Connect with us

Korupsi

KPK Tetapkan Status Tersangka Bupati Talaud Hingga Sebut Proyek Rp 6 M

Published

on

Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip saat tiba di gedung KPK, Selasa (30/4/2019) malam

Geosiar.com, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan status Bupati Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip sebagai tersangka kasus dugaan suap revitalisasi pasar Lirung dan Pasar Beo, Selasa (30/4/2019) malam.

Kabiro Humas KPK Febri Diansyah mengatakan bahwa dari hasil penyidikan lanjutan, KPK menduga Sri meminta fee10 persen dari proyek revitalisasi pasar yang bernilai sekitar Rp 6 miliar.

“Nilainya (proyek) sekitar Rp 5-6 miliar,” tutur Febri Diansyah kepada awak media, Selasa (30/4/2019) malam.

 Basaria Pandjaitan selaku Wakil Ketua KPK menyebut, proyek bernilai Rp 6 miliar itu terbagi menjadi tujuh paket proyek. Akan tetapi, baru dua proyek yang telah direalisasikan.

“Sebenarnya ada tujuh paket. Tapi dari hasil pemeriksaan sementara tadi, dipastikan dulu yang sudah pasti didapat itu Pasar Lirung dan Beo ini. Nilai pasnya nanti kita cek lagi. Kalau tidak salah yang tadi Rp 2,5 miliar dengan Rp 4 miliar,” papar Basaria Pandjaitan kepada awak media.

Sementara ini, KPK telah menetapkan tiga tersangka, yakni Bupati Talaud Sri Wahyumi,  orang kepercayaan Sri, Benhur Lalenoh, dan pengusaha Bernard Hanafi Kalalo.

Paket proyek tersebut diberikan kepada BHK (Bernhard Hanafi Kalalo) oleh BNL (Benhur Lalenoh). Masing-masing proyek bernilai Rp 2,5 miliar dengan Rp 4 miliar.

Sementara, total dugaan suap yang diterima Sri berjumlah Rp 513 juta yang terdiri atas uang tunai sebesar Rp 50 juta dan barang mewah seperti tas tangan Chanel senilai Rp 97.360.000; tas Balenciaga senilai Rp 32.995.000; jam tangan Rolex senilai Rp 224.500.000; anting berlian Adelle Rp 32.075.000; cincin berlian Adelle Rp 76.925.000.

Namun, kepada awak media Sri mengatakan bahwa dirinya tidak pernah menerima sejumlah hadiah yang telah disebutkan.

“Ketika saya dibawa ke sini, saya tidak menerima [hadiah]. Saya dituduh menerima, katanya hadiah. Sampai sekarang, hadiah itu tidak ada sama saya,” imbuh Sri saat keluar dari Gedung KPK, Jakarta, Rabu (1/5/2019) dini hari.