Connect with us

Nasional

Tahun 2050, Penggunaan AC Jadi Pendongkrak Permintaan Listrik

Published

on

Penggunaan AC Jadi Pendongkrak Permintaan Listrik pada 2050

Jakarta, Geosiar.com – Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA)IEA, Hari ini, mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri ESDM Ignasius Jonan membahas perkembangan energi global.

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA)IEA merupakan organisasi antar-pemerintah dan penasihat energi untuk pemimpin negara anggota G7 dan G20.

Pihak IEA ini juga menyebut penggunaan pendingin ruangan (air conditioner/AC) bakal menjadi pemicu utama terdongkraknya permintaan listrik dunia pada 2050.

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol mengungkapkan, pada 2050, penggunaan listrik untuk mesin pendingin akan berkontribusi sekitar 35 persen terhadap pertumbuhan permintaan listrik di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

“Saya menyebut pendingin udara merupakan titik buta dalam perdebatan energi global. Kenapa titik buta? Karena orang tidak banyak membicarakan tentang AC,” ujar Birol dalam paparannya di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Senin (16/7).

Di Indonesia, pengguna pendingin udara sebenarnya masih sedikit. Hanya sekitar 10 persen rumah tangga memiliki pendingin udara

Jumlah tersebut masih di bawah Thailand di mana porsi rumah tangga yang memiliki pendingin udara sebanyak 30 persen, serta Amerika Serikat, dan Jepang yang 90 persen rumah tangganya telah memiliki pendingin udara.

Dengan demikian, efisiensi dari penggunaan mesin pendingin menjadi sangat penting. Tak hanya itu, produsen juga harus memproduksi AC dengan standar teknologi hemat energi.

“Menghemat listrik itu lebih mudah dibandingkan menciptakan listrik,” ujarnya.

Berdasarkan data IEA, selain AC, permintaan listrik global juga dipicu oleh aktivitas industri (26 persen), lampu dan peralatan (21 persen), bangunan (11 persen), dan penggunaan lain-lain (7 persen). (Ut)