Connect with us

Nasional

UNODC: Pasar Narkoba Menyerang Negara Berkembang

Published

on

Peluncuran World Drugs Report 2018 dalam memperingati Hari Anti Narkoba Internasional dilaksanakan oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) Indonesia dengan Badan Narkotika Nasional di kantor BNN RI, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (26/6) pagi ( Foto: Suara Pembaruan)

Geosiar.com, Jakarta – Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) yang jatuh pada Selasa (26/6/2018) menjadi momen peluncuran World Drugs Report 2018. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) RI mengadakan diskusi terkait penanganan penyalahgunaan narkoba di Indonesia

Country Manager UNODC, Collie F. Brown menyampaikan saat ini semakin berkembang narkoba jenis sintetis dengan trafik permintaan yang semakin meningkat di benua Asia dengan transaksi dominan menggunakan darknet.

“Dari data UNODC sejak tahun 2006-2016, sebanyak 5,6 persen dari populasi global berusia 15-64 Tahun menggunakan narkoba, khususnya peningkatan tertinggi di rentang usia 18-25 tahun,” ucap Collie.

Meski produksi opium menurun karena kondisi oversupply dan harga yang terus menurun, tetapi heroin dan morfin banyak dan stabil ditemukan di Asia dengan persentase 86 persen. Indonesia juga turut terdampak karena letak yang berdekatan dengan “Golden Triangle” mencakup Thailand, Laos, dan Myanmar.

“Peredaran itu dapat dilihat dengan semakin banyaknya barang sabu tangkapan yang ditemukan di sejumlah negara meliputi Indonesia, Jepang, Australia, New Zealand, Malaysia dan perlu kerja sama kooperatif informasi dan intelijen dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk mencegah penyalahgunaan narkoba,” tambahnya.

Apalagi, Collie menyebutkan hampir sebagian besar wilayah Indonesia merupakan wilayah laut sehingga dapat dengan mudah disusupi oleh para pengedar narkoba untuk menyelundupkan barang tersebut melalui jalur-jalur tertentu.

Sementara itu, Deputi Rehabilitasi BNN RI, dr.Diah Setia Utami, Sp.kj, MARS menyebutkan dari 260 juta penduduk Indonesia, penyalahguna narkoba mencapai angka 3,5 juta orang tahun 2017 lalu di mana 1,4 juta orang di antaranya merupakan pemakai reguler.

“Sebanyak 1 juta orang lainnya menjadi ketergantungan dan 12.000 orang meninggal per tahun terkait dengan kasus penyalahgunaan narkoba. Pengguna narkoba perempuan menurut survei terakhir juga mengalami peningkatan dari 15 persen menjadi 25,8 persen,” ujar Diah.

Penyalahgunaan narkoba tidak hanya mencakup kota besar tapi juga sudah masuk ke desa kecil dan menjangkau dalam berbagai kelas sosial maupun ekonomi termasuk menyasar anak-anak (melalui obat batuk) dan perempuan.

“Narkoba jenis baru atau New Psychoactive Substances (NPS) yang sudah dideteksi di Indonesia sebanyak 71 NPS, meski baru 65 NPS yang dimasukkan dalam regulasi,” katanya.

Pemerintah melalui BNN dan stakeholder terkait juga sudah melakukan upaya pencegahan penanaman ganja yang marak di Aceh dengan melakukan tindakan preventif serta mengganti lahan yang sudah ditanam dengan berbagai tanaman produktif.