Connect with us

Ekonomi

Pemda Karo Terima Dana Hibah Pasca Bencana TA. 2018 Rp 161,7 M dari BNPB

Published

on

Bupati karo Terkelin Brahmana SH saat menghadiri dan menerima Dana Bantuan Hibah Pasca Bencana dari BNPB dijakarta

Geosiar.com – Bupati Karo Terkelin Brahmana SH, bersama Kepala Pelaksana BPBD karo Ir Martin Sitepu, kabid Pencegahan BPBD Karo Surya, kasi RR BPBD Karo irvan asurbakti memenuhi undangan BNPB dalam rangka penyerahan Surat Penetapan Pemberian Hibah (SPPH ) dan Penandatangan Perjanjian Hibah Daerah (PHD), Rabu (7/11/2018) pukul 08.00 wib di Auditorium lantai 15 Jalan Pramuka Kav 38 Jakarta Timur.

Kegiatan ini sesuai dengan undangan yang diterima oleh Pemkab Karo, nomor : und-116 /PK/2018 tanggal 5 Nopember 2018, yang ditandatangani atas nama Direktur Pembiayaan dan Transfer Non Dana Perimbangan Ubaidi Socheh Hamidi, “Sebut Bupati Karo saat berada di BNPB.

Berdasarkan itu saya bersama Kalak BPBD Karo, saat ini berada di BNPB, untuk menerima Surat Penetapan Pemberian Hibah (SPPH) Rehabilitasi Rekonstruksi pasca bencana tahun 2018 dan penandatanganan perjanjian hibah daerah bencana(PHD),” Katanya

Peserta Hibah yang diundang sesuai surat undangan yaitu Gubernur di Yogyakarta, Gubernur Jawa Timur, Gubernur Jawa Tengah, Bupati Bantul, Bupati Gunungkidul, Bupati Klaten, Bupati Kulon Progo, Bupati Pacitan, Bupati Sleman, Bupati Wonogiri, Walikota Yogyakarta, Gubernur Sumut.

Bupati Karo menyebutkan Kita patut bersyukur dan berterima kasih, dimana Pemerintah Pusat masih berkenan menggelontorkan Dana begitu besar, seingat saya sebesar 161, 7 M lebih, itu yang saya teken tadi, dana itu diperuntukkan kepada Pemda Karo, untuk pembiayaan Penanggulangan Bencana, antar Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Masyarakat.

Pemda Karo akan menindaklanjuti dan melaksanakan kegiatan-kegiatan rehabilitasi dan analisis ini dengan tata kelola yang baik, semoga apa saja yang bisa dilakukan memberikan manfaat bagi masyarakat Karo khususnya yang tertimpa musibah Bencana alam.” Ucap Terkelin Brahmana.

Sementara Kalak BPBD Karo Ir. Martin Sitepu mengatakan sudah melengkapi semua persyaratan yang diminta BNPB terkait penyerahan dana hibah tersebut, karena sejak ditandatangani Bupati Karo surat hibah tersebut, maka waktu penyaluran 30 hari sudah harus sudah selesai, oleh sebab itu BPBD Karo siap menerima dan mengelola dana tersebut dengan tepat sasaran, “imbuhnya.

Disamping itu, BPBD Karo akan berperan aktif atau Pejabat yang mewakili untuk menindaklanjuti penerimaan SPPH dan PHD ini dalam pelaksanaan kegiatan secara intensif dengan maksimal, agar tidak ada penyimpanan sekecil apapun nantinya “Tegasnya

Menurut Martin, adanya dana hibah tersebut karena Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, Perubahan yang dilakukan APBD Pemerintah Kab Karo tidak mencukupi, maka sesuai mekanisme kita dapat mengajukan meminta bantuan kepada Pemerintah Provinsi.

Pemerintah Provinsi juga tidak mampu, sehingga dapat disampaikan kepada Pemerintah melalui BNPB, untuk meminta dana tersebut, hal ini dapat kita lihat sekarang akhirnya terealisasi, pihak BNPB memasukkan Kab. Karo salah satu penerima dana hibah dari 13 Provinsi /Kabupaten/Kota se Indonesia.”Pungkasnya.

Ditandai dalam penyerahan dan penandatanganan dana hibah Rehabilitasi Rekonstruksi Pasca Bencana TA. 2018 kepada Bupati Karo dilakukan oleh kementerian keuangan Direktur pembiayaan dan transfer Non dana perimbangan Ubaidi Socheh Hamidi./Eps/DK

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekonomi

Gubernur BI : Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Jauh Dibandingkan Negara Berkembang Lainnya

Published

on

By

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Geosiar.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) telah melemah 5,72 persen menjadi Rp 14.390 per dollar AS. Hal ini diketahui dari data Bank Indonesia (BI) berawal di bulan Januari hingga 28 Juni 2018,

Padahal sebelumnya, rupiah sempat menguat di level Rp 13.853 per dollar AS akibat keputusan BI untuk meningkatkan suku bunga sebesar 25 bps di akhir Mei lalu.

“Pelemahan ini lebih rendah dibandingkan dengan pelemahan mata uang negara berkembang lainnya seperti Filipina, India, Afrika Selatan, Brazil, dan Turki,” ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat Konferensi Pers hasil Rapat Dewan Gubernur, Jumat (29/6/2018).

Perubahan kebijakan the Fed yang menjadi lebih agresif pada Juni 2018, respons kebijakan bank sentral lain yang berubah khususnya bank sentral Uni Eropa dan China, serta ketidakpastian pasar keuangan global yang kembali meningkat, memicu pelemahan hampir seluruh mata uang dunia termasuk rupiah.

“Hal ini memicu kondisi likuiditas global yang mengetat dan ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi,” jelasnya.

Selain itu, kebijakan bank sentral Uni Eropa (ECB) yang menurunkan net pembelian aset, kebijakan bank sentral Tiongkok (PBoC) yang menurunkan Giro Warkat Minimum (GWM), harga minyak yang naik, serta ketegangan hubungan dagang AS-China juga semakin meningkatkan ketidakpastian global.

“Ketidakpastian tersebut pada gilirannya memicu penguatan mata uang dollar AS secara global dan memicu pembalikan modal dari negara berkembang sehingga memperlemah mata uang banyak negara, termasuk rupiah,” tambahnya.

Untuk mengatasi hal ini, Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Kamis, (28/2018) hingga Jumat, (29/6/2018) memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen.

“Keputusan ini berlaku efektif (mulai) hari ini, Jumat 29 Juni 2018,” tutupnya. (Ut)

Continue Reading
Advertisement

Trending