Connect with us

Sumut

Hendrik Sitompul Sebut Pancasila Sebagai Ideologi Final

Published

on

Hendrik H Sitompul,Drs,MM. Ketua Umum DPD Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Sumut

Geosiar.com, Medan – 1 Juni ditetapkan menjadi Hari Lahir Pancasila. Lahirnya Pancasila merupakan judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno pada 1 Juni 1945 silam.

Ketum DPD Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Sumut, Hendrik H Sitompul, Drs, MM mengaku bangsa Indonesia mesti bersyukur karena memiliki Pancasila sebagai Dasar Negara atau Ideologi Negara. Karena hal itu tidak terlepas dari perjalanan manusia-manusia Indonesia dalam membangun dan mengembangkan sejarah budayanya dari kehidupan bersama sebagai suatu masyarakat dan bangsa.

“Pancasila sebagai way of life bangsa Indonesia memberi kesadaran bersama untuk hidup damai dalam berbagai perbedaan baik suku, bahasa, kepercayaan dan ras,” imbuh Hendrik.

Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat meminta kepada peserta dalam sidang BPUPKI untuk memikirkan dan menyampaikan gagasan tentang apa yang akan menjadi ideologi atau dasar negara Indonesia. Hal yang paling pertama dipikirkan dan dibahas oleh The Founding Fathers negara Indonesia adalah hal dasar ini. Sehingga pada tanggal 1 Juni 1945 dengan kesadaran berbangsa yang berbhineka, para bapak bangsa ini sepakat lahirnya Pancasila sebagai dasar negara, philosophische grondslag atau sebagai Ideologi Indonesia.

Alumni PPRA 52 Lemhannas RI itu menambahkan, lahirnya Pancasila sebagai Ideologi Negara menjadi pilihan pertama dan bahkan menjadi pilihan terakhir bangsa Indonesia karena menjadi konsensus yang tidak hanya bersifat politik semata, melainkan intisari dari pandangan hidup atau way of life dari manusia Indonesia.

“Hal ini diterima sebagai kebenaran logis dalam membentuk Negara Indonesia yang penduduknya berbeda-beda baik dari segi suku bangsa, bahasa, budaya, kepercayaan/agama/keyakinan dan bahkan warna kulit dan ciri khas fisik lainnya,” tuturnya.

Berbagai tantangan dan rintangan telah dilalui oleh Pancasila dalam perjalanannya sepanjang sejarah berdirinya Republik ini. Namun Pancasila sudah menunjukkan kesaktiannya dengan tetap tegak dan tegar sampai hari ini.

Hendrik pun mengajak masyarakat untuk bersyukur karena Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini masih tetap aman dan damai berkat masih teguhnya Pancasila sebagai satu-satunya Ideologi Negara Indonesia.

Di usianya yang ke-74, adapula sebagian kecil masyarakat yang berusaha menggeser bahkan ingin mengganti Pancasila sebagai ideologi negara dengan ideologi lainnya yang belum teruji. Sudah jelas upaya mengganti ideologi pancasila dengan ideologi lain harus ditolak dan wajib dilawan.

Setiap warga kata Hendrik, wajib menjaga dan merawat komitmen kebangsaan yang sudah menjadi kesepakatan bersama sejak awal Indonesia didirikan dalam bingkai NKRI.

Pancasila sebagai ideologi negara sudah final, tidak bisa diganggu gugat. Sejarah telah membuktikan bahwa Pancasila adalah ideologi yang terbaik untuk saat ini dan yang akan datang karena dengan Pancasila ini seluruh anak bangsa dengan berbagai suku, bahasa dan agama dapat hidup dalam satu bangunan negara bangsa Indonesia dengan rukun dan bersatu, bermusyawarah, bergotong royong satu sama lain sebagaimana terkandung dalam kelima butir-butir sila Pancasila.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga dan merawat Pancasila dari rongrongan kelompok atau golongan yang berusaha mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain yang tidak sesuai dengan kesejatian bangsa Indonesia. Pancasila sudah terbukti menjadi perekat dan pemersatu bangsa yang bhineka ini dalam naungan NKRI dari Sabang sampai Merauke, dari Mianggas sampai Pulau Rote.

Kehandalan Pancasila sebagai ideologi negara terbukti mendapatkan apresiasi dari banyak bangsa sebagai ideologi perekat yang telah terbukti membawa Indonesia menjadi negara yang berdaulat, berkepribadian dan dapat merawat kebhinekaan ditengah-tengah percaturan politik global.

“Kita bhineka, kita Indonesia, kita Pancasila, itulah semboyan yang kerap kali harus kita dengungkan dan kita resapi dalam hidup kita sehari-hari dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” tegasnya.

“Selamat hari lahirnya Pancasila, Pancasila tetap jaya dan tegak sebagaimana dalam kepak sayap burung Garuda yang gagah perkasa,” tutup Hendrik.