Connect with us

Sumut

Berpotensi Merusak Citra Universitas Sumatera Utara, Rektor USU Runtung Sitepu: UKM Suara USU Akan Dibubarkan!

Published

on

Ilustrasi logo LGBT

Geosiar.com, Medan – Pengunggahan cerpen (cerita pendek) bertemakan LGBT di website UKM Suara USU (suarausu.co) dan media sosial (instagram) berujung pada ancaman pembubaran oleh Rektor USU, Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH. M.Hum.

Unggahan cerpen oleh penulis, Yael Stefani yang juga menjabat sebagai Pimpinan Umum Suara USU, menimbulkan kontra terhadap pembacanya. Hal ini dikarenakan cerpen tersebut memuat konten penolakan diskriminasi terhadap LGBT sehingga penulis dianggap Pro LGBT.

Yael membenarkan adanya kontra yang ditimbulkan akibat pengunggahan cerpennya itu pada Kamis (21/3). Dia menjelaskan kurang dari sehari diunggah, cerpen yang ditulisnya sudah memperoleh komentar negatif yang menganggap dirinya dan Suara USU Pro LGBT.

“Nggak lebih sehari (diunggah) ribut. Suara USU dianggap pro LGBT karena di ilustrasi cerpen ada lambang pelangi. Jadi langsung di-judge,” ujarnya.

Akibat banyak menuai kritikan publik, pihak rektorat USU memerintahkan agar mengadakan pertemuan kepada penulis dan pengurus Suara USU dalam rangka mencari solusi permasalahan yang terjadi. Hasil dari pertemuan itu tidak disangka oleh Yael akan menjadi ujung tombak pada kegiatan UKM Suara USU.

“Jadi mereka (pihak rektorat) bilang harus dihapus (cerpen) karena sudah tersebar luas. Bahkan orang rektorat, rektor, dan wakil rektor I sudah tau. Tapi kami nggak mau, kami cuma mengarsipkan dari medsos (instagram). Tapi website nggak (kami) tarik,” jelasnya.

Setelah pertemuan itu, website suarausu.co tidak dapat diakses dan mengalami penangguhan hingga saat ini. Selain itu, legalitas Suara USU juga akan ditarik oleh rektorat.

Kabar ini dibenarkan oleh Rektor USU, Runtung Sitepu. Dalam wawancara melalui sambungan telepon, Ia mengatakan kalau cerpen yang diunggah berlawanan dengen visi dan misi USU dan Ia berniat untuk membubarkan UKM tersebut.

“Rencananya, Senin saya akan mengundang semua pengurus, penanggung jawab, dan termasuk pembina Suara USU, kenapa dibiarkan yang seperti ini? Ini sudah merusak citra USU,” tegas Runtung.
Lanjutnya, “UKM Suara USU akan dihapuskan kalau sudah begitu. Itu belum diterbitkan karena (saya) masih di Jakarta.”

Diungkapkan Runtung, Ia hanya ingin citra USU di mata publik tidak tercemar oleh karena sebagian pihak. Selanjutnya, Ia juga mengatakan bahwa kejadian yang mengaitkan Suara USU ini tidak terjadi hanya sekali ini saja.

“Ini bukan sekali saja, lima tahun lalu sudah kami alami tapi bukan ke arah ini (LGBT).” tutupnya.

Cerpen kontroversial dikalangan USU itu berjudul “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya.” Kasus ini juga mendapat perhatian dari para sastrawan dan jurnalis. Ringkasan cerpennya bercerita tentang seorang perempuan yang juga menyimpan perasaan kepada perempuan lainnya (lesbian) tetapi mengalami deskriminasi dari orang sekitarnya. (YRS)