Connect with us

Dunia

Dampak Hiperinflasi, Harga Barang Naik 10 Juta Persen di Venezuela

Published

on

Dampak hiperinflasi, harga barang naik 10 juta persen di Venezuela. (tribun)

Geosiar.com, Caracas – Apa yang terjadi bila inflasi 10 juta persen? Dengan inflasi demikian besar, ini artinya satu barang sebelumnya berharga US$1 (Rp15 ribu) menjadi US$100 ribu (Rp1,5 miliar). Terbayangkah cara untuk menghitung dampaknya?

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan hiperinflasi dalam perekonomian Venezuela diperkirakan mencapai 1,4 juta persen tahun ini dan meroket jadi 10 juta persen pada 2019, setelah harga-harga barang naik seribu persen tahun lalu.

Situsinya sangat buruk sehingga Venezuela pun tidak dimasukkan dalam angka inflasi regional dan juga pasar di negara-negara berkembang.

Setelah selama bertahun-tahun salah urus ekonomi, sedangkan industri minyak yang penting terhenti, ribuan warga Venezuela meninggalkan negara itu setiap hari untuk mendapatkan makanan dan obat-obatan. Para pengungsi ini membanjiri negara tetangga Kolombia dan Brazil.

Sebelumnya negara-negara Amerika Latin berusaha mendesak pemerintah Venezuela menandatangani resolusi agar mau menerima bantuan kemanusiaan yang bertujuan meringankan krisis perpindahan penduduk.

Venezuela sejauh ini menolak menandatangani resolusi itu. Selain Kolombia dan Brazil, Ekuador dan Peru menjadi tempat tujuan utama warga Venezuela karena persyaratan masuk negara itu yang relatif mudah.

Di samping itu, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan mencapai 3,7 persen tahun ini dan tahun depan yang terutama disebabkan oleh perlambatan perdagangan ketika terjadi perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Perlu diketahui, di Venezuela hiperinflasi ini mengakibatkan harga barang biasa menjadi lebih malah dari emas. Misalnya satu gulung kertas tisu toilet di Venezuela dihargai 2,6 miliar bolivar. Sebanyak apa uang sebesar itu? Uang sebanyak 2,6 miliar itu setara dengan 26 ikat uang 1.000 bolivar yang jika ditumpuk maka ketebalannya mencapai 26 cm.

Sementara jika uang itu dibungkus maka setara dengan 2,6 kantong gula dengan berat masing-masing kantong 1 kilogram. Bagaimana dengan komoditas lain? Satu ekor ayam utuh dihargai 14,6 miliar bolivar, dan tomat 5,2 juta bolivar per kilogram. Kini gaji sebulan rata-rata warga Venezuela hanya bisa untuk membeli satu kilogram daging. Pemerintah Venezuela juga memiliki utang segunung yaitu 150 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.194 triliun.

IMF memotong proyeksi pertumbuhan dunia menjadi 3,7 persen untuk tahun ini dan tahun depan. Hal ini sebagian besar dikarenakan adanya perlambatan dalam perang dagang antara AS dan China.Perang dagang itu dapat menurunkan estimasi pertumbuhan di negara-negara berkembang menjadi 4,7 persen untuk 2018 dan 2019.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dunia

Gempa 7,4 SR di Laut Banda Terasa Hingga Australia

Published

on

Ilustrasi Gempa

Geosiar.com, Maluku – Gempa bumi bermagnitudo 7,4 yang mengguncang Laut Banda, Maluku, pada pukul 08.53 WIB ternyata terasa ke Papua Barat hingga negara Australia.

“Gempa terasa di Papua Barat dan Darwin, Australia,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono kepada awak media, Senin (24/6/2019).

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari kolega yang berada di Darwin, getaran terasa selama beberapa detik. Sementara di Papua Barat, getaran dirasakan sekitar 10 detik.

Daryono mengatakan, secara tektonik zone Subduksi Banda adalah kawasan seismik aktif dan kompleks. Dalam catatan, katalog gempa BMKG, di zona ini sudah terjadi beberapa kali gempa kuat dan di antaranya berpotensi memicu tsunami.

“Sejarah gempa kuat pernah terjadi seperti gempa Banda pada tahun 1918 (M=8.1), 1938 (M=8.4), 1950 (M=7.6), 1950 (M=8.1), dan 1963 (M=8.2),” jelas Daryono.

Ia melanjutkan, dengan memperhatikan banyaknya catatan sejarah gempa kuat ini, zona Subduksi Banda adalah kawasan sangat rawan gempa dan tsunami yang patut diwaspadai di wilayah Indonesia timur.

Namun belum ada informasi kerusakan terkait gempa tersebut.

Gempa yang terjadi di Laut Banda ini terjadi di kedalaman 245 km. BMKG menyebut tidak ada potensi tsunami akibat gempa ini.

Continue Reading

Dunia

Trump Optimis Menang di Pemilihan Presiden AS 2020

Published

on

Donald Trump

Geosiar.com, AS – Presiden Donald Trump mengaku dirinya harus optimis menang dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2020 mendatang. Trump penuh percaya dan mengatakan dirinya hampir tidak pernah kalah sepanjang hidupnya.

“Ini akan sangat lebih baik jika saya mengatakan: ‘Ya. Akan sangat lebih mudah bagi saya mengatakan: ‘Oh, ya.’ Tidak, saya mungkin tidak terlalu siap untuk kalah. Saya hampir tidak pernah mengalami kekalahan dalam hidup saya,” ujar Trump yang diudarakan dalam program Meet the Press oleh TV NBC, yang dikutip Senin, (24/6/2019).

Dengan tegas Trump mengatakan bahwa dia tidak percaya mengenai validitas banyak suara menunjukkan dia gagal meraih suara populer dibandingkan Hillary Clinton tahun 2016. Clinton adalah petarung terkuat Trump dalam pemilihan presiden tiga tahun lalu.

“Saya akan mengatakan, lagi, bahwa ini kontroversi. Ada banyak suara yang saya tidak percaya,” tutur Trump.

Presiden Trump juga meyakini Mike Pence akan dipilihnya kembali sebagai wakil presiden pada pemilihan presiden AS 2020.

Akan tetapi dirinya menangkis menanggapi jika Pence akan maju dalam pemilihan presiden 2024.

Trump bakal bertarung dengan beberapa kandidat dari partai Demokrat dalam pemilihan presiden 2020 di antaranya Joe Bidden, mantan wakil presiden di masa Barack Obama.

Continue Reading

Dunia

Kanada Sahkan UU Larangan Ekspor-Impor Sirip Hiu

Published

on

Ilustrasi Perburuan hiu untuk konsumsi siripnya menjadi salah satu penyebab kian punahnya hiu. ( Foto: EPA )

Geosiar.com, Toronto – Perdagangan sirip hiu mengakibatkan dampak buruk bagi kelestarian spesies hiu di seluruh dunia. Oleh karena itu, Kanada membuat RUU tentang pelarangan ekspor dan impor sirip hiu yang tidak menempel pada hiu, ke dan dari Kanada.

Kabar baiknya, RUU tersebut telah disahkan pada Selasa (19/6/2019) waktu setempat, dan Kanada pun menjadi negara G20 pertama yang mengesahkan undang-undang pelarangan ekspor-impor sirip hiu.

Dilansir dari BBC pada Sabtu (22/6/2019), salah satu Direktur Eksekutif dari kelompok konservasi swasta, Oceana Canada Josh Laugren, mengatakan bahwa undang-undang tersebut perlu dalam mengatur perdagangan sirip hiu.

“[RUU] itu penting dengan sendirinya dalam mengatur perdagangan sirip hiu tapi juga mudah-mudahan memimpin jalan bagi negara lain untuk mengikutinya.” tutur Josh Laugren kepada BBC.

Dengan disahkannya UU perikanan itu, Josh berharap habitat ikan sekaligus populasi hiu bisa dikelola ke arah lebih baik lagi.

“Tidak diragukan lagi bahwa undang-undang yang baru ini berpotensi mengubah bagaimana kita mengelola lautan Kanada,” harap Josh.

Badan Statistik Kanada mencatat telah mengimpor lebih dari 148.241 kg sirip hiu dengan total nilai 3,2 juta dolar Kanada (2,4 juta dolar AS) di sepanjang tahun 2018, dan menjadi negara importir sirip hiu terbesar di luar Asia.

“Kami bukan pemain terbesar, tapi kami tetap pemain,” pungkasnya.

Selama tahun 2017, pemerintah Kanada melaporkan sekitar 35 persen persediaan ikan utama dalam kondisi sehat, dengan 14 persen di zona waspada dan 10 persen kondisinya kritis. Angka tersebut mewakili jumlah terendah persediaan ikan sehat sejak 2011.

Di pihak lain, orang yang pertama kali mengajukan larangan perdagangan sirip hiu, Senator Kanada Michael MacDonald mengatakan bahwa pengesahan undang-undang terkait ekspor-impor sirip hiu merupakan sebuah langkah awal.

Ia pun berharap keputusan Kanada dalam penghentian ekspor-impor tersebut bisa dijadikan contoh kepada dunia bahwa praktik perdagangan itu salah dan harus dihentikan. Dia pun memastikan bahwa Kanada tidak akan lagi berpartisipasi dalam perdagangan sirip hiu.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending

Alamat Redaksi : Jl. Mataram No. 21 Gedung Catolic Center Lt 2 Medan – Sumatera Utara, Telp. +626180514970 Email : geosiar.com@gmail.com Copyright © 2017-2018 Geosiar.Com