Connect with us

Daerah

Raja Poltak Naipospos Pimpin Ritual Agama Malim di Huta Halasan

Published

on

Tobasa, Geosiar.com – Diiringi tortor somba dengan irama ‘gondang sabangunan’, penganut Ugamo Malim (Parmalim) melaksanakan ritual Sipaha Lima. Kali ini penganut agama leluhur Batak Toba itu menggelar di Bale Pasogit huta Halasan Desa Sionggang Tengah, Kec Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Senin (25/6/2018).

Kendati pembangunan Bale Pasogit belum rampung, namun tidak menyurutkan sekitar 800 jiwa lebih umat Parmalim dari penjuru tanah air hadir mengikuti acara Sipaha Lima itu dengan tertib dan damai. Sebagaimana menurut aturan di Ugamo Malim, pada bulan Sipaha Lima setiap tahunnya penanggalan kalender suku Batak, Parmalim wajib melakukan acara ritual sebagai bentuk rasa syukur kepada sang pencipta Mulajadi Nabolon.

Melalui Doa ritual tonggo-tonggo diiringi gondang sabangunan dengan persembahan Horbo Sitingko tanduk, Ihutan (Pimpinan) Parmalim Raja Poltak Marsinton Naipospos meminta kepada sang pencipta Mulajadi Nabolon kiranya ke depan seluruh umat Parmalim dimana pun berada tetap diberkati, mendapat rezeki yang berlimpah, kesehatan dan keselamatan.

Ihutan Parmalim Raja Poltak Naipospos tidak luput mendoakan agar seluruh bangsa di dunia hidup rukun dan damai. Sama halnya, pemimpin di negeri ini kiranya tetap mendapat kekuatan dan kecerdasan dari sang pencipta.

Sejak pagi, seluruh peserta yang hadir tampak riang dan kompak bekerjasama melakukan persiapan prosesi. Seperti, mendirikan “langgatan”, sarana dan prasarana. Begitu juga dengan persiapan ‘borotan’ horbo pelean dan langgatan tempat pelean atau persembahan.

Tepatnya, pukul 13.30 wib, Ihutan Parmalim memulai acara pajongjong borotan Horbo Sitingko Tanduk Siopat pisoran. Selanjutnya Doa ritual yang diikuti gondang dan tortor liatliat, ina, ama dohot naposo. Berikutnya Raja Poltak memberikan petuah bagi umat Parmalim.

Menurut, Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran dari Sekretariat Pusat Parmalim Halasan Sirait acara Sipaha Lima ini digelar selama 3 hari Minggu-Selasa (24-25-26/6/2018). Pada hari pertama disebut “Parsahadaton” yakni tortor diiringi gondang sabangunan dari setiap cabang (punguan). Pada hari kedua disebut “pameleon bolon” yakni melakukan ritual doa dengan (pelean) sesajian dan Horbo (kerbau) borotan. Sedangkan hari ketiga disebut “panantion” yakni penyampaian berkah, pesan dari Ihutan Parmalim kepada pengikut serta Doa penutup. (lamru)