Connect with us

Nasional

Ekspor Industri Manufaktur Terhambat Pasca Libur Panjang Lebaran

Published

on

Ilustri Ekspor

Geosiar.com, Jakarta – Pembatasan transportasi pada libur panjang Lebaran kemarin sangat mempengaruhi aktivitas ekspor industri manufaktur.

Pada kuartal I/2018, industri manufaktur mencatatkan nilai ekspor sebesar US$32 miliar atau naik 4,5 persen dibanding capaian pada periode yang sama tahun lalu di angka US$30,6 miliar

Pembatasan tersebut membuat pasokan ekspor melambat. Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar dalam keterangan pada Rabu (20/6) mengatakan bahwa meskipun terpengaruh, dia optimistis industri bisa mengatasinya.

“Pasti mereka punya cara untuk mengantisipasi ini,” katanya.

Kementrian Perindustrian, Airlangga Hartarto yakin produktivitas industri manufaktur akan pulih kembali setelah masa libur panjang Lebaran usai. Dia bahkan yakin produktifitas tersebut bisa menggerek pertumbuhan industri ke arah yang positif pada kuartal III/2018 atau lebih tinggi dibanding periode sebelumnya.

“Kemarin kan sempat transportasi barang dibatasi, ditambah pula dengan adanya liburan yang cukup lama, tetapi ini bisa dikejar pada kuartal III nanti,” kata Airlangga.

Keyakinan tersebut didasarkannya pada pelaksanaan pemilihan kepala daerah serentak yang akan dilakukan tahun ini.  Menurut perkiraannya pesta demokrasi tersebut akan berdampak positif terhadap produksi sejumlah industri manufaktur.

“Apalagi nanti juga ada Pemilu, tentu permintaan produknya lebih banyak lagi,” ujarnya.

Dia menyebutkan, beberapa sektor manufaktur yang berpeluang tumbuh gemilang karena mendulang permintaan domestik tinggi selama Pilkada antara lain; industri makanan dan minuman, industri tekstil dan produk tekstil, serta industri alas kaki.

“Bahkan, industri printing juga akan meningkat,” ungkapnya.

Berdasarkan data BPS, industri manufaktur nasional skala besar dan sedang dalam negeri mengalami peningkatan produksi sebesar 0,88 persen pada kuartal I 2018 atau lebih tinggi dibanding kuartal IV/2017, dan tumbuh 5,01 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Selanjutnya, industri pengolahan nonmigas tumbuh sebesar 5,03 persen di kuartal I/2018, meningkat dibanding periode yang sama tahun 2017 sekitar 4,80 persen. Sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah industri mesin dan perlengkapan sebesar 14,98 persen.

Kinerja cemerlang juga diikuti industri makanan dan minuman yang menempati angka pertumbuhan hingga 12,70 persen. Kemudian industri logam dasar 9,94 persen, industri tekstil dan pakaian jadi 7,53 persen, serta industri alat angkutan 6,33 persen.

Berdasarkan indeks manajer pembelian (PMI) Indonesia yang dirilis oleh Nikkei dan Markit, pergerakan industri manufaktur nasional semakin ekspansif lantaran didorong permintaan baru yang mengalami pertumbuhan paling cepat sejak Juli 2014.

Di samping itu, produksi manufaktur dalam negeri terus menunjukkan kenaikan selama empat bulan terakhir dan menjadi periode perluasan usaha yang terpanjang sejak lima tahun silam. Capaian ini terlihat dari PMI Indonesia pada Mei 2018 yang menyentuh di level tertinggi dalam 23 bulan, yakni sebesar 51,7 atau naik dari bulan sebelumnya 51,6.

Kementerian mengklaim pihaknya fokus menjalankan program hilirisasi industri untuk memberikan efek berantai terhadap perekonomian nasional. Hal itu antara lain, memberi nilai tambah bahan baku dalam negeri, menyerap tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor. (Ut)