Connect with us

Olahraga

Gadis Atlet Karate Ini Tolak Ikuti Bertanding di Asian Games 2018 Demi Akpol

Published

on

Semarang, Geosiar.com – Bertanding di Asian Games 2018, merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi anak muda yang memiliki semangat atlet di dalam dirinya. Tapi berbeda yang dialami oleh Nora Septiana (18).

Nora, salah satu atlet bela diri karate mengaku melewatkan kesempatan bertanding di Asian Games 2018. Gadis ini lebih memilih ikut proses seleksi taruni Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun ini.

“Saya dapat tawaran oleh pelatnas. Tawaran bertanding untuk Asian Games , event di Jepang dan Vietnam. Sempat bimbang awalnya tapi banyak pelatih yang saya mintai saran. Tapi saya juga mikir kesempatan jadi polisi nggak datang dua kali. Kalau pelatnas kan saya bisa berlatih terus dan ikut pertandingan selanjutnya,” ujar Nora, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (25/7/2018).

Dia sempat menunjukkan kemahirannya saat tahap pemeriksaan penampilan.

“(Yang ditunjukkan kepada panitia seleksi) karate. Tadi itu seni dalam karate, namanya kata. Prestasinya saya lebih ke komite. Tapi karena buat keindahan depan panitia, jadi saya tunjukkan kata,” jelas Nora.

Gadis yang sudah menyandang ban hitam dan dua dalam karate ini mengaku memenangkan Kejuaraan Nasional Piala Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tahun ini dan mendapat gelar Best of The Best dalam kompetisi itu. Nora menggeluti bela diri karate sejak duduk di bangku kelas 3 SD.

“Saya terakhir di karate itu di Kejurnas Piala Mendagri, juara I dan Best of The Best di Sulawesi Tengah, Maret kemarin,” kata Nora.

Dia bercerita alasan dirinya lebih memilih ikut seleksi taruni Akpol, yaitu karena kondisi keluarganya. Menurutnya pekerjaan sebagai polisi lebih menjanjikan untuk masa depannya.

“(Alasan masuk Akpol) Pengin angkat derajat keluarga. Keluarga saya kurang mencukupi, jadi pengen mengubah derajat keluarga. Bapak kerja sopir bus antar kecamatan,” terang Nora.

Keinginan dia untuk mendaftar Akpol sempat diragukan. Orang-orang sekitarnya menyarankan Nora mendaftar Akademi Milter (Akmil). Hal itu dikarenakan kesan orang sekitar tentang rekrutmen polisi yang memerlukan biaya banyak.

“Orang-orang bilang saya lebih mirip jadi tentara, karena nggak cocok jadi polisi. Ada juga yang bilang polisi kan ujung-ujungnya uang, pasti kamu nggak bisa masuk. Tapi saya bilang, ‘Lah aku dari kecil suka lihat polisi’ dan sekarang saya tunjukkan saya (ikut seleksi Akpol) nggak bayar apa-apa,” cerita Nora.

“Sempet gitu, takut (proses rekruitmen Akpol) pakai duit, karena ibu bilang sebelum saya berangkat (seleksi), ‘Nduk (panggilan anak perempuan dalam bahasa Jawa), Ibu wis nyepake’ duit (ibu sidah siapkan uang)’. Saya nggak tahu uang dari mana tapi saya jawab kalau pakai uang, saya nggak mau daftar polisi,” sambung Nora.

Nora mengungkapkan tak ingin cita-citanya membebani orang tua. Menurutnya, mengeluarkan banyak uang untuk menggapai cita-cita adalah hal yang sia-sia.

“Soalnya banyak orang bilang kalau masuk ini bayar ratusan juta. Percuma juga saya masuk tapi keluarga saya susah payah cari uang buat saya. Niat saya kan bahagiain mereka,” ungkap Nora.

Nora kemudian menjelaskan perjuangannya mendaftar Akpol, di mana dia harus bangun setiap tengah malam untuk registrasi online. Tak ada internet di rumah Nora, dia dan ayahnya menempuh perjalanan setengah jam sampai ke tengah Boyolali untuk mencari warung internet yang buka 24 jam.

“Dari awal daftar sudah perjuangan karena daftar online susah banget. Saya jam 12 malam dibangunin bapak, pergi ke kota. Nyari warnet 24 jam. Daftar malam-malam dengan harapan kalau malam sedikit yang buka websitenya, jadi sistemnya tidak down. Tapi (website pendaftaran Akpol) itu juga tidak bisa dibuka. Di warnetnya bapak sempat nangis,” jelas Nora.

“Aku sempat putus asa. Baru daftar online saja susah, kayanya nggak mungkin. Akhirnya H+7 (pembukaan pendaftaran), sudah bisa buka. Dari situ saya ke Polres Boyolali, habis itu baru ke polda. Ternyata yang atlet bukan saya saja,” imbuh Nora.

Namun saat proses seleksi untuk tingkat pusat, Nora menjadi salah satu dari 11 calon taruni yang lolos. Dia berharap dapat lolos masuk seleksi calon taruni tingkat pusat.

“Di polda yang daftar 59, diambil 11. Pasti harapannya saya lolos. setelah lolos bisa jadi perwira. Saya nggak mau ayah kerja susah lagi. Ayah umur 55, sudah kurus badannya. Pokoknya saya mau ayah tunggu saja di rumah, saya mau naikkan haji ayah dan ibu,” tutur dia. (Ut)