Connect with us

Teknologi

Benarkah Teknologi Akan ‘Jajah’ Manusia?

Published

on

Ilustrasi

Geosiar.com, Bali – Saat ini pesatnya perkembangan teknologi diprediksi menggantikan tenaga manusia. Apalagi memasuki era revolusi industri keempat, bukan tidak mungkin, perusahaan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal.

Chairman Indonesia Human Resource Summit, Shauqi Gombang Aleyandra, menilai bahwa ada beberapa sektor pekerjaan dalam industri yang akan diganti oleh teknologi.

Hanya saja, kata dia, dari hasil penelitian hingga satu dekade ke depan, paling banyak hanya sekitar 15 persen saja teknologi yang menggantikan peran manusia.

Menurutnya, berdasarkan hasil penelitian McKinsey Global Institute menyatakan hanya sekitar 5 persen dari total pekerjaan yang ada saat ini yang dapat diotomasikan secara penuh. Bahkan, hingga 10 tahun ke depan, peran teknologi di industri maksimal hanya 15 persen.

Dengan kata lain, Aleyandra menambahkan peran manusia sebagai tenaga kerja masih belum dapat tergantikan. Hanya saja, kemampuan manusia untuk dapat bekerja dan beradaptasi dengan teknologi merupakan hal yang tak bisa dielakkan.

“Tenaga kerja harus didorong untuk meraih puncak prestasinya seperti kreativitas, inovasi dan intuisi. Teknologi tidak dapat menggantikan kinerja manusia, tapi lebih mendorong manusia untuk lebih kreatif, inovatif dan intuitif,” kata dia di Denpasar, Bali, Senin, (17/9/2018).

Walaupun demikian, meski 15 persen tenaga manusia terganti oleh teknologi, namun hanya di sektor industri tertentu saja seperti kilang minyak dan pabrik. Untuk kilang minyak di laut lepas misalnya, tidak ada manusia yang mengoperasikannya secara langsung.

“Semuanya menggunakan kecanggihan teknologi yang dikendalikan manusia dari darat. Teknologi jangan dianggap sebuah ancaman, melainkan alat bantu bagi manusia untuk meningkatkan kualitas diri dan pekerjaannya,” ujar dia.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Kepala SKK Migas, Sukandar, menyampaikan, dunia saat ini tengah bersiap menghadapi transformasi besar dalam bisnis industri, yakni revolusi industri 4.0.

“Teknologi hanya mengubah dari tingkat kemampuan rendah menjadi kemampuan teknologi yang cukup kompleks. Jadi, potensi manusia yang mesti dioptimalkan. Teknologi dan otomasi tetap dibutuhkan. Itu suatu keharusan. Tapi tetap ada programmer dan operatornya. Itu tenaga manusia,” tegas Sukandar. (yl)