Connect with us

Nasional

Hati-Hati, Kuteks Bisa Sebabkan Kanker Bagi Pekerja Salon Kuku

Published

on

Ilustrasi pekerja salon kuku

Geosiar.com, Lifestyle – Bagi kamu penyuka nail art mesti waspada terhadap bahaya penggunaan kuteks dan nail polish. Sebab, studi baru menemukan bahwa pekerja di salon kuku rentan terkena penyakit kanker.

Penemuan itu dilaporkan oleh Forbes dalam jurnal Environmental Pollution. Disebutkan, para peneliti dari University of Colorado menjadi yang pertama menemukan efek hubungan bahan kimia dengan kesehatan pekerja salon kuku.

Mereka meneliti kadar bahan kimia, yakni senyawa organik volatil (VOC) yang umum ditemukan dalam produk cat kuku. Ternyata, VOC masuk dalam formaldehida.

Formaldehida merupakan karsinogen yang terkenal, digunakan sebagai agen pengeras kuku dan disinfektan untuk alat-alat perawatan kuku.

Senada, ahli epidemiologi dari Universitas Stanford dan Institut Pencegahan Kanker California, Dr Thu Quach menyebut, produk perawatan kuku mengandung racun dan bahan-bahan berpotensi bahaya, seperti toulena, formaldehida (formalin), dan dibutil phthalate yang dikenal sebagai toxic trio.

Dilansir The Daily Mail, Thu menjelaskan, paparan terhadap bahan-bahan kimia itu bisa merusak sistem syaraf, hormon dan dikaitkan dengan penyakit degeneratif, diantaranya kanker dan gangguan kesuburan.

Kendati demikian, para peneliti mencatat bahwa kondisi ini tidak menimbulkan bahaya bagi pelanggan salon kuku. Menurut mereka, kondisi masuknya karsinogen kepada seseorang yang mengakibatkan penyakit kanker bergantung pada berapa lama orang tersebut menghabiskan waktu berada dalam lingkungan yang terpapar.

“Itu tergantung pada berapa banyak waktu yang dihabiskan seseorang berada di lingkungan yang terpapar bahan-bahan kimia tersebut. Berbeda dengan pekerja, pelanggan hanya beberapa waktu saja berada di lingkungan berbahan kimia berbahaya, sedang pekerja berjam-jam dalam sehari. Tidak mengkhawatirkan bagi pelanggan kecuali mereka memiliki alergi tertentu,” kata peneliti Lupita Montoya, dilansir dari Nextshark, Sabtu (18/5/2019).

Nasional

Tolak Revisi UU KPK, Massa di Jember Demo Bawa Keranda dan Pocong

Published

on

Demo menolak revisi UU KPK di Jember (detik.com)

Geosiar.com, Jember – Puluhan orang yang tergabung dalam Solidaritas Kelompok Anti-Korupsi (SKAK) berunjuk rasa menolak revisi UU KPK. Dalam aksinya, mereka membawa keranda dan boneka pocong sebagai simbol pelemahan dan pembunuhan KPK.

Massa datang dari double way Universitas Jember (Unej) menuju bundaran depan DPRD di Jalan Kalimantan. Mereka juga membawa poster bertuliskan penolakan terhadap revisi UU KPK.

Kelompok itu terdiri atas anggota GMNI Jember, Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND), UKM dari Fakultas Hukum Unej, kelompok teater, lembaga pers mahasiswa serta sejumlah wartawan.

Ketika tiba di bundaran depan DPRD Jember, mereka melakukan orasi. Lalu mereka menaburkan bunga pada miniatur keranda mayat dan boneka pocong yang digendong salah satu peserta aksi.

Korlap aksi Trisna Dwi Yuniaresta menyebuyt, kehadiran revisi UU KPK adalah kematian awal dari KPK.

“Terlebih lagi hal ini terburu-buru dan tidak perlu masuk Prolegnas untuk nantinya menjadi undang-undang. Bahkan diperparah dari dukungan dari Presiden Jokowi,” kata Trisna Dwi Yuniaresta, Senin (16/9/2019).

Tambah Trisna, pasal-pasal dalam revisi undang-undang yang dibahas itu melemahkan kinerja KPK. “Seolah-olah KPK bukan menjadi lembaga independen lagi, dipaksakan masuk ke trias politika. Bahkan juga dipaksakan masuk ke lembaga eksekutif. Karena ada satu pasal yang menekankan hal itu.”

Menurutnya, hal tersebut yang membuat KPK tidak lagi independen. Apalagi dengan adanya dewan pengawas. Penyadapan harus izin dewan pengawas, penyelidik atau penyidik harus dari kepolisian dan kejaksaan, hal itu bagi mereka hal yang membuat resah.

Aksi ini diakhiri dengan berdoa. Selanjutnya memasang spanduk yang bertulisan ‘Solidaritas Koalisi Anti-Korupsi’ yang telah dibubuhi tanda tangan para peserta aksi.

Spanduk dipasang di pagar depan gedung DPRD Jember. Di depan spanduk yang terpasang, ada pulaminiatur keranda jenazah dan boneka pocong yang bertulisan ‘KPK’.

Continue Reading

Nasional

Iriana Jokowi Dorong Warga Kali Bahagia Menjaga Kebersihan

Published

on

Iriana Jokowi sambangi Kali Bahagia di Babelan, Kabupaten Bekasi, untuk kegiatan Gerakan Indonesia Bersih, Senin (16/9/2019).

Geosiar.com, Bekasi – Kedatangan Ibu Negara Iriana Joko Widodo (Jokowi) dalam kegiatan pencanangan Indonesia Bersih disambut baik masyarakat di Kali Pulo Timaha (Kali Bahagia), Babelan, Kabupaten Bekasi, Senin (16/9/2019).

Bersama Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE KK), Iriana datang untuk memantau perkembangan terbaru Kali Busa Bahagia yang sempat viral lantaran sampah-sampah plastik yang memenuhi kali mengakibatkan aliran air tidak terlihat lagi.

Dalam kesempatan itu, ia mendorong agar seluruh masyarakat turut mengambil bagian dalam menjaga dan memelihara kali Busa Bahagia yang telah dilakukan revitalisasi oleh Kemenko Kemaritiman dan Satgas Citarum Harum.

Sehingga, ia mengajak seluruh warga untuk memungut sampah yang ada di Kali Busa Bahagia.

“Kalau ada sampah ini dengan segera apapun jenisnya ambil saja agar tidak menumpuk,” tutur Iriana.

Menurut Iriana, dengan adanya sebuah kali semestinya mampu memberikan kebahagiaan kepada warga yang berada di sekitar aliran sungai. Namun, hal itu tidak terjadi di Kali Busa Bahagia.

“Namanya juga Kali Bahagia. Kalau kayak gitu jadi tidak jadi bahagia. Mulai sekarang kita ubah (gaya hidupnya), sederhana saja begitu,” jelasnya.

Di akhir sambutannya, Iriana pun berharap ketika dirinya kembali menyambangi Kali Busa Bahagia, maka kali itu sudah bisa memberikan kebahagiaan kepada warganya.

“Nanti saya lewat sudah harus bahagia ya,” pungkas ibu tiga anak itu.

Continue Reading

Nasional

Jansen Sitindaon: Selesaikan Konflik Tanah di Sigapiton, Hindari Kekerasan

Published

on

Medan, Geosiar.com – Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon mengaku prihatin melihat masyarakat di Sigapiton Kabupaten Tobasa, Sumut mendapat kekerasan dari aparat saat memperjuangkan tanah leluhurnya. Jansen pun mendesak pemerintah pusat melalui Kementerian Agrarian Badan Pertanahan Nasional segera menyelesaikan persoalan tanah leluhur warga Toba itu.

“Saya minta agar aparat kepolisian dan Satpol PP Kab Tobasa supaya menghindari kekerasan dalam persoalan tanah di Sigapiton. Perjuangan rakyat harus dihargai untuk memperjuangkan keadilan. Hindari kekerasan dan intimidasi penyelesaian konflik tanah leluhur di Sigapiton,” sebut Jansen Sitindaon (foto) dalam siaran persnya yang diterima Geosiar.com, Minggu (15/9/2019).

Ditambahkan Jansen, malam ini Ia telah membuat laporan resmi via twitter kepada Pak Jokowi, Badan Otorita Danau Toba, Pemkab Tobasa dan Pemprov Sumatera Utara. Dalam laporan nya, Jansen minta agar masalah tanah di Sigapiton, Sibisa dan Motung segera diambil solusi. “Perjuangan masyarakat memperjuangkan tanah leluhurnya patut dihargai, ” sebutnya.

Diakui Jansen, saat mendapat pengaduan warga dan melihat vidio aksi perjuangan warga mempertahankan tanah leluhurnya ketika hendak diserobot pemerintah cukup prihatin.

Bahkan saat melihat vidio dimana masyarakat sampai menyanyikan lagu gereja dan dalam Buku Ende dalam perjuangan, Jansen mengaku tertegun. “Mungkin mereka (warga) telah lelah dan putus asa pada Negara, sehingga sampai harus minta bantuan Tuhan untuk turun menyelesaikan konflik tanah mereka,” tambahnya.

Ditekankan Jansen, aparat harus menghindari kekerasan dan intimidasi dari pihak manapun yang membungkam warga. Karena menurutnya, persoalan tersebut hanya rakyat yang sedang memperjuangkan keadilan.

“Saya berharap semoga pemerintah pusat segera menemukan jalan penyelesaiannya. Kepada masyarakat di Sigapiton yang sedang memperjuangkan haknya, Saya mendoakan semoga amang inang semua yang ada disana sehat selalu, ” katanya.

Ditambahkan Jansen, setelah mengamati vidio perjuangan, betapa dalamnya ternyata arti lagu dari Buku Ende No. 24 yg mereka nyanyikan. Khususnya ayat 3, menyebut, “Sai ramoti be hami on sude, maradophon musunami. Asa unang mago hami sai ramoti be hami on sude, Artinya, Selalu berkatilah kami semua, berhadapan dengan musuh kami. Agar kami tidak hilang, berkatilah kami semua”.

Dalam persoalan tersebut, Jansen menyebut tidak perlu menyalahkan siapa. Namun yang penting masalah tanah di Sigapiton bisa segera diselesaikan. (lamru).

Continue Reading
Advertisement

BERITA NASIONAL

Advertisement

Trending

Alamat Redaksi : Jl. Mataram No. 21 Gedung Catolic Center Lt 2 Medan – Sumatera Utara, Telp. +626180514970 Email : geosiar.com@gmail.com Copyright © 2017-2018 Geosiar.Com