Connect with us

Sumut

Reses III, Hendrik Sitompul: Tahun 2019 Honor Pengurus Rumah Ibadah Tetap Ditampung

Published

on

Anggota DPRD Medan Drs Hendrik H Sitompul MM saat menjawab sejumlah aspirasi dari masyarakat pada Reses III di Martubung Sabtu (22/12). (Geosiar.com)

Geosiar.com, Medan – Tahun 2018, Pemko Medan telah mencairkan honor terhadap petugas/pengurus rumah ibadah. Termasuk honor pengurus gereja dan guru sekolah minggu. Hal ini dikatakan Anggota DPRD Medan Drs. Hendrik Sitompul, MM, saat Reses III di Jl. Pancing I No. 7 Martubung, Kel. Besar, Kec. Medan Labuhan, Sabtu (22/12/2018).

“Pemko Medan, telah memperhatikan nasib petugas rumah ibadah termasuk pengurus gereja dan guru sekolah minggu. Dan Pemko Medan telah mencairkan honor pengurus rumah ibadah. DPRD Medan juga telah memperjuangkan agar di Tahun 2019, bantuan honor pengurus rumah ibadah dan lomba pemazmur akan terus berkesinambungan, dan tetap ditampung dalam APBD Pemko Medan,” ujar politisi Partai Demokrat tersebut.

Selanjutnya, kata Hendrik, DPRD dan Pemko Medan telah menganggarkan 70 ribu BPJS kesehatan berupa PBI terhadap warga tidak mampu Kota Medan. Untuk itu, warga yang benar-benar tidak mampu diharapkan segera melaporkan ke kelurahan masing-masing, untuk mendapatkan kartu kesehatan tersebut.

“Bagaimana saya tahu permasalahan yang dihadapi, bila warga tidak mengadu kepada saya. Didalam reses inilah kesempatan bagi warga untuk menyampaikan aspirasi dan permasalahan dalam lingkungannya agar dewan mengetahui masalah yang dihadapi warga,” tambah Politisi Dapil II itu.

Selanjutnya dirinya berharap, agar masyarakat tidak hanya diam, namun harus lebih aktif untuk mengadukan masalah di lingkungannya dengan bukti tertulis dan adanya dokumentasi, sehingga dewan bisa memberikan solusi atas permasalahan dan langsung menyampaikan kepada Walikota, harapnya.

Sebelumnya, Johanes Naibaho warga Lingk. I Martubung, mempertanyakan soal wilayah Martubung yang beralih fungsi menjadi gudang kontainer. Sebab, dengan adanya gudang kontainer tersebut, truk-truk kontainer juga tiap hari melintas dan membuat rumah mereka bergetar dan jalan menjadi rusak.

Dirinya juga mengeluhkan, jika hujan turun lingkungan tempat tinggalnya langsung banjir. Hal ini disebabkan, pabrik telah menutup aliran parit warga, ujarnya.

Hal senada disampaikan M. Silitonga warga Gg. Platina yang menyebutkan, akibat parit ditutup pabrik juga berdampak ke lingkungannya. Daerahnya yang dulu tak pernah banjir sekarang jadi langganan banjir. Parahnya lagi, bila hujan turun maka pabrik langsung membuang limbahnya. “Kami juga telah meminta agar pabrik tersebut tidak beroperasional selama 24 jam, namun permintaan kami tak dihiraukan”, ujarnya.

Sementara itu, P. Tamba warga Sei Mati mengeluhkan air rob. Menurutnya, bila air rob datang maka wilayah tempat tinggalnya hampir separuh terbenam. Untuk itu, dirinya berharap agar Pemko Medan segera menutup pintu air, agar air rob bisa diatasi. (X1)