Connect with us

Sumut

Pembuatan Bioadsorben Eceng Gondok untuk Mengurangi Kadar Logam Berat di Air

Published

on

mahasiswa peneliti bersama dosen pendamping sedang melakukan uji coba di Laboratorium FMIPA/ Queen Samosir

Geosiar.com, Medan – Tiga orang mahasiswa Universitas Negeri Medan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) jurusan kimia membuat bioadsorben dari tanaman eceng gondok sebagai pengurang kadar logam berat pada air sungai. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Mutya Fika Safitri, Agustina Mandasari dan Harsona Sinurat yang merupakan mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia.

Mereka adalah pemenang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang berhasil didanai oleh Kemeristekdikti dengan judul penelitian “Pembuatan Bioadsorben Eceng Gondok dan Kitosan-kitosan Bentonit sebagai Adsorben Logam Berat Pb (II) di Sungai Belawan Kota Medan, dan dibimbing oleh salah satu dosen jurusan kimia yang bernama Moondra Zubir, Ph.D.

“Pembuatan bioadsorben dari eceng gondok dan kitosan-bentonit ini sebagai adsorben logam berat Pb pada air. Hal ini dilakukan untuk mencegah pencemaran air yang dapat disebabkan oleh logam berat, salah satunya adalah logam Timbal (Pb2+)”, ujar Agustina, salah satu anggota tim PKM, Senin ( 9/7/2018).

Kemudian Mutya menambahkan, ” Jika konsentrasi logam timbal ini melebihi ambang batas, maka dapat memberikan dampak yang buruk pada kehidupan ekosistem air dan pada manusia seperti gangguan pada saraf perifer dan sentral, sel darah, gangguan ginjal secara kronis.

Pertumbuhan eceng gondok yang sangat cepat menyebabkan susahnya untuk dikendalikan serta populasi eceng gondok yang banyak dapat menimbulkan eutrofikasi.

Padahal eceng gondok berpotensi sebagai bahan baku pembuatan adsorben karena memiliki kandungan silika sebesar 5,56% yang memungkinkan eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai adsorben alami (bioadsorben). Sedangkan kitosan dan bentonit memiliki kemampuan adsorpsi yang baik dalam penyerapan logam berat.

Dari hasil penelitian mereka, ditemukan bahwa penggunaan eceng gondok sebagai adsorben akan lebih optimum jika di gabungkan dengan dengan kitosan bentonit dalam perbandingan tertentu. Dalam perbandingan 3:1 adalah massa maksimum yang baik untuk penyerapan logam berat tersebut.

[tps_start_button label=”Start slideshow” style=”” class=””]“Dilihat dari hasil AAS yang telah dilakukan bahwa kadar Pb2+ yang tertinggal sangat rendah dalam perbandingan massa 3:1 dan dalam waktu 5 menit”. Keuntungan dalam bioadsorben ini adalah ramah lingkungan dan direct conversion sehingga lebih praktis dan efesien. Karena penggunaan langsung ke dalam air yang akan digunakan. Pembuatan bioadsorben ini diyakini sangat efesien karena selain mengurangi Pb2+ di sungai Belawan tetap juga mengurangi perkembangbiakan eceng gondok”, ujar Harsono. (qkhs)