Connect with us

Sumut

Pestival Budaya di Pusuk Buhit, Bupati Samosir: Budaya Merupakan Roh Hidup Orang Batak

Published

on

Bupati Samosir Rapidin Simbolon saat memberikan sambutan acara Festival Wisata Edukasi Leluhur Batak 2018 yang diselenggarakan komunitas Ruma Hela di huta Simullop kaki dolok Pusuk Buhit, Pangururan, Kab Samosir, Kamis (5/7/2018). (foto: lambok manurung)

Samosir, Geosiar.com – Bupati Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir, Rapidin Simbolon menyebut budaya merupakan roh hidup orang batak. Maka itu, Rapidin mengajak masyarakat batak untuk menjaga kelestarian budaya leluhur di dolok Pusuk Buhit.

Hal tersebut disampaikan Rapidin Simbolon saat menghadiri acara Festival Wisata Edukasi Leluhur Batak 2018 yang diselenggarakan komunitas Ruma Hela di huta Simullop kaki dolok Pusuk Buhit, Pangururan, Kab Samosir, Kamis (5/7/2018). Menurut Rapidin, selaku orang batak harus menjaga dan melestarikan kearifan lokal.

Dikatakan Rapidin, Pemkab Samosir sangat mengapresiasi dan mendukung penuh kegiatan yang dilakukan komunitas ruma hela. Dukungan itu sangat mendasar sesuai filsafat orang batak menyebut ‘Ompungta naparjolo martungkothon salagundi, Na pinukka ni ompungta naparjolo ido si ihuttonon ni naparpudi’. “Barang siapa yang tidak berkenan mengikutinya maka akan datang mala petaka,” ujar Rapidin.

Ditambahkan, seraya menggambarkan musibah yang terjadi akibat tidak menghargai budaya leluhur seperti yang terjadi musibah tenggelamnya kapal motor Sinar Bangun baru baru ini. Diyakini karena ada sesuatu hal yang bertentangan dengan budaya.

“Dulu, setiap kita berada diatas danau toba ketika naik sampan atau kapal. Orang tua kita selalu berpesan jangan meludah dan membuang sampah sembarangan ke danau toba. Artinya, kita agar tetap menghargai para leluhur, jika kita melanggar maka akan terjadi marah bahaya,” kenang Rapidin.

Seiring itu pula kata Rapidin, saat ini komunitas ruma hela sedang giatnya melaksanakan kegiatan budaya leluhur di pusuk buhit yang dikenal dolok suci orang batak. “Ruma hela sudah berbuat, ‘manjou mulak mata mual’ yakni menampung air mual simullop untuk disalurkan ke masyarakat. Ini budaya yang sangat bernilai tinggi perlu dilestarikan,” terang Rapidin.

Ditambahkan Rapidin mengikuti apa yang disampaikan Uskup Agung Medan Mgr Anicetus Bongsu Antonius Sinaga, O.F.M. Cap saat acara Misa inkulturasi batak toba . Dimana Uskup melaksanakan Misa Inkulturasi bernuansa budaya. ‘Mangido gondang parjolo’ budaya dan yang diakhiri kegiatan keagamaan.

Disebutkan, budaya itu jelas tidak menyalahi agama. “Maka itu mari kita hargai leluhur terdahulu. Kita jaga ‘haiason ni huta/dolok on. Jangan dibenturkan agama dengan budaya. Karena budaya dan agama, tidak bertentangan namun saling beriringan,” terang Rapidin seraya mengaku pihaknya (Pemkab Samosir-red) mendukung penuh dilaksanakan festival tahunan dan mendukung dari sisi anggaran.

Sebagaimana diketahui acara Festival wisata edukasi leluhur batak 2018 ini berlangsung sejak Rabu- Selasa, (4-10/7/2018). Hari ke dua merupakan agenda Misa Inkulturasi batak toba. Acara Misa terbukti dilakukan bernuansa budaya.

Hadir pada acara itu Uskup Agung Medan Mgr. Anicetus Bongsu Antonius Sinaga, O.F.M. Cap. Sejumlah pastor yang dikordinir Paroki Pangururan, Bupati Pemkab Samosir Rapidin Simbolon didampingi Sekda. Pihak Polres, Anggota Komisi III DPR RI DR Hinca IP Pandjaitan SH MH ACCS. Pengurus Gereja Katholik yang juga Ketua DPRD Medan, Drs Henry Jhon Hutagalung SE SH MH dan Ketua ISKA Sumut yang juga anggota DPRD Medan Drs Hendrik Halomoan Sitompul MM. (lamru).