Connect with us

Sumut

Polisi Diminta Bertindak Tegas Soal Guru Aniaya Murid di Medan

Published

on

Ilustrasi

Medan, Geosiar.com –  Pada 3 Oktober 2018 silam, siswa SMA Shafiyyatul Amaliyah Medan, MHD (16), mengalami peristiwa tidak menyenangkan. Dua gurunya, CCS dan SY, menganiayanya karena dianggap terlambat masuk sekolah. Korban diketahui dipukul kakinya menggunakan gagang sapu ijuk beberapa kali, lalu dibenturkan ke dinding hingga dicekik  menggunakan dasi yang sedang dipakainya.

Atas perbuatan itu, keluarga MHD, Ditriana dan Arindo Ruslan mengadukan dugaan peniyaan anak dan tindakan diskriminatif anak ke Bareskrim Mabes Polri dengan nomor laporan STTL/1189/XI/2018/BARESKRIM tertanggal 9 November 2018 dan ke KPAI dengan tanda bukti lapor 675/KPAI/PGDN/XI/2018 tertanggal 15 November 2018. Piham keluarga juga telah melaporkan penganiyaan oleh guru ke Kemendikbud berdasarkan Surat Nomor B-01281/SAP-01/XI/2018 tertanggal 15 November.

Kuasa hukum korban MHD, Saiful Anam, memyampaika, kedua guru tersebut sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Pihak sekolah juga sudah memberhentikan kedua guru tersebut.

“Tapi hingga saat ini perkara tersebut belum jelas arahnya. Kita ingin kedua pelaku segera ditahan,” ujar Saiful Anam.

“Polisi harus segera menindak dengan tegas dugaan tidak pidana diskriminatif dan penganiyaan terhadap anak sesuai dengan Undang-undang (UU) Perlindungan Anak. Apalagi kasus tersebut sudah mendapatkan perhatian khsus dari Komisi Perlindungan Anak (KPAI) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kemendikbud,” sambung Saiful Anam, Kamis (2/5/2019).

Anam menilai, kasus dugaan penganiyaan dan diskriminasi anak yang dialami MHD itu hingga kini belum mendapat keadilan karena elaku hingga kini masih bebas berkeliaran. “Kita ingin pelaku segera ditahan dan segera diproses hukum. Kasus ini sudah lama. Kenapa lambat sekali penangananya,” ungkap Anam.