Connect with us

Nasional

KPK Panggil 2 Dirut PT Pupuk Indonesia sebagai Saksi Asty Winasti

Published

on

Penyidik didampingi Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan, menunjukkan barang bukti hasil operasi tangkap tangan (OTT) yang menjerat anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso, saat memberikan keterangan pers, di Gedung KPK Merah Putih, Jakarta, Kamis (28/3/2019).

Geosiar.com, Jakarta – Kasus dugaan suap terkait kerja sama penyewaan kapal antara PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) dan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) yang melibatkan Bowo Sidik Pangarso masih terus bergulir.

Kali ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memanggil tiga orang saksi, dua di antaranya Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), Aas Asikin Idat dan Direktur Pemasaran PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), Achmad Tosin untuk dimintai keterangan, Senin (6/5/2019), sementara satu saksi dari Komisaris PT Inersia Ampak Engineering bernama Sudiarma.

Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK, Yuyuk Andriati Iskak mengatakan bahwa kedua direktur tersebut akan diperiksa sebagai saksi tersangka Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Asty Winasti (AWI).

“Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka AWI (Asty Winasti, Marketing Manager PT HTK),” imbuh Yuyuk Andriati Iskak saat memberikan keterangan kepada media, Senin (6/5/2019).

Sebelumnya, KPK menduga bahwa Asty memberikan sejumlah uang suap ke Bowo melalui Indung yang disebut sebagai orang kepercayaan Bowo. Asty diduga telah memberi tujuh kali uang suap kepada Bowo senilai Rp 1,6 miliar dengan rincian, pemberian pertama hingga keenam senilai Rp 221 juta dan USD 85.130. Sementara pemberian ketujuh, saat operasi tangkap tangan (OTT), Bowo menerima Rp 89,4 juta.

Selain itu, Bowo juga menerima gratifikasi yang totalnya Rp 6,5 miliar. Hingga saat ini, KPK masih mendalami sumber pemberi gratifikasi tersebut.

Saat OTT, KPK menemukan uang tersebut sudah dimasukkan ke dalam 400.000 amplop senilai Rp 8 miliar. KPK menduga amplop itu akan digunakan Bowo untuk ‘serangan fajar’ pencalonan dirinya sebagai anggota legislatif DPR di Pemilu 2019.