Connect with us

pemilu 2019

BPN Ngotot Bentuk TPF, TKN: Terima Kekalahan, Belajar dari Anak SMA

Published

on

Jubir Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga Konferensi pers di Posko Cemara.

Geosiar.com, Jakarta – Tim Kemenangan Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin merespos soal usulan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengenai pembentukan Tim Pencari Fakta (TPF) untuk mengusut dugaan kecurangan dalam rekapitulasi suara Pemilu 2019. Selain itu, TKN juga merespons permintaan BPN kepada KPU untuk menunda pengumuman resmi pada 22 Mei mendatang.

Jubir TKN, Arya Sinulingga menegaskan ketidaksetujuan pihaknya atas permintaan tak berdasar BPN. Arya beranggapan tidak ada alasan untuk membentuk tim pencari fakta (TPF) tersebut. Menurutnya, BPN tidak dapat menerima kekalahan yang merujuk kepada hasil penghitungan suara pemilu yang dilakukan lembaga survei atau KPU sekalipun. Ia menyindir agar BPN dapat belajar dari anak SMA dalam menerima kekalahan.

“Sudahlah, terimalah kekalahan, belajarlah sama anak-anak SMA, yang belajar organisasi OSIS, kalah di pemilihan Ketua OSIS mereka mundur dengan baik-baik, bukan dengan ribut-ribut, bikin bohong,” sindir Arya Sinulingga, Jumat (26/4/2019) malam.

Ketua DPP Perindo itu mengaku bingung dengan dugaan kecurangan pemilu yang kerap dilontarkan kubu 02. Sebelumnya, BPN menyebut jika kecurangan pemilu sangat terstruktur, sistematis, dan masif (TSM).

“Kita mulai dari masif. Apakah masif pelanggarannya. Yang mereka bicarakan adalah input data, input data itu 105 doang yang dapat (kecurangan), itupun sebagian besar yang dapat temuan itu ditemukan oleh KPU sendiri,” jelas Arya.

“Sementara data TPS yang sudah masuk sekitar 40 persen, 300 ribuan, dan yang bermasalah hanya 105, berapa persen gitu, apakah itu masif?. Kalau sudah masih, tentu saja sistematis, gitu?” sindirnya.

Selanjutnya, politikus asal Sumatera Utara itu menanyakan kecurangan tipe pertama, yakni terstruktur. “Terstruktur, artinya secara organisasi, dari atas sampai bawah sudah mengatur, gitu loh, kan enggak ada. Mengada-ada mereka,” tandas Arya.

Lebih lanjut, dia menanggapi soal permintaan langsung BPN kepada KPU untuk menunda pengumuman resmi dalam menentukan pemenang Pilpres 2019 pada 22 Mei mendatang. Dia menyebut permintaan tersebut tidak berdasar dan berpendapat bahwa kubu 02 hanya takut dinyatakan kalah.

“Dasarnya apa? Mereka takut kan, apa dasarnya gitu. Ini ketakutan mereka terbuka datanya semuanya gitu. Bawa saja datanya, mereka punya. Kan sudah punya C1, bawa aja C1-nya kan bisa diperiksa satu per satu itu kalau memang beda,” tantang Arya.

Seperti diketahui sebelumnya, permintaan BPN untuk pembentukan TPF kecurangan dan penundaan pengumuman resmi Pilpres 2019 telah disampaikan oleh Direktur Materi dan Debat BPN Sudirman Said di Media Centre Prabowo-Sandi, Jumat (26/4/2019) lalu. Dalam permintaannya, Said menyampaikan bahwa pihak civil society dan pihak independen yang mengusulkan pembentukan TPF kecurangan tersebut.

Dipihak lain, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman menegaskan bahwa sejauh ini TPF pemilu belum diperlukan. Selain itu, Arief mengatakan sejauh ini isu soal kecurangan pemilu masih bersifat sangkaan saja.