Connect with us

Dunia

Bentrok di Sri Lanka Berakhir, WNI Dikabarkan Aman

Published

on

Ilustrasi Aparat Kepolisian Sri Lanka

Geosiar.com, Sri Lanka – Aparat kepolisian Sri Lanka meringkus dua orang yang dianggap penyulut kerusuhan di Kota Negombo. Kota itu adalah salah satu lokasi serangan rangkaian teror bom pada 21 April lalu.

Dikutip dari associated Press, Senin (6/5/2019), juru bicara kepolisian, Ruwan Gunasekara, mengungkan bahaa pemicu kericuhan itu diduga berawal dari mabuk-mabukan pada Minggu (5/5) malam waktu setempat. Dia menolak siapa saja pihak-pihak yang terlibat dalam kejadian itu, tetapi dilaporkan warga etnis Sinhala dan penduduk Muslim terlibat bentrok.

Sementara menurut juru bicara angkatan bersenjata Sri Lanka, Sumith Atapattu, sejumlah orang terluka dalam bentrokan di Negombo. Akan tetapi dirinya tidak memberi jumlah pastinya.

Pemerintah juga sempat memblokir akses media sosial dan menerapkan jam malam. Namun, kebijakan itu dicabut hari ini.

“Pemblokiran media sosial itu untuk mengendalikan keadaan,” ungkap Direktur Departemen Informasi Sri Lanka, Nalaka Kaluwewa.

Bentrokan antar-etnis tidaklah hal baru di Sri Lanka. Negara itu sempat diliputi perang saudara bertahun-tahun antara etnis Tamil dan pemerintah yang mayoritas Sinhala. Pertikaian itu berakhir pada 2009 silam.

Mayoritas warga Sri Lanka adalah etnis Sinhala yang memeluk Buddha. Namun, di Negombo kebanyakan warga Sinhala memeluk Katolik.

Gereja St. Sebastian di Negombo adalah salah satu target serangan teror bom pada 21 April lalu. Jumlah korban yang meninggal mencapai 253 orang dan melukai 500 orang.

Pejabat konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kolombo, Ullif Taftazani mengatakan warga Indonesia yang berada di Negombo tidak terdampak kerusuhan itu.