Ilmuan Buat Ukuran Baru untuk Ukur Lemak Tubuh

by

Geosiar.com, Lifestyle – Penghitungan ukuran untuk mencapai berat badan ideal dilakukan dengan menggunakan indeks massa tubuh atau dikenal dengan BMI, Sabtu (15/9/18).

Tetapi BMI tidak berlaku lagi. Para ilmuan menemukan sebuah ukuran baru yang disebut lebih baik, yaitu indeks massa lemak relatif atau RFM. Tim peneliti menyebut, RFM lebih akurat dibanding BMI.

Disisi lain, ukuran ini juga lebih mudah dihitung karena hanya menggunakan pita pengukur. Artinya, tidak perlu satu set skala untuk menghitungnya seperti BMI.

Dikutip dari Science Alert,  Untuk mendapatkan RFM, kita hanya perlu mengukur jarak di sekitar pinggang yang nanti dikaitkan dengan tinggi badan.

Pemimpin penelitian ini, Orison Woolcott mengatakan cara mengukur yang demikian disebut lebih baik untuk melihat apakah lemak tubuh seseorang pada tingkat yang sehat atau tidak.

“Kami ingin mengidentifikasi metode yang lebih andal, sederhana, dan murah untuk menilai presentase lemak tubuh tanpa menggunakan peralatan canggih,” ujarnya.

“Hasil kami mengkonfirmasi nilai formula baru ini dalam sejumlah besar subjek. Massa lemak relatif adalah ukuran yang lebih baik untuk mengukur kegemukan tubuh daripada banyak indeks yang saat ini digunakan dalam kedokteran dan sains, termasuk BMI,” tambahnya.

Saat menghitung BMI Anda harus membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter.

Angka yang menunjukkan BMI normal adalah antara 18,5 hingga 25. Para ahli mengakui bahwa cara ini tidak sempurna.Apalagi jika memperhitungkan perbedaan gender.

Ditambah lagi, cara tersebut tidak selalu akurat mencerminkan massa otot dan hasilnya sering sumir bagi anak-anak dan orang tua.

Karenanya, para peneliti menyebut RFM adalah pengukur yang lebih akurat. Cara menghitungnya adalah:

Pria: 64 – (20 x tinggi/lingkar pinggang) = RFM

Perempuan: 76 – (20 x tinggi/lingkar pinggang) = RFM

Berdasarkan data dari 3.456 pasien dewasa di AS, hasil pengukuran RFM sangat cocok dengan scan tubuh DXA berteknologi tinggi.

Scan ini secara luas dianggap sebagai standar emas untuk mengukur jaringan tubuh, tulang, otot, dan lemak.

Dengan kata lain, RFM sama bagusnya dengan mengukur lemak tubuh dari peralatan medis yang canggih. Padahal yang dibutuhkan hanya pita pengukur.

Meski penelitian yang dipublikasikan di jurnal Scietific Reports ini menunjukkan hasil positif, studi lanjutan tetap perlu dilakukan.

“Kami masih perlu menguji RFM dalam studi longitudinal dengan populasi besar untuk mengidentifikasi kisaran presentase lemak tubuh yang dianggap normal atau abnormal dalam kaitannya dengan masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas serius,” kata Woolcott. (Ut)