Connect with us

Dunia

Dana Perbatasan Macet, Trump Ancam Status Darurat Nasional

Published

on

Presiden Donald Trump

Geosiar.com, Washington DC – Presiden AS Donald Trump menggertak akan menggunakan hak prerogatifnya dengan menyatakan negara AS dalam keadaan darurat untuk mencairkan anggaran tembok perbatasan, dan mengakhiri kebuntuan perundingan dengan Dewan Perwakilan.

“Kami bisa menyatakan negara dalam keadaan darurat. Seharusnya sih tidak perlu. Saya punya hak penuh untuk menyatakan negara dalam keadaan darurat. Saya memang belum siap, tetapi jika terpaksa saya akan melakukannya,” kata Trump di sela-sela kunjungannya di perbatasan di negara bagian Texas, seperti dilansir Reuters, Jumat (11/1/2019).

Sebelumnya, Trump sudah pernah mengancam akan melakukan itu sebelum dia menyampaikan pidato kepresidenannya, yang menyinggung soal anggaran tembok perbatasan, pada Kamis lalu. Namun, dia urung menyatakan status darurat nasional dalam pidato yang ditunggu-tunggu itu.

Kewenangan yang diberikan undang-undang AS terhadap presiden memang bisa memotong birokrasi, dan mencairkan anggaran tanpa persetujuan Kongres.

Walau demikian, kemungkinan besar Dewan Perwakilan AS bakal mengajukan hak tanya jika Trump nekat menyatakan status darurat nasional. Namun, Trump mengklaim dia akan tetap menang dalam perdebatan itu.

Pertemuan antara Trump dengan Ketua DPR AS, Nancy Pelosi dan pemimpin fraksi Demokrat di Senat, Chuck Schumer kemarin diketahui berjalan tanpa hasil. Trump dilaporkan keluar karena Nancy dan Chuck menyampaikan tetap tidak akan meloloskan proposal anggaran untuk pembangunan tembok perbatasan sebesar US$5 miliar.

DPR AS hanya mau menyetujui mencairkan US$1,3 miliar untuk tembok perbatasan AS-Meksiko. Berdasarkan laporan surat kabar The Washington Post, Gedung Putih saat ini sedang menyiapkan seluruh pertimbangan untuk memenuhi permintaan Trump yang bakal menyatakan status darurat nasional.

Jika hal itu terjadi, dikabarkan kemungkinan besar Trump akan membangun tembok perbatasan dengan mengambil dana dari Korps Zeni Angkatan Darat AS. Kabarnya Trump memang akan melibatkan Angkatan Darat untuk pembangunan tembok perbatasan itu.

Penutupan sebagian pemerintahan AS yang dimulai sejak 22 Desember 2018 hingga kini belum juga berakhir. Jika situasi ini berlanjut sampai Sabtu (12/1/2019) besok, maka ini menjadi yang terlama dalam sejarah Amerika Serikat.

Kemarin DPR AS hanya mengesahkan rancangan undang-undang terkait kementerian perhubungan, perumahan, dan pertanian. Namun, Trump mengancam akan menolak (veto) seluruh RUU itu jika diajukan kepada pemerintah.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dunia

Gempa 7,4 SR di Laut Banda Terasa Hingga Australia

Published

on

Ilustrasi Gempa

Geosiar.com, Maluku – Gempa bumi bermagnitudo 7,4 yang mengguncang Laut Banda, Maluku, pada pukul 08.53 WIB ternyata terasa ke Papua Barat hingga negara Australia.

“Gempa terasa di Papua Barat dan Darwin, Australia,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono kepada awak media, Senin (24/6/2019).

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari kolega yang berada di Darwin, getaran terasa selama beberapa detik. Sementara di Papua Barat, getaran dirasakan sekitar 10 detik.

Daryono mengatakan, secara tektonik zone Subduksi Banda adalah kawasan seismik aktif dan kompleks. Dalam catatan, katalog gempa BMKG, di zona ini sudah terjadi beberapa kali gempa kuat dan di antaranya berpotensi memicu tsunami.

“Sejarah gempa kuat pernah terjadi seperti gempa Banda pada tahun 1918 (M=8.1), 1938 (M=8.4), 1950 (M=7.6), 1950 (M=8.1), dan 1963 (M=8.2),” jelas Daryono.

Ia melanjutkan, dengan memperhatikan banyaknya catatan sejarah gempa kuat ini, zona Subduksi Banda adalah kawasan sangat rawan gempa dan tsunami yang patut diwaspadai di wilayah Indonesia timur.

Namun belum ada informasi kerusakan terkait gempa tersebut.

Gempa yang terjadi di Laut Banda ini terjadi di kedalaman 245 km. BMKG menyebut tidak ada potensi tsunami akibat gempa ini.

Continue Reading

Dunia

Trump Optimis Menang di Pemilihan Presiden AS 2020

Published

on

Donald Trump

Geosiar.com, AS – Presiden Donald Trump mengaku dirinya harus optimis menang dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2020 mendatang. Trump penuh percaya dan mengatakan dirinya hampir tidak pernah kalah sepanjang hidupnya.

“Ini akan sangat lebih baik jika saya mengatakan: ‘Ya. Akan sangat lebih mudah bagi saya mengatakan: ‘Oh, ya.’ Tidak, saya mungkin tidak terlalu siap untuk kalah. Saya hampir tidak pernah mengalami kekalahan dalam hidup saya,” ujar Trump yang diudarakan dalam program Meet the Press oleh TV NBC, yang dikutip Senin, (24/6/2019).

Dengan tegas Trump mengatakan bahwa dia tidak percaya mengenai validitas banyak suara menunjukkan dia gagal meraih suara populer dibandingkan Hillary Clinton tahun 2016. Clinton adalah petarung terkuat Trump dalam pemilihan presiden tiga tahun lalu.

“Saya akan mengatakan, lagi, bahwa ini kontroversi. Ada banyak suara yang saya tidak percaya,” tutur Trump.

Presiden Trump juga meyakini Mike Pence akan dipilihnya kembali sebagai wakil presiden pada pemilihan presiden AS 2020.

Akan tetapi dirinya menangkis menanggapi jika Pence akan maju dalam pemilihan presiden 2024.

Trump bakal bertarung dengan beberapa kandidat dari partai Demokrat dalam pemilihan presiden 2020 di antaranya Joe Bidden, mantan wakil presiden di masa Barack Obama.

Continue Reading

Dunia

Kanada Sahkan UU Larangan Ekspor-Impor Sirip Hiu

Published

on

Ilustrasi Perburuan hiu untuk konsumsi siripnya menjadi salah satu penyebab kian punahnya hiu. ( Foto: EPA )

Geosiar.com, Toronto – Perdagangan sirip hiu mengakibatkan dampak buruk bagi kelestarian spesies hiu di seluruh dunia. Oleh karena itu, Kanada membuat RUU tentang pelarangan ekspor dan impor sirip hiu yang tidak menempel pada hiu, ke dan dari Kanada.

Kabar baiknya, RUU tersebut telah disahkan pada Selasa (19/6/2019) waktu setempat, dan Kanada pun menjadi negara G20 pertama yang mengesahkan undang-undang pelarangan ekspor-impor sirip hiu.

Dilansir dari BBC pada Sabtu (22/6/2019), salah satu Direktur Eksekutif dari kelompok konservasi swasta, Oceana Canada Josh Laugren, mengatakan bahwa undang-undang tersebut perlu dalam mengatur perdagangan sirip hiu.

“[RUU] itu penting dengan sendirinya dalam mengatur perdagangan sirip hiu tapi juga mudah-mudahan memimpin jalan bagi negara lain untuk mengikutinya.” tutur Josh Laugren kepada BBC.

Dengan disahkannya UU perikanan itu, Josh berharap habitat ikan sekaligus populasi hiu bisa dikelola ke arah lebih baik lagi.

“Tidak diragukan lagi bahwa undang-undang yang baru ini berpotensi mengubah bagaimana kita mengelola lautan Kanada,” harap Josh.

Badan Statistik Kanada mencatat telah mengimpor lebih dari 148.241 kg sirip hiu dengan total nilai 3,2 juta dolar Kanada (2,4 juta dolar AS) di sepanjang tahun 2018, dan menjadi negara importir sirip hiu terbesar di luar Asia.

“Kami bukan pemain terbesar, tapi kami tetap pemain,” pungkasnya.

Selama tahun 2017, pemerintah Kanada melaporkan sekitar 35 persen persediaan ikan utama dalam kondisi sehat, dengan 14 persen di zona waspada dan 10 persen kondisinya kritis. Angka tersebut mewakili jumlah terendah persediaan ikan sehat sejak 2011.

Di pihak lain, orang yang pertama kali mengajukan larangan perdagangan sirip hiu, Senator Kanada Michael MacDonald mengatakan bahwa pengesahan undang-undang terkait ekspor-impor sirip hiu merupakan sebuah langkah awal.

Ia pun berharap keputusan Kanada dalam penghentian ekspor-impor tersebut bisa dijadikan contoh kepada dunia bahwa praktik perdagangan itu salah dan harus dihentikan. Dia pun memastikan bahwa Kanada tidak akan lagi berpartisipasi dalam perdagangan sirip hiu.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending

Alamat Redaksi : Jl. Mataram No. 21 Gedung Catolic Center Lt 2 Medan – Sumatera Utara, Telp. +626180514970 Email : geosiar.com@gmail.com Copyright © 2017-2018 Geosiar.Com