Connect with us

Nasional

Gubernur Jateng Berikan Kuota 20 Persen Untuk Anak dari Keluarga Tidak Mampu Untuk Sekolah

Published

on

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo

Geosiar.com, Semarang – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memberikan kuota 20 persen untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk masuk sekolah. Ia juga meminta orang tua tidakk memalsukan data utuk memanfaatkan kuota tersebut.

Proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) dilakukan secara daring atau online. Prosesnya pun dengan menerapkan sistem zonasi untuk pertama kali di Jateng.

Bagi warga tidak mampu, mereka dapat menikmati kuota khusus untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah. Asalkan, warga dapat menunjukkan kartu keluarga dan surat keterangan tidak mampu.

Pengalaman di tahun lalu, ujar Ganjar, pemerintah mendapat banyak komplain dari masyarakat. Satu di antaranya beberapa warga yang mengaku miskin dengan meminta surat keterangan tidak mampu dari kepala desa.

“Akhirnya kami mencoret 168 siswa. Mereka sebenarnya tidak miskin. Itu tidak boleh. Anak mau sekolah kok tidak jujur,” ujar Ganjar ditemui di Rumah Dinas Puri Gedeh, Kota Semarang, Selasa, 3 Juli 2018.

Ganjar juga menjelaskan alasan perubahan sistem dari rayonisasi menjadi zonasi. Yaitu mempermudah anak dapat berangkat sekolah karena dekat rumahnya.

“Rayonisasi dulu itu ada problem, sekarang kita ganti zonasi.  Karena ada dulu yang protes, saya ingat betul seorang anak tinggalnya di Kabupaten Semarang, dan lebih dekat dengan Salatiga. Dulu rayon itu teritori pemerintahan, sekarang zona, jadi dekat dari tempat tinggal,” ujarnya.

Dia mengungkapkan masyarakat tidak perlu khawatir dengan sistem penerimaan siswa baru dengan sistem online. Ia mengimbau orang tua siswa yang bingung bisa konsultasi ke sekolah atau ke Kantor Dinas Pendidikan setempat.

“Dulu juga pada repot legalisir KK, sekarang nanti aja, kalau sudah diterima bisa ditunjukan. Ini keuntungannya online,” ucapnya.

Ganjar menceritakan, sempat sidak ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, ia hanya ingin mencari tau ada masalah atau tidak.

“Kemarin saya iseng di Kantor Dinas Pendidikan, ada telpon, saya angkat ada yang nanyak dia dari jawa barat mau masuk jawa tengah, anaknya ingin sekolah disemarang, tinggal urutan, pilihan 1, 2, 3 dan 4,” tandasnya.

Kemudian, lanjutnya, dia menjelaskan anak-anak berprestasi dapat juga menggunakan piagamnya untuk mendapat prioritas masuk sekolah pilihannya.

“Saya mengecek di SMAN 3 Semarang, problemnya adalah hak setiap siswa bisa masuk dengan prioritas piagam prestasi, ternyata banyak piagam, ini kalau dia juara internasional 1,2 atau 3 bisa otomatis langsung masuk. Tapi kalau nasional harus juara 1 baru masuk,” tandasnya. (Ut)