Connect with us

Nasional

Kemenko Perekonomian: Kerusuhan 22 Mei Beda dengan Mei 1998

Published

on

Potret kerusuhan 22 Mei yang terjadi pada Selasa (21/5/2019) malam hingga Rabu (22/5/2019) dini hari.

Geosiar.com, Jakarta – Mayoritas pihak menyebutkan bahwa kerusuhan yang terjadi pada 22 Mei 2019 (Aksi 22 Mei) merupakan lanjutan dari kerusuhan pada Mei 1998 silam.

Pernyataan itu mendapat perhatian dari Sekretaris Kemeterian Perekonomian, Susiwijono Moegiarso. Susiwijono mengatakan, kedua peristiwa beda generasi tersebut sangat berbeda.

“Beda sekali (dengan Mei 1988),” kata Susiwijono di kantornya Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (23/5/2019).

Susiwijono mengatakan, peristiwa kerusuhan pada Mei 1998 merupakan puncak dari krisis ekonomi yang memukul Asia yang berdampak pada Indonesia, serta krisis politik. Sedangkan 22 Mei kemarin, terkait dengan penyelenggaraan demokrasi atas hasil Pemilu.

“Kemarin lebih merespon hasil pelaksanaan demokrasi kita, dan ada yang puas tidak puas mempertanyakan hasil, ada mekanismenya, cukup itu saja. Cuma seharian ada kejadian, wajar demokrasi,” papar Susiwijono.

Dia menegaskan bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan Mei 1998 dan tidak ada hubungannya dengan aksi 22 Mei pada Rabu (22/5) kemarin. Sebab, itu murni tentang persoalan pasca-pemilu meskipun kedua peristiwa tersebut berdampak pada situasi Ibu Kota yang menjadi tidak kondusif lantaran diwarnai kerusuhan demonstrasi.

Kendati demikian, dia mengakui bahwa respons pasar terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah sangat berpengaruh terhadap kondisi Ibu Kota terkait perpolitikan.

Sementara pada Rabu (22/5/2019) kemarin, pasar IHSG tercatat menurun dan nilai rupiah melemah, serta selama pekan ini dana asing banyak yang keluar dari Indonesia. Susiwijono berharap, dengan kembali normalnya kondisi Ibu Kota pasca demonstrasi 22 Mei, maka portofolio asing bisa kembali mengalir ke Tanah Air.

“Portfolio tuh inflow yang masuk kan di minggu ini mulai banyak keluar. Makanya penting kita jaga supaya ini cepat selesai,” katanya.

Demi menjaga kondisi tetap stabil, kata Susiwijono, pemerintah memiliki komitmen untuk melakukan koordinasi lintas sektor, mulai dari politik hingga ekonomi.