Connect with us

pemilu 2019

Kubu Prabowo Minta Isu Tampang Boyolali Jangan Dipolitisasi

Published

on

Prabowo Subianto.

Geosiar.com, Jakarta – Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Adil Makmur, pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, Eddy Soeparno meminta pidato Prabowo soal tampang Boyolali agar tidak tidak dipolitisasi. Ia menegaskan, Prabowo tidak bermaksud merendahkan masyarakat tertentu dengan ucapan itu.

“Tidak ada maksud mengejek dan merendahkan, ataupun memberikan kata-kata yang justru mengerdilkan masyarakat daerah tertentu,” ujar Eddy kepada wartawan selepas menghadiri acara Tabligh Akbar dan Deklarasi Komando Ulama Pemenangan Prabowo Sandi (Koppasandi) di Gelanggang Olahraga Soemantri Brojonegoro, Kuningan, Jakarta, Minggu (4/11/2018).

Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) itu juga menyayangkan banyak ucapan yang dipolitisasi. Dia menilai, ucapan Prabowo itu hanya sekedar gurauan. Ia membandingkan tampang Boyolali ini dengan istilah ‘ndeso’ yang menurut dia mempunyai makna serupa.

Eddy juga meminta, masyarakat tidak cepat mengambil kesimpulan dan tidak berprasangka buruk. Apabila setiap ucapan dipolitisasi, maka polisi nanti yang akan repot karena harus memproses banyaknya laporan masyarakat yang masuk.

Di samping itu, dia meminta masyarakat menjaga stabilitas politik selama lima hingga enam bulan ke depan agar pada tahun politik tidak sibuk dengan urusan hukum.

“Saya berharap apa pun yang kami sampaikan, dicerna baik,” kata Eddy.

Ketika berpidato dalam peresmian kantor Badan Pemenangan Prabowo Sandi di Boyolali, pada Ahad, (30/11/2018), Prabowo Subianto menyinggung soal pertumbuhan ekonomi Indonesia yang timpang. Ia melihat pertumbuhan ekonomi di Jakarta sangat berbeda dengan daerah lain, indikatornya adalah banyak gedung tinggi termasuk hotel-hotel ternama di dunia.

kemudian Prabowo mengatakan, “Saya yakin kalian nggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul? Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang Kaya, tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini.”

Pernyataan Prabowo itu kemudian menyebar dengan cepat setelah video pidatonya diunggah di video YouTube yang kemudian viral.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

pemilu 2019

KPU Sumut Akan Gelar Pencoblosan Ulang di 2 TPS Medan

Published

on

Ilustrasi Pemilu 2019

Geosiar.com, Medan – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara akan menggelar pencoblosan ulang pada 2 TPS yang berada di Kota Medan, Rabu, 24 April 2019.

Kedua TPS itu berada pada dua kecamatan berbeda, yaitu TPS 35 di Kecamatan Medan Barat, Sei Agul dan TPS 13 di Kecamatan Helvetia, Kelurahan Dwikora.

Herdensi Adnin, selaku Komisioner KPU Sumut Divisi Data dan Informasi menyebut pemungutan suara ulang (PSU) dilakukan lantaran adanya kesalahan prosedur dalam pemilihan 17 April lalu.

Dia menjelaskan kesalahan pada TPS 35 di Kecamatan Medan Barat, karena pemilih yang bukan berdomisili di Medan, serta tidak terdaftar sebagai daftar pemilih tetap (DPT) Medan, ikut memilih dengan menggunakan e-KTP.

“Padahal ketentuannya pengguna e-KPT ini diberikan ruang untuk memilih disebut sebagai pemilih khusus. Tapi dia menggunakan e-KTP di TPS yang bukan domisili e-KTP bahkan sebagian ada di luar Kota Medan, sehingga harus dilakukan PSU,” jelas Herdensi kepada awak media, Selasa (23/4/2019).

Sementara, kesalahan di TPS 13 Kecamatan Helvetia, karena ketidaktersediaan surat suara untuk DPRD kabupaten/kota, sehingga pemilih tidak bersedia untuk mencoblos.

Informasi lebih lanjut, KPU Sumut telah menyediakan logistik untuk PSU besok. KPU juga telah membagikan C6 kepada setiap pemilih.  

Tercatat jumlah warga yang ikut melaksanakan pencoblosan ulang di TPS 35 di Kecamatan Medan Barat, Sei Agul sebanyak 270 orang. Sementara, pada TPS 13 di Kecamatan Helvetia, Kelurahan Dwikora, sebanyak 296 orang.

Continue Reading

pemilu 2019

Jokowi Kalah Telak di Sumbar, Pakar Politik Unand: Salah Strategi Kampanye

Published

on

Real count KPU, Selasa (23/4/2019) pukul 14.15, Jokowi-Ma'ruf mendapat 13,34% di Sumatera Barat.

Geosiar.com, Jakarta – Kekalahan telak hasil rekapitulasi suara sementara terhadap pasangan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Sumatera Barat mendapat sorotan dari pakar politik Universitas Andalas (Unand) Padang Edi Indrizal.

Berdasarkan real count KPU, Selasa (23/4/2019) pukul 14.15, Jokowi-Ma’ruf hanya mendapat 13,34% suara. Sementara rivalnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berhasil meraih 86,66% suara di Provinsi Sumatera Barat.

Edi Indrizal mengatakan ideologi, sosiologis, kultural hingga psikologis menjadi faktor penentu kalahnya capres petahana di Sumatera Barat.

“Semua faktor tersebut saling terkait satu sama lain sehingga membentuk perilaku kolektif masyarakat dalam memilih,” tutur Edi di Padang dilansir dari Antara, Selasa (23/4/2019).

Menurut Edi, strategi yang digunakan kubu 01 dalam kampanye tidak menjawab persoalan, meski diketahui 12 kepala daerah Sumatera Barat terang-terangan mendukung paslon 01.

“Strategi yang dipakai untuk memenangkan Jokowi oleh tim sukses di Sumbar tidak menjawab persoalan.” lanjutnya.

Senada, Asrinaldi yang juga pakar politik Unand mengatakan falsafah masyarakat Sumbar merupakan variabel kegagalan Jokowi untuk meraup suara.

Menurutnya, mayarakat Sumbar menjujung falsafah ‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’ atau ABS-SBK. Jika dimaknai falsafah ini berarti ‘religius feeling’.

Falsafah ini, menurut Asrinaldi dalam pandangan masyarakat, tidak sejalan dengan Jokowi yang dikelilingi oleh kelompok multikultur, agama, dan pemikiran. Apalagi, eks Gubernur DKI Jakarta itu sempat diisukan seorang PKI.

“Terutama dari segi agama, walau banyak kebijakan seperti Islam nusantara, [tapi] pemahaman komunisme membuat orang tidak simpati. Rasa antipasti itu yang justru muncul,” kata Asrinaldi dilansir dari CNNIndonesia.com, Senin (22/4/2019).

Rasa antipati untuk memilih Jokowi semakin diperparah denan isu-isu terkait agama dan suku yang dikemas dalam hoaks oleh sekelompok orang yang ditujukan kepada Jokowi.

Sebenarnya, kegagalan Jokowi untuk mendapat suara lebih besar di Pilpres 2019 ini, kata Asrinaldi, sudah terlihat sebelum hari pemungutan suara, yakni ketika animo masyarakat yang menyerukan pergantian presiden semakin meningkat.

Continue Reading

pemilu 2019

[UPDATE] 20% Data TPS Masuk, Ini Hasil Situng KPU

Published

on

Pasangan calon Presiden Joko Widodo-Maruf Amin (kanan) dan pasangan capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno

Geosiar.com, Jakarta – Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih terus melakukan rekapitulasi hasil pemungutan suara Pemilu 2019 melalui Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng).

Berdasarkan situs KPU pada Selasa, (23/4/2019) pukul 14.00 WIB, dengan data masuk sebanyak 163.076 TPS (20%) dari 813.350 TPS se-Indonesia. Berikut ini real count KPU berdasarkan data yang telah masuk:

Jokowi-Ma’ruf 17.011.717 suara (55,12%)
Prabowo-Sandiaga 13.852.220 suara (44,88%)

Ketua KPU Arief Budiman menjelaskan, proses penghitungan suara yang dilakukan oleh Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) akan dimasukkan ke formulis C1. Setelah itu, data dari formulir C1 akan dimasukkan ke Situng oleh KPU Kabupaten/Kota.

“KPPS-KPPS sudah selesai menghitung, lalu memasukkan formulir C1, kemudian formulir C1 yang dikirim ke KPU kabupaten/kota, lalu di-scan masuk ke dalam server kita dan dipublikasikan, itu Situng,” kata Arief.

KPU akan terus memperbaharui rekapitulasi data hasil penghitungan suara melalui situs kpu.go.id. Penghitungan suara akan dilakukan sampai Rabu (22/5/2019).

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending

Alamat Redaksi : Jl. Mataram No. 21 Gedung Catolic Center Lt 2 Medan – Sumatera Utara, Telp. +626180514970 Email : geosiar.com@gmail.com Copyright © 2017-2018 Geosiar.Com