romano, yang merupakan panduan untuk ibadah Gereja Katolik di Roma. Namun, penerjemahan baru hanya akan berlaku pada Keuskupan Italia.

Meski akan memantik kemarahan kaum tradisionalis, Paus Fransiskus mengatakan akan menerimanya sebagai suatu resiko yang memang harus dihadapi. Sebab, Ia mempunyai alasan yang tepat untuk menyetujui perubahan doa tersebut.

“Terjemahan ini tidak baik karena menyebut Tuhan yang menyebabkan pencobaan. Orang yang membawa anda ke dalam pencobaan adalah Setan. Itu peran Setan,” kata Paus Fransiskus, dikutip dari laporan The Guardian and the Sun, Jumat (7/6/2019).

“Saya lah yang jatuh ke dalam pencobaan. Bukan Dia yang mendorong saya ke dalam pencobaan. Karena seorang Bapa tidak akan melakukannya. Seorang Bapa segera membantumu bangkit. Setan lah yang membawa ke dalam pencobaan. Itu tugasnya.” lanjutnya.

Kendati demikian, perubahan kalimat dalam doa ini tidak serta-merta berdampak pada gereja Anglikan atau Protestan. Sementara, Gereja Katolik di Inggris dan Wales pun mengatakan, pihaknya belum berencana untuk mengubah penerjemahan baru itu dalam bahasa Inggris.

“Doa Bapa Kami telah diubah di bahasa Italia. Namun, saat ini tidak ada rencana untuk mengubahnya ke bahasa Inggris,” tutur seorang juru bicara Gereja Katolik di Inggris dan Wales.

Dia mengatakan bahwa setiap bahasa harus terlebih dulu dipahami makna khusus yang tersirat di dalamnya sehingga memerlukan konsultasi dengan pihak-pihak terlibat lainnya.

“Setiap bahasa harus dipelajari untuk memahami makna khususnya dan pemahaman akan bahasa tersebut. Saya yakin ada konsultasi dengan negara-negara yang berbahasa Inggris.” lanjutnya.

Menurut peraturan “Magnum Principium” yang dikeluarkan Paus Fransiskus pada 2017 silam memang menyebutkan bahwa tanggung jawab penerjemahan pada bahasa lokal diserahkan kepada Keuskupan setempat.