Connect with us

Dunia

Bentrok Pemilu Zimbabwe Tewaskan 3 Orang

Published

on

Kerusuhan di ibu kota Zimbabwe, Harare, ketika massa pendukung oposisi menuding ada kecurangan pada proses penghitungan pemilu (liputan6.com)

Geosiar.com, Harare – Polisi Zimbabwe mengabarkan tiga orang tewas ketika tentara berusaha membubarkan aksi demonstrasi para pendukung partai oposisi yang menuduh partai berkuasa curang dalam pemilihan presiden, Senin (30/7/2018).

Juru bicara Kepolisian Charity Charamba dalam wawancara dengan radio Zimbabwe, ZBC (Zimbabwe Broadcasting Corporation) menyampaikan tiga orang yang tewas dalam bentrokan tersebut belum teridentifikasi.

Suara tembakan terdengar saat tentara yang didukung kendaraan lapis baja dan sebuah helikopter militer membubarkan para pendukung oposisi yang berdemo di jalanan. Beberapa di antara tentara mengenakan penutup wajah.

Kegaduhan berawal setelah Nelson Chamisa, pemimpin oposisi dari Gerakan Perubahan Demokratik, menyatakan dirinya memenangkan suara populer dalam pemilu.

Setelah membakar ban-ban di jalanan, puluhan pendukung Chamisa menyerang polisi anti huru-hara di dekat Komisi Pemilihan Zimbabwe (ZEC). Petugas merespons dengan menembakkan meriam air dan gas air mata.

“Saya melakukan aksi protes tamai, saya dipukuli tentara,” kata Norest Kemvo, yang luka-luka di wajah dan tangan kanannya. “Ini adalah pemerintahan kita. Inilah mengapa kami ingin perubahan. Mereka mencuri pemilihan,” kata dia.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meminta para pemimpin politik Zimbabwe dan masyarakat untuk menahan diri dan menolak segala bentuk kekerasan.
Menteri Kehakiman Ziyambi Ziyambi mengatakan tentara telah dipanggil untuk memastikan “kedamaian dan ketenangan”.

Charity Charamba, yang merupakan seorang juru bicara polisi, setempat menyampaikan pasukan dikerahkan atas permintaan polisi, yang tidak bisa mengatasi kekerasan. Mereka akan tetap di bawah komando polisi, kata Charity Charamba.

Pengerahan tentara dan pemukulan demonstran tak bersenjata merupakan kemunduran bagi upaya Presiden Emmerson Mnangagwa dalam menepis status paria Zimbabwe pasca pemerintahan Robert Mugabe yang digulingkan lewat kudeta November lalu.

Bahkan sebelum kekerasan meletus, para pengamat Uni Eropa mempertanyakan pemilihan presiden dan parlemen, yang pertama sejak pengunduran paksa Mugabe yang berkuasa hampir 40 tahun di Zimbabwe.

Komisi pemilihan Zimbabwe akan mengumumkan hasil pemilihan presiden pada Rabu (1/8/2018). Namun jadwal itu dimundurkan 24jam. Para pengamat Uni Eropa menyatakan penundaan itu merusak kredibilitas pemilu. (yl)