Connect with us

Hukum

Diduga Jalur Pertibi Tembe Digunakan Khusus Keluarkan Pinus Dengan Tujuan Lain

Published

on

Geosiar – Tanahkaro – Jalan dari lokasi kawasan siosar menuju desa pertibi tembe yang dahulunya dibuka dan dibuat oleh PT. Dewantara Radja Mandiri (DRM) kini digunakan PT. Siparanak Gabe Maduma (SGM) untuk mengeluarkan kayu pinus dari lokasi pemotongan bersama perusahaan tumpangan (Sub) sebagai Pelaksana Program percepatan Pengadaan Lahan Relokasi Mandiri tahap III di kawasan Area Penggunaan Lain (APL) Siosar Kecamatan Merek, Kabupaten Karo Provinsi Sumatra Utara (Sumut) terindikasi sebagai jalur pengangkutan Kayu Pinus untuk bertujuan lain.

Amatan Tim – media saat dilapangan melihat adanya pihak pihak lain dan tidak memiliki kompetensi didalam program percepatan relokasi mandiri tahap III yang mencoba dan berupaya mengelabui dengan modus memakai jalur lain (pertibi tembe) sebagai jalan untuk mengangkut dan mengeluarkan kayu pinus.

PT. SGM bersama Sub Perusahaan mempergunakan jalan menuju Pertibi tembe untuk mengangkut dan mengeluarkan kayu pinus diduga kuat sebagai upaya Penyeludupan kayu pinus dengan tujuan tidak memasuki Tempat Penumpukan Kayu (TPK) yang sudah ditentukan, dan berdasarkan informasi seharusnya seluruh kayu pinus diangkut dan dikeluarkan melalui jalan menuju desa Nagara tempat berdirinya TPK yang juga berbatasan langsung dengan titik lokasi penebangan.

Jalan menuju desa Pertibi tembe menjadi akses yang diprioritaskan oleh pihak pihak pengangkutan untuk mengeluarkan Kayu pinus dari lokasi penebangan, dan jalur pertibi tembe diduga secara khusus dipergunakan mengeluarkan kayu pinus dengan tujuan lain, dan besar kemungkinan untuk menghindari pengawasan dari pihak pihak terkait, maka dari itulah dan berdasarkan adanya permintaan kepada pihak PT. DRM untuk menutup lokasi dengan pemasangan Portal agar Dumptruck yang mengangkut kayu pinus gelondongan (diduga curian) tidak bisa keluar melalui jalan yang dahulu dibuat PT. DRM.

Selanjutnya, supir Dumptruck yang merasa terganggu karena adanya Pemasangan Portal dengan posisi digembok menggunakan rantai besi, ditambah lagi adanya kehadiran beberapa orang Tim wartawan yang melakukan peliputan, kamis (7/03/2019) sekira pukul 14.00 Wib, supir tersebut langsung turun dari trucknya tanpa basa basi menghardik wartawan “Siapa yang menutup jalan ini..siapa.. biar tau aku, ujarnya sembari menghubungi bosnya melalui telephone genggam miliknya, dan menyebut nama Malau sebagai bosnya.

Walaupun begitu, Tim – media tetap mempertanyakan kemana akan dibawa kayu pinus glondongan yang diangkut dengan Dumptruck BK 8587 EJ melalui jalan menuju pertibi tembe, dan bukan menuju jalan desa Nagara tersebut, serta menanyakan apakah mobil Dumptruck tersebut milik Perusahaan PT SGM, supir yang mengaku bernama situkkir tersebut hanya menjawab ” Bos kami malau, dan sebagai Sub kontraktor disini, ujarnya.

Merasa mendapat perlakuan yang kurang sopan dari sang supir membuat wartawati salah satu media liputan Sumut langsung balik mendokumentasi wajah supir sembari mempertanyakan terkait jalan yang harus dilaluinya untuk mengeluarkan balok kayu dari lokasi pemotongan menuju TPK, dan anehnya dengan cekatan supir tersebut langsung menutup wajahnya dengan masker dan tidak menjawab pertanyaan wartawan, sebaliknya sopir tersebut menyuruh agar portal yang menutup akses jalan yang akan dilewatinya dibuka, “Buka !!, jangan coba – coba menghalangi kami yang lagi cari makan,” ujarnya dengan nada ancaman.

Melihat sikap sopir itu, Tim – wartawan semakin mencari tahu siapa sebenarnya pengusaha pemilik mobil Dumptruck yang mengangkut kayu pinus tersebut, dan sesuai pengakuan dari Humas PT. SGM, Anju Simarmata saat dilokasi pemasangan portal menjelaskan jika Dumptruck itu milik dari salah seorang pengusaha berinisial AM, “ Sebenarnya, mereka salah satu perusahan yang di Sub kan oleh PT. SGM,” ujar Anju dengan suara pelan.

Tim – wartawan langsung memburu supir lainya untuk menggali informasi lebih jelasnya terkait jalan yang harus dipakai untuk mengeluarkan kayu dari lokasi penebangan, seperti supir yang dimintai penjelasan dan tidak ingin menyebutkan nama perusahaan yang memperkerjakanya menjelaskan “kami hanya pekerja bng, enggak tau menau kami dan kami ini kalau disuruh kesana, ya kesanalah dan kalau disuruh kemari, ya kemarilah kami bang, dan tanya aja langsung ke TPK, memang awalnya kami harus melalui jalan yang sana didesa Nagara, kan TPK nya ada disitu, ujar supir yang mengaku bermarga Gultom sembari berjalan meninggalkan Tim – media.

Dengan adanya pengakuan serta fakta dilapangan terkait indikasi indikasi, petunjuk petunjuk adanya kegiatan yang mencurigakan dan mengarah telah terjadinya kecurangan didalam pelaksanaan program percepatan relokasi mandiri tahap III ini, maka Tim – wartawan yang meliput kejadian itu akan segera menginformasikan kepada pihak pihak terkait dan terkhususnya juga kepada Polres Karo dan Kodim 0205/TK untuk dapat melakukan patroli di hutan pinus kawasan Siosar guna melakukan penertiban dan penindakan./edy surbakti