Connect with us

Dunia

Arakan Army Serang Pos Polisi di Myanmar, 13 Polisi Tewas

Published

on

Pemberontak Arakan Army di Myanmar.

Geosiar.com, Naypyidaw – Empat pos polisi diserang oleh sekelompok pemberontak Angkatan Bersenjata Arakan atau Arakan Army di negara bagian Rakhine, Myanmar hingga mengakibatkan 13 polisi tewas dan sembilan orang terluka. Pemberontakan ini terjadi tepat saat hari kemerdekaan Myanmar, Jumat, (4/1/2018).

Juru bicara Arakan Army, Khine Thu Kha membenarkan tentang serangan tersebut. Tujuh mayat yang dianggap musuh telah diambil oleh Arakan Army. Pemberontak juga telah membebaskan 12 anggota pasukan keamanan yang ditahan dalam pertempuran.

Pertempuran ini adalah balasan atas serangan pasukan militer Myanmar terhadap Arakan Army dalam beberapa minggu terakhir yang juga menargetkan warga sipil. Akan tetapi militer Myanmar membantah telah menargetkan warga sipil.

Juru bicara Angkatan Militer Myanmar, Zaw Min Tun menyampaikan polisi yang diserang Arakan Army berusaha melindungi kelompok etnis Buddha yang dianggap sebagai warga Myanmar, tidak seperti Muslim Rohingya.

“Pos-pos polisi ini ada di sana untuk melindungi ras asli daerah itu, seharusnya Arakan Army tidak menyerang mereka,” ujar Zaw Min Tun seperti dilansir dari Reuters.

Pada bulan lalu, angkatan Militer Myanmar mengumumkan penghentian empat bulan pertempuran di utara dan timur laut negara untuk memulai pembicaraan damai dengan kelompok bersenjata yang menuntut kekuasaan, tetapi pengumuman itu mengecualikan Rakhine.

Pihak kepolisian Myanmar mengatakan telah membuka kasus pemberontakan ini di bawah Undang-Undang Anti Terorisme dan Senjata.

Pemberontakan terjadi tidak lama usai bendera nasional dikibarkan di seluruh wilayah negara untuk memperingati kemerdekaan Myanmar. Juru Bicara Arakan Army, Khaine Thu Kha membantah adanya hubungan antara serangan dan peringatan tersebut.

“Kami belum merdeka. Hari ini bukan hari kemerdekaan kita,” ujar Juru Bicara Arakan Army.

Pemberontak Arakan Army menyatakan telah berjuang selama hampir satu dekade untuk merebut “the land of Arakan”, nama lain untuk Rakhine. Mereka merupakan salah satu dari beberapa kelompok bersenjata yang berperang atas nama etnis minoritas di wilayah perbatasan Myanmar.