Connect with us

Nasional

Komnas Sebut Literasi Digital dan Sosial Perempuan Harus Ditingkatkan

Published

on

Komnas Perempuan

Geosiar.com, Jakarta – Literasi digital dan sosial perempuan, dikatakan Komisioner Komnas Perempuan Siti Khariroh, harus terus ditingkatkan. Tujuannya adalah agar tak mudah direkrut kelompok radikal teroris untuk dijadikan pelaku kekerasan penyebar propaganda mereka.

“Literasi digital jadi sangat penting karena apa yang dikonsumsi di internet tidak semua benar. Ada informasi yang menyesatkan, termasuk taktik rekrutmen kelompok radikal di internet, memang menyasar perempuan,” kata Siti Khariroh di Jakarta, Jumat (25/3/2019).

Pada 10 tahun terakhir, sambung Siti Khariroh, peran perempuan dalam jaringan terorisme mengalami pergeseran.

“Dulu jihadnya di rumah mengabdi pada suami, mendidik anak, yang disebut jihad shagir atau jihad kecil, tetapi kemudian ada panggilan bahwa perempuan itu bisa melakukan jihad khabir dengan berada di baris terdepan menjadi pengantin bom,” ujar Siti Khariroh.

Dia mengatakan, kasus bom bunuh diri Surabaya, bom Sibolga, bom panci Bekasi, rencana penyerangan Mako Brimob, dan terakhir penangkapan perempuan terduga teroris di Klaten menjadi bukti bahwa kaum perempuan telah aktif dalam gerakan kelompok radikal.

“Terlalu mudahnya perempuan termakan propaganda kelompok radikal karena memang propaganda mereka di media sosial (medsos) sangat canggih. Kondisi itu ditambah para perempuan pengguna internet literasinya sangat kurang. Banyak perempuan kemudian terpapar di media sosial, tertipu dengan janji dan propaganda ISIS. Dia yang aktif mencari informasi di internet, padahal dia sebenarnya teperdaya propaganda ISIS,” ungkap Siti Khariroh.

Siti Khariroh juga membenarkan banyak kaum perempuan yang terlibat kasus penyebaran hoax dan ujaran kebencian menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Ia berpendapat, para perempuan itu sebenarnya tidak mengerti dunia politik. Tapi, mereka terus dicekoki dengan informasi hoax, seperti pemerintah akan melegalisasi zina, perkawinan sejenis, dan lain-lain yang sangat sensitif di masyarakat.

“Untuk kami, itu bagian dari kekerasan berbasis gender, memakai perempuan dengan informasi palsu, kemudian mereka diminta untuk menyampaikan. Mereka tahu perempuan bisa memengaruhi tetangga hanya dengan sekadar ngobrol,” jelas Siti Khariroh.