Connect with us

Dunia

Pro-Kontra Legalisasi Aborsi di Korea Selatan

Published

on

Para pengunjuk rasa hukum anti-aborsi menuntut penghapusan undang-undang aborsi di depan pengadilan konstitusi di Seoul, Korea Selatan, Kamis (11/4/2019)

Geosiar.com, Korea Selatan – Keputusan Mahkamah Konstitusi Korea Selatan (Korsel) terkait legalisasi aborsi dalam sidang amandemen undang-undang, Kamis (11/4/2019) menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat Korsel.

Mahkamah Konstitusi mengatakan, undang-undang yang memidana pihak yang melakukan aborsi tidak sesuai dengan hak konstitusi, dan MK menyarankan agar UU tersebut segera diamandemen.

Keputusan tersebut dianggap bersejarah lantaran menumbangkan undang-undang Kesehatan Ibu dan Anak pada 1953 tentang pengguguran kandungan yang dinyatakan melawan hukum. Keputusan ini akan dibawa ke Majelis Nasional dan harus diputuskan sebelum akhir tahun 2020.

Dilansir dari BBC News, ratusan demonstran berkumpul di depan gedung MK saat sidang berlangsung. Demonstran terbagi menjadi dua kubu, yakni mereka yang menuntut agar larangan aborsi diakhiri (pro-legalisasi aborsi), dan lainnya ingin aturan tersebut tetap ada (kontra-legalisasi aborsi).

Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan New York Times terhadap 10.000 perempuan berusia 15 hingga 44 tahun pada 2018, menyebut sepertiganya menuntut adanya liberalisasi aturan aborsi.

Banyak aktivis hak perempuan yang menyuarakan agar ada amandemen undang-undang pelarangan aborsi. Para aktivis menyambut putusan pengadilan itu dengan sukacita, meskipun undang-undang tersebut jarang ditegakkan dalam beberapa tahun terakhir.

Sebenarnya, di Korea Selatan ada pengecualian perizinan aborsi dalam 24 pekan sejak kehamilan karena alasan kesehatan, seperti penyakit keturunan atau kehamilan yang membahayakan bagi kesehatan ibu dan kehamilan akibat perkosaan.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan dari pihak pemerintah mengenai keputusan MK tersebut. Namun, Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga terlihat lebih mengharapkan agar undang-undang anti aborsi segera dihapus. Sedangkan Kementerian Hukum membela larangan aborsi.

Dunia

Presiden Sirisena: Mafia Narkoba Dalangi Bom Sri Lanka

Published

on

Presiden Sri Lanka, Maithripala Sirisena. (Foto: Reuters)

Geosiar.com, Sri Lanka – Presiden Sri Lanka, Maithripala Sirisena, mengatakan mafia narkoba internasional merupakan dalang di balik teror bom paskah Sri Lanka yang terjadi pada 21 April lalu.

“Bandar narkoba yang melakukan serangan ini untuk berusaha menyudutkan saya dan melemahkan perang narkoba yang saya lakukan. Saya tidak akan gentar,” tutur Sirisena, seperti dilansir dari AFP, Selasa (16/7/2019).

Pernyataan itu sontak menjadi kontroversial. Pasalnya Klaim itu bertentangan dengan pernyataan Sirisena beberapa saat setelah serangan terjadi yang menuding bahwa dalang aksi teror itu berasal dari kelompok radikal setempat, Jemaah Tauhid Nasional (NTJ).

Sementara itu, kubu Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe, menentang pernyataan Sirisena. Sebab, hingga saat ini, aparat masih tetap mengacu kepada hasil penyidikan yang menyebut serangan bom bunuh diri itu didalangi kelompok radikal setempat.

“Polisi akan menyelesaikan penyidikan dalam dua pekan ke depan. Tidak ada dugaan keterlibatan sindikat narkoba dalam kejadian ini. Kami tidak punya alasan meragukan para penyidik,” tutur juru bicara PM Wickremesinghe, Sudarshana Gunawardana.

Serangan teror ini merenggut sekitar 258 jiwa dan melukai sekitar 500 orang. Adapun korban terdiri dari 45 negara berbeda.

Continue Reading

Dunia

Trump Lontarkan Komentar Rasis Terhadap 4 Anggota Kongres

Published

on

Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Geosiar.com, Washington DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dituduh melontarkan kalimat bernada rasis terhadap empat perempuan yang merupakan anggota Kongres dari Partai Demokrat. Kalimat rasis itu disampaikannya melalui akun Twitter pribadinya.

Perseteruan ini berawal saat ketua DPR, Nancy Pelosi bersitegang dengan sekelompok orang yang terdiri dari empat anggota kongres dari Partai Demokrat non-kulit putih dan pendukung sayap kiri.

Keempat anggota kongres itu adalah Alexandra Ocasio-Cortez, Rashida Tlaib dan Ayanna Pressley yang lahir dan besar di Amerika Serikat. Sedangkan seorang lainnya, Ilhan Omar, pindah ke Amerika Serikat ketika masih kecil.

Dalam cuitannya, Trump menuduh keempat anggota kongres perempuan itu “kejam” karena berani mengkritiknya dan Amerika Serikat. Kemudian, ia menyebut bahwa mereka berasal dari negara-negara yang pemerintahannya adalah benar-benar “malapetaka”.

Selanjutnya, dia menyarankan agar mereka segera “kembali” ke negara asal. Dia pun mengatakan bahwa Nancy Pelosi, “akan sangat senang untuk segera mengatur perjalanan gratis” bagi mereka.

Komentar itu pun tertulis dalam bentuk Thread. Berikut terjemahan dari cuitan Trump:

“Sangat menarik melihat anggota kongres perempuan Demokrat yang ‘progresif’, yang berasal dari negara-negara yang pemerintahannya adalah benar-benar malapetaka, yang terburuk, paling korup dan tidak kompeten di dunia (kalaupun mereka memiliki pemerintahan yang benar-benar berfungsi), sekarang dengan lantang dan kejam memberi tahu orang-orang Amerika Serikat, bangsa terbesar dan paling kuat di dunia, bagaimana pemerintah kita harus dijalankan.”

“Mengapa mereka tidak kembali dan membantu memperbaiki tempat-tempat yang benar-benar rusak dan penuh dengan kejahatan dari mana mereka datang. Lalu kembali dan tunjukkan kepada kami bagaimana hal itu dilakukan.

“Tempat-tempat ini sangat membutuhkan bantuanmu, kamu tidak bisa pergi dengan cukup cepat. Aku yakin Nancy Pelosi akan sangat senang untuk segera mengatur perjalanan gratis!”

Dalam cuitan itu, memang Trump tidak secara gamblang mengungkap siapa anggota kongres yang sedang ia sindir. Namun, merujuk pada Pelosi, anggota kongres itu adalah Ocasio-Cortez, Tlaib, Pressley dan Omar. Sebab. Selama sepekan terakhir, Pelosi tengah berselisih dengan Ocasio-Cortez, karena telah menuduhnya memilih perempuan kulit berwarna untuk dikritik menyusul ketidaksepakatan di dalam tubuh Demokrat mengenai RUU keamanan perbatasan.

Continue Reading

Dunia

WNI Bersama Pria India Ditemukan Tewas Tak Wajar di Malaysia

Published

on

Ilustrasi

Geosiar.com, Jakarta – Polisi melaporkan penemuan mayat perempuan, yakni warga negara Indonesia (WNI) bernama Linda bersama dengan mayat seorang pria India di kawasan Banting, Selangor, Malaysia. Keduanya ditemukan meninggal secara tak wajar pada (8/7/2019) lalu.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menuturkan, terdapat luka sayat dibagian leher pada mayat Linda.

“Berdasarkan hasil post-mortem Hospital Banting pada 9 Juli 2019, diyakini penyebab kematian adalah luka sayat pada leher itu,” ungkap Dedi dalam keterangan tertulis, Jumat (12/7/2019).

Sementara mayat pria, ditemukan tergantung. Ia diduga meninggal karena bunuh diri melalui gantung diri, sebab tidak ada luka serius pada tubuh pria tersebut.

Dedi menambahkan, pihaknya tengah melakukan penyidikan temuan tersebut. Satuan Tugas Perlindungan Perwakilan Terpadu Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur disebutkannya telah berkoordinasi dengan penyidik Kepolisian di Kuala Langat yang membawahi Balai Polisi Banting.

“Saat ini polisi juga menunggu hasil laboratorium dari Jabatan Kimia Malaysia,” ujar Dedi.

Ia mengatakan, penyidik kepolisian Malaysia sejauh ini cuma mampu menggali keterangan dari majikan Linda. Sedang alat bukti tertulis dan dokumen yang dapat memberi konfirmasi identitas Linda belum didapatkan.

“Segera setelah memperoleh perkembangan penyidikan, pihak IPD Kuala Langat (Malaysia) akan menginformasikan kepada Satgas PPT KBRI KL,” ujar Dedi.

Continue Reading
Advertisement

BERITA NASIONAL

Advertisement

Trending

Alamat Redaksi : Jl. Mataram No. 21 Gedung Catolic Center Lt 2 Medan – Sumatera Utara, Telp. +626180514970 Email : geosiar.com@gmail.com Copyright © 2017-2018 Geosiar.Com