Connect with us

pemilu 2019

Debat Pilpres Diharapkan Cerdas dan Mendidik, Bukan Ajang Sindir

Published

on

alon Presiden dalam Pilpres 2019 Joko Widodo (kanan) dan Capres Prabowo Subianto memperlihatkan nomor urut masing-masing, di kantor KPU, Jakarta, Jumat (21/9/2018). - Reuters/Darren Whiteside

Geosiar.com, Jakarta – Debat Pilpres 2019 sangat dinanti publik. Apalagi debat pertama mengambil tiga tema yang cukup menarik, yaitu tentang persoalan hak asasi manusia (HAM), korupsi, dan terorisme.

“Argumentasi kandidat ditunggu publik. Masyarakat ingin lihat dan dengar gagasan orisinil dan komitmen kandidat tentang HAM, korupsi, dan terorisme,” kata pakar komunikasi politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno kepada SP, Senin (7/1/2019).

Menurutnya Adi, seharusnya sepatutnya menjadi pembelajaran demokrasi yang positif. Hal itu berlaku tidak hanya bagi pasangan Joko Widodo-Maruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Melainkan juga untuk pemilih. Dikatakan, model pertanyaan tertutup yang diajukan jauh hari memang kurang menarik.

Walau begitu, masing-masing pasangan justru harus menyiapkan jawaban yang benar-benar substansial.

“Jawabannya mesti utuh, dipahami publik, dan cerdas secara politik. Publik wajib diajak diskusi tentang hal-hal ilmiah. Kalau sebatas nyinyir, maka jelas itu tidak rasional,” ujarnya.

Namun yang ia khawatirkan, debat menjadi ajang saling menyerang personal atau pribadi kandidat. Akhirnya, debat tidak produktif. Kerangka pemikiran tentang tiga tema tak disampaikan secara matang.

“Debat bukan tempat cari pembenaran. Poin-poin penting harus dijelaskan,” ucapnya.

Ia mengatakan, kalangan pemilih yang belum menentukan pilihan akan menanti debat. Apabila terlalu banyak serangan pribadi, lanjut Adi, muncul kesan negatif bagi kategori pemilih tersebut.

“Kalau debat yang muncul sifatnya artifisial, tidak mendidik, justru timbulkan apatisme,” tegasnya.

Sementara itu, pengamat komunikasi politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM) Jakarta, Silvanus Alvin mengatakan, moderator berperan penting untuk memandu debat supaya tidak saling menjatuhkan.

“Moderator wajib mengarahkan kandidat sesuai konteks dari debat,” kata Alvin.