Connect with us

Nasional

Wakil MPR Minta Isu Adu Domba Islam dan Nasionalis Segera Diakhiri

Published

on

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Ahmad Basarah. (mpr.go.id)

Geosiar.com, Jakarta – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Ahmad Basarah mengaku prihatin dan miris melihat kondisi situasi nasional akhir-akhir ini yang ingin membenturkan Islam dengan Nasionalis. Basarah menilai, kesalahpahaman tersebut harus segera diakhiri.

“Isu adu domba antara Islam dan Nasionalis ini harus segera diakhiri,” ujar Basarah saat menerima audiensi Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) di ruang kerjanya di komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, (24/7/2018).

Basarah menjelaskan upaya adu domba amat ampuh untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Sebagai contoh, Belanda bisa dengan lama menjajah Indonesia yang dahulu bernama Nusantara, karena menjalankan praktik politik adu domba.

“Dan kini saya melihat ada upaya reproduksi politik adu domba,” katanya.

Basarah menjelaskan secara spesifik bahwa kesan yang muncul saat ini adalah seakan-akan kelompok nasionalis sangat anti agama. Sebaliknya kelompok agama khususnya kelompok Islam dipersepsikan tidak nasionalis. Bagi Basarah, dikotomi tersebut dinilai rancu dan ahistoris.

Mengapa demikian? Jawab Basarah, tudingan yang menyebut Bung Karno sebagai seorang Nasionalis sekuler sangat tidak tepat. Sebab, dalam faktanya, Bung Karno adalah pribadi yang religius. Bung Karno, sambung Basarah belajar Islam dengan sungguh-sungguh selama 26 tahun.

“Jadi konstruksi awal pemikiran Bung Karno adalah Islam. Bung Karno itu santrinya H.O.S Tjokroaminoto. Bung Karno itu santrinya Kiai Haji Ahmad Dahlan. Ini artinya Bung Karno sosok religius,” kata Basarah.

Di sisi lain, Basarah juga menyoroti peran alim ulama dalam menjaga keutuhan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Salah satu bukti nyata tersebut adalah para ulama atau kelompok religius yang tergabung dalam Panitia 9 (sembilan) menyetujui permintaan Bung Hatta agar menghilangkan 7 (tujuh) kata yaitu “Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluknya” menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

“D isini amat jelas. Bahwa kaum agamis itu sangat cinta kepada tanah airnya. Jadi, saya tegaskan dikotomi antara Islam dan Nasionalis sudah tidak tepat. Adanya kesalahpahaman ini harus segera diakhiri,” tutur Basarah.(yl)