Connect with us

Daerah

Tersuruk ke Sudut Pasar, Kakek 65 Tahun Tetap Geluti Tanaman Tembakau

Published

on

Ketut Narka, Petani Tembakau Terakhir di Sukawati (kompasiana.com)

Geosiar.com, Bali – Berada di antara dua sungai besar yakni Petanu dan Pakerisan menjadikan Sukawati daerah pertanian sekaligus perkebunan. Melon dan semangka tanpa biji pertama ditanam di Bali oleh petani Sukawati. Khususnya yang berada di sekitar banjar Gelumpang. Selain itu semenjak tahun 60an juga terkenal sebagai penghasil tembakau lokal yang disebut dengan mako sigsigan.

“Tembakau jenis ini tidak bagus untuk kretek, karena tebal dan kasar, sedangkan untuk kretek harus yang halus dan tipis,” tutur Ketut Narka, 65 tahun petani tembakau dari Banjar Gelumpang Sukawati.

Dia sudah akrab dengan tembakau sejak kelas 4 SD, itu sekitar tahun 1963.

“Saat gunung Agung meletus saya sudah bisa mengolah lahan untuk tanaman tembakau,” tutur ayah 2 putra ini. Lahan untuk menanam tembakau biasanya di persawahan yang sengaja dikeringkan usai panen. Urutannya dalam setahun adalah padi saat musim hujan, kedelai dan melon menjelang kemarau, dan tembakau pada puncak musim panas.

“Kami tidak mengolah lahan secara khusus, jerami cukup disingkirkan, diberi galengan berjarak 2 meter tanpa perlu ditutup plastik atau mulsa,” ucap kakek 3 cucu ini.

Dia menggarap lahan seluas 50 are, hasil padi biasanya sekitar Rp 8 juta sekali panen. Sedangkan melon setiap kali panen bisa mendapatkan Rp 15 juta. Tentu tidak sebanding dengan pendapatan dari menanam tembakau yang kadangkala bisa menghasilkan 4 kuintal setiap musimnya. Saat ini sekilo tembakau kering bisa dihargai Rp 70.000. Artinya bila nasibnya sedang mujur dia bisa mengantongi Rp 28 juta sekali musim tanam tembakau,

“Namun kesibukannya juga 4 kali lebih berat, terutama saat acara ngepuk tiba,” tambahnya.

Ngepuk atau memotong tunas agar tidak tumbuh bunga berlangsung saat tembakau berumur 50 hari. Narka tidak membayar buruh untuk melakukannya, dia cukup dibantu sang istri yang dengan setia menemaninya melakukan proses sepanjang hari.

Tak kurang selama 100 hari Narka mesti bertapa diladangnya yang jauh dari keramaian. Sama seperti nasib tembakau yang seperti tersuruk ke sudut pasar karena hanya dibutuhkan pada saat tertentu saja.

Saat ini, Generasi di bawah Narka tidak ada yang tertarik menjadi petani tembakau. Karena proses panjang dan melelahkan, kebanyakan mereka menjadi pelukis dan pematung atau menjadi penjaja kaos barong di pasar seni Sukawati. Narka bisa jadi merupakan petani tembakau terakhir di Sukawati.(Ut)