Connect with us

Nasional

Polisi Pakai Pendeteksi Wajah Buru 1.096 Napi di Sulteng yang Kabur

Published

on

Ilustrasi

Geosiar.com, Palu – Terdapat 1.425 napi melarikan diri dari lembaga pemasyarakatan (lapas) di Palu dan Donggala ketika gempa dan tsunami melanda. Dari catatan Kemenkumham pada Senin (8/10/2018), sebanyak 1.096 napi belum diketahui keberadaannya, sedangkan sisanya telah kembali ke lapas dan melaporkan diri.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto meyatakan hingga saat ini pihaknya tengah berkoordinasi dengan Kemenkumham untuk proses pengejaran. Polri akan menggunakan database yang dimiliki Kemenkumham untuk memburu para napi.

“Itu kita sedang koordinasi dengan Kemenkumham, dari Kemenkumham kan datanya juga. Saya enggak tahu nih datanya masih ada apa enggak, mungkin kesapu dengan tsunami juga. Yang ada datanya kita akan lakukan pengejaran,” ucap Setyo di Gedung Humas Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (9/10/2018).

Tak hanya berbekal data, polisi juga akan menggunakan teknologi pengenal wajah atau facial recognition. Apalagi ia menyakini data para napi tersebut telah direkam oleh Kemenkumham.

“Selain kita juga punya data-data pendukung lain seperti sidik jarinya dia, kemudian ciri-ciri khusus, kan semua begitu masuk ke LP pasti dicatat. Moga-moga bisa cepatlah dan tidak keluar dari Sulteng,” ujar Setyo.

Tapi ia mengkhawatirkan para napi tersebut membaur dengan para pengungsi gempa dan tsunami. Hal tersebut menurutnya akan menjadi tantangan tersendiri karena saat ini ada sekitar 62.000 pengungsi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasional

Menristekdikti: Jalur SBMPTN 2019, Peserta Boleh Tes Dua Kali

Published

on

Menristekdikti (Jawapos.com)

Geosiar.com, Jakarta – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengumumkan skema terbaru untuk seleksi mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) tahun 2019 mendatang, Senin (22/10).

Seperti tahun sebelumnya, jalur seleksi dibagi menjadi tiga yaitu Seleksi Nasional Masuk PTN (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN) dan Ujian Mandiri (UMB).

Terkhusus jalur SBMPTN, terdapat sejumlah perubahan signifikan di tahun 2019. Pertama, peserta SBMPTN diperkenankan mengikuti tes ulang jika hasil tes diperkirakan belum memuaskan.

“Kalau misalkan mereka ujian, gagal pada hari itu, dia bisa melakukan tes lagi, mencoba lagi dua kali. Maksimal dua kali,” ungkap Mohammad Nasir, Menristekdikti di Gedung Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta, Senin (22/10).

Kedua, calon mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti tes terlebih dahulu lalu kemudian memilih kampus serta program studinya pada SBMPTN 2019.

“Jadi bukan mahasiswa nanti datang ke kampus, daftar, dan kemudian tes SBMPTN,” tutur Nasir.

“Tapi ini silakan tes dulu, setelah lulus hari ini baru nilainya nanti dipakai buat daftar di kampus untuk memilih program studi yang diinginkan,” tambahnya lagi.

Selanjutnya yang ketiga, SBMPTN 2019 hanya dilakukan dengan satu jenis tes, yaitu Uji Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dan tidak ada ujian tulis berbasis cetak. Setiap peserta dikenakan biaya sebesar Rp 200 ribu setiap kali ujian.

Namun belum ada kepastian terkait tanggal UTBK akan dilaksanakan. Rencananya, UTBK akan dilakukan di pagi dan siang hari setiap Sabtu dan Minggu. Dalam setahun, UTBK akan diselenggarakan 24 kali setahun dalam waktu 13 hari.

Kelompok ujian dibagi menjadi dua, yaitu kelompok Saintek dan Soshum. Sementara masing-masing memiliki materi yang sama, yaitu Tes Potensi Skolastik (TPS) dan Tes Kompetensi Akademik (TKA).

Continue Reading

Daerah

Viral! Pemuda Umur 25 Tahun Nikahi Gadis 58 Tahun

Published

on

Zulhery (25) menikahi kekasihnya, Nuraisyah (58) di Aceh. (detik.com)

Geosiar.com, Lhokseumawe – Sedang viral pernikahan pasangan beda usia 33 tahun. Seorang pemuda bernama Zulhery (25) menikahi kekasihnya yang umurnya jauh beda dengannya, Nuraisyah (58).

Sepasang kekasih ini menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Dewantara pada Kamis (18/10/2018). Pernikahan mereka pun dihadiri oleh pihak keluarga.

Nuraisyah, yang baru pertama kali menikah adalah warga Desa Uteun Geulinggang, Kecamatan Dewantara. Sedangkan Zulhery warga Kecamatan Nisam, Aceh Utara.

Berdasarkan foto yang telah beredar di Instagram, kedua mempelai tampak mengenakan pakaian adat Aceh di pelaminan. Mempelai wanita terlihat cantik dan bahagia.

Kepala Dusun Linggang Jaya Timur, Desa Uteun Geulinggang, Dewantara, Gunawan membenarkan pernikahan itu.

“Betul. Keduanya sudah melangsungkan pernikahan di KUA Dewantara pada Kamis (18/10/2018). Mahar yang diberikan pria itu sebesar dua mayam emas,” ungkap Gunawan, Sabtu (20/10/2018)

“Sepengetahuan saya selama ini Nuraisyah belum pernah menikah,” tambahnya.

Continue Reading

Nasional

Bupati Sumenep Renovasi 498 Rumah Korban Pasca Gempa Situbondo

Published

on

Bupati Sumenep A. Busyro Karim (Kumparan.com)

Geosiar.com, Madura – Sebanyak rumah di Pulau Sapudi, Madura, mengalami rusak parah akibat gempa bumi yang terjadi di Situbondo dengan kekuatan 6,3 magnitudo yang terjadi pada Kamis (11/10/2018) lalu. Hal tersebut diketahui berdasarkan data BPBD Kabupaten Sumenep yang telah diverifiasi.

Pemkab Sumenep renovasi sebanyak 498 rumah terdampak gempa. Proses renovasinya ditargetkan akan selesai dalam dua bulan ke depan atau Desember 2018 mendatang.

“Perbaikan akan dilakukan secara bertahap, mulai dari rusak berat, sedang dan ringan. Untuk perbaikan ini Desember akhir tahun ini (2018) akan selesai,” ungkap Bupati Sumenep Abuya Busyro Karim usai berkunjung ke Pulau Sapudi, Jumat (19/10/2018).

Busyro mengungkapkan data 498 unit rumah warga yang rusak terbagi dalam tiga kategori yakni rusak ringan, sedang, hingga parah. Jumlah tersebut tersebar di Kecamatan Nonggunong dan Kecamatan Gayam yang ada di Pulau Sapudi.

Busyro menambahkan proses pembangunan kemungkinan akan terhambat dalam hal distribusi bahan material. Sebab letak Sapudi yang berada di kepulauan, bukan seperti Sumenep yang berada di daratan Madura. Selain itu keterbatasan kapal di Pulau Sapudi juga menghambat proses pembangunan.

“Jadi jangan dibayangkan seperti di daratan (Sumenep). Kalau butuh batu bata harus beli ke Sumenep, ini masalah lagi, selain memerlukan transportasi juga butuh biaya lagi,” tambahnya.

Seluruh anggaran renovasi senilai Rp 20 miliar termasuk bantuan material yang akan ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Semua bantuan juga dipusatkan di posko utama yang terletak di Desa Pancor, Kecamatan Gayam, Sumenep.

Busyro juga memastikan bahwa proses pemulihan trauma healing bagi masyarakat maupun anak-anak tetap dilakukan setiap hari.

“Untuk pemulihan psikis, ada pendampingan panjang. Ada petugas khusus yang menetap disini, mereka terdiri dari berbagai unsur ada dari Kesehatan, Dinsos, petugas PKH, dan juga dari Polri dan TNI,” pungkasnya.

Diketahui selain 498 rumah rusak, gempa yang terjadi pada 11 Oktober lalu itu juga menewaskan 3 orang dan membuat sejumlah warga luka-luka.

Continue Reading
Advertisement

Trending