Connect with us

Daerah

Hari Jadi Tanah Karo Ke-73 Tidak Tepat Sasaran

Published

on

Perayaan hari jadi Tanah Karo yang ke-73

Geosiar.com, Kabanjahe – Perayaan hari  jadi Tanah Karo yang ke-73 yang diketahui menghabiskan anggaran sebesar Rp 386.000.000 yang disedot dari Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD) 2019 sangat dipaksakan, asal jadi dan tak sesuai harapan.

Acara tahun ini dengan tahun lalu dianggap tidak jauh berbeda. Masih terlihat sangat monoton dan membosankan.

Salah satu orang muda milenial yang juga penggiat music, Elias Pranata Purba mengaku sangat kecewa dengan acara hari jadi Tanah Karo tahun ini, karena minimnya persiapan dan tidak terkonsep dengan baik.

Elias mengatakan, dihari jadi Tanah Karo kali ini pemerintah hanya mengedepankan kuliner saja. Padahal di tanah Karo mempunyai banyak seni-budaya, ada alat musik kulcapi, tarian, fashion, keterampilan yang menyangkut kekini karoan, ertutur aksara karo dan masih banyak lagi.

“Kita mempunyai bahasa ibu, masak mc tidak bisa berdialog dua arah dengan audens . Kita Semua tahu ini hari jadi Kabupaten Karo, kenapa yang digunakan GeLora Fajar Purba bahasa Toba, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, disini jelas sekali bahasa ibu bahasa khas Karo dihilangkan. Bahasa kita bahasa Karo karena ini hari jadi kabupaten Karo,” jelas Elias Pranata Purba .

Elias berharap agar di hari jadi Tanah Karo kedepannya dikemas lebih baik lagi. Manfaatkan orang muda di Tanah Karo yang berpotensi, ”Banyak sanggar seni dan tari di Tanah Karo, tidak seharusnya marcing band yang ditonjolkan karena bukan pada tempatnya, ada kok event hari kemerdekaan untuk moment  itu.”

“Saya tidak mencari kesalahan pemkab dalam acara tersebut , karena saat orang yang benar ditempat ditempat yang tidak benar maka hasilnya tetap tidak benar,” Elias menambahkan.

Elias kecewa karena acara ini hanya melibatkan Event Organizer (EO) yang hanya berkompeten dibagian teknis sound, panggung dan stan.  “Jika memang EO dirangkul, berikan keleluasaan dalam berperan  jangan hanya seolah formalitas.”

“Jika memang dibutuh kan EO berikan mereka kewenangan sepenuhnya, agar EO dapat bekerja maksimal  tanpa ada tekanan, yang dalam bahasa karonya ‘Pulahi Tempa iketna, iketna Tempa Tapi Pulahi na,” tegas Elias.

Ditempat yang sama, awak media menghampiri ketua DPD Pemuda Merga Silima Kabupaten Karo, Beres brahmana yang mengatakan acara hari jadi Tanah Karo memang membutuhkan EO agar lebih terarah. Ketua Umum Pemuda Merga Silima Mbelin brahmana juga mengaku siap mengaspirasi hari jadi Kabupaten Karo di tahun yang akan datang. /Mawar

Daerah

Bukan 3, Tapi 4 Polisi Terbakar Saat Kawal Demo Mahasiswa

Published

on

Polisi terbakar hidup-hidup saat kawal demonstrasi mahasiswa di Cianjur, Jawa Barat, Kamis (15/8/2019). (Foto: YouTube/po han)

Geosiar.com, Cianjur – Sejumlah anggota polisi terbakar ketika mengamankan aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Pendopo Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (15/8/2019).

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko, mengklarifikasi jumlah anggota Polres Cianjur yang terbakar jadi empat orang dari sebelumnya dilaporkan sebanyak tiga orang.

“Setelah dicek ada empat anggota yang terluka. Semua karena luka bakar,” kata Trunoyudo Wisnu Andiko lewat pesan singkat, Jumat (16/8/2019).

Adapun keempat anggota polisi tersebut yakni Aiptu Erwin Yudha, Bripda Yudi Muslim, Bripda FA Simbolon, dan Bripda Anif.

Trunoyudo menyebut, keempat polisi itu sempat dirawat di RSUD Cianjur. Namun Aiptu Erwin menderita luka bakar cukup parah, sehingga dirujuk ke Rumah Sakit Kramat Jati Polri.

“Untuk Bripda Yudi Muslim dan Bripda FA Simbolon ke RS Hasan Sadikin Bandung dan Bripda Anif ke RS Polri Sartika Asih. Sementara itu, kondisi Aiptu Erwin Yudha hingga kini masih kritis.” jelas mantan Kapolres Purwakarta itu.

Insiden ini berawal saat seorang peserta aksi membawa ban bekas yang hendak dibakar di tengah aksi, tapi rencana itu berhasil digagalkan anggota kepolisian yang melakukan pengawalan.

Kemudian, para demonstran kembali meluapkan aksinya dengan membakar kardus bekas air mineral. Beberapa personel kepolisian berusaha untuk memadamkan api, namun tiba-tiba dari arah kerumunan massa ada yang melempar sebuah botol air minum yang diduga berisi bensin. Akibatnya, api langsung menyambar petugas.

Trunoyudo mengatakan, bahan bakar itu mengenai tubuh Aiptu Erwin. Dua anggota kepolisian yang mencoba memadamkan api tersebut juga sempat terbakar, Bripda Yudi Muslim dan Bripda F.A. Simbolon.

“Keduanya menjadi korban luka bakar karena ketika ingin menyelamatkan rekannya tersebut, keduanya turut serta jadi korban luka bakar,” pungkas Trunoyudo.

Continue Reading

Daerah

Warga Karo Tetap Berharap Tol Medan-Tanah Karo Terealisasi, Hasil Pertanian Busuk Terlambat Sampai Tujuan

Published

on

Medan, Geosiar.com – Masyarakat Karo melalui Ketua Umum DPP Barisan Pemuda Karo Jesayas Tarigan minta Presiden RI Joko Widodo dan Wakilnya H Maaruf Amin agar dapat meninjau kembali keputusan pembatalan pembangunan jalan Tol layang Medan-Berastagi. Pembatalan tersebut sangat disayangkan mengingat kebutuhan jalan layang yang mendesak guna kelancaran perekonomian mengangkut hasil pertanian dari Berastagi.

“Kita sangat menyayangkan pembatalan itu, Kami tetap berharap pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR dapat merealisasikan pembangunan kembali,” ujar Jesayas kepada Geosiar.com di Medan, Kamis (15/8/2019).

Dikatakan Jesayas, pembangunan Jalan layang Medan-Berastagi murni untuk kepentingan umum. Dimana akses jalan Medan-Berastagi dan sebaliknya menjadi lancar. Apalagi, untuk mengangkut hasil pertanian dari Berastagi serta peningkatan tujuan wisata.

Memang kata Jesayas, usulan pembangunan jalan layang, sebelumnya telah disampaikan lintas organisasi Karo bersama masyarakat Karo serta pengguna jalan.

Sebagaimana diketahui, kondisi jalan sekarang sangat tidak memungkinkan karena sempit. Sehingga tidak dapat menampung volume kendaraan yang cukup padat. Tak heran, setiap akhir pekan, kawasan tersebut langganan macet.

Bukan itu saja, tambah Jesayas, sepanjang jalan mulai dari Sembahe hingga Berastagi kerap terjadi longsor dan pohon tumbang. Kondisi demikian mengakibatkan macet berkepanjangan.

Dampaknya sangat fatal yakni hasil panen buah dan sayur dari Berastagi menuju beberapa kota lainnya tertahan dan menjadi busuk. Hal demikian dikeluhkan para petani yang berdampak kerugian besar karena buah dan sayur busuk terlambat sampai ke tujuan.

Dikatakan Jesayas, atas dasar itu masyarakat lintas Karo akan tetap menyampaikan usulan pembangunan jalan Tol Medan-Berastagi. Kiranya Presiden dan pemangku jabatan di negeri ini berkenen memprioritaskan pembangunan jalan layang tersebut.

Seiring dengan itu, masyarakat Karo siap memberikan kajian dan proposal analisa perhitungan anggaran. Warga sangat berharap diperkenankan bertemu dengan Presiden untuk memaparkan hal tersebut demi kemajuan Kabupaten Tanah Karo.

Tokoh pemuda Karo ini pun sangat berkeyakinan, Presiden akan membuka hati dan mengharap sentuhan tangan memberikan perhatian khusus terhadap pembangunan di Tanah Karo. Harapan itu sangat mendasar mengingat pada Pilpres April lalu, sekitar 275 ribu jumpalh penduduk masyarakat Karo, terbukti 93 persen memilih Joko Widodo – H Maaruf Amin.

Pada kesempatan ini, Jesayas juga berharap agar Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi dan Wakil Gubernur H. Musa Rajeksayah anggota DPRD Sumut, Bupati Tanah Karo, anggota DPRD Tanah Karo tetap berupaya untuk mewujudkan pembangunan tersebut.

Begitu juga bantuan dan dukungan Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, DPR RI, DPDI Sumut serta seluruh pejabat asal Sumatera Utara diharapkan berpartisipasi mendukung pembangunan jalan layang Medan-Berastagi segera terealisasi. (lamru)

Continue Reading

Daerah

Petani di Kapuas Hulu Diringkus Terkait Kebakaran Hutan

Published

on

Ilustrasi

Geosiar.com, Kalbar – Seorang petani di Desa Pulau Nanak Kecamatan Embaloh Hulu, wilayah Kapuas Hulu Kalimantan Barat berinisial PU (31) diringkus jajaran Polres Kapuas Hulu, terkait kasus kebakaran hutan dan lahan di daerah itu.

“Pelaku membakar lahan dan api membesar menghanguskan juga lahan yang orang lain di Dusun Talas, Desa Pulau Manak, Kecamatan Embaloh Hulu,” ujar Kasatreskrim Polres Kapuas Hulu, Iptu Siko, di Putussibau, Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat, Minggu (11/8/2019), seperti dilansir dari Antara.

Siko menyampaikan, lahan yang dilalap api itu ada sekitar dua hektar. Termasuk juga lahan milik orang lain. Api dengan cepat membesar, walaupun pun berhasil dipadamkan, akan tetapi api hidup kembali sehingga menghanguskan lahan lainnya.

Menurutnya saat ini pelaku diproses hukum dengan barang bukti tiga potongan kayu sisa pembakaran lahan yang dilakukan tersangka.

Siko menegaskan, tersangka melanggar undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yaitu pasal 108 Jo pasal 69 ayat 1 (satu) dengan ancaman kurungan penjara paling singkat tiga tahun penjara, paling lama 10 tahun penjara dengan denda paling sedikit Rp 3 miliar dan paling banyak mencapai Rp 10 miliar.

“Jadi untuk tersangka kami proses hukum sesuai aturan yang berlaku, karena itu termasuk pidana di bidang Karhutla,” tutup Siko.

Continue Reading
Advertisement

BERITA NASIONAL

Advertisement

Trending

Alamat Redaksi : Jl. Mataram No. 21 Gedung Catolic Center Lt 2 Medan – Sumatera Utara, Telp. +626180514970 Email : geosiar.com@gmail.com Copyright © 2017-2018 Geosiar.Com