Connect with us

Nasional

Hinca Pandjaitan: Lestarikan Budaya Leluhur Wisata di Danau Toba

Published

on

Anggota Komisi III DPR RI DR Hinca IP Pandjaitan SH MH ACCS saat menggelar reses perseorangan di Parapat, Simalungun Sumatera Utara, Sabtu (16/6/2018). (foto: lambok manurung)

Parapat, Geosiar.com – Anggota Komisi III DPR RI DR Hinca Pandjaitan XIII SH MH ACCS bersama tokoh masyarakat serta komunitas penggiat budaya sepakat untuk menggalakkan wisata di Danau Toba melalui pelestarian budaya leluhur. Kultur budaya etnis yang kaya dengan kearifan lokal akan dipertahankan.

“Karena dengan menghargai budaya dan kearifan lokal lah. Danau Toba dapat bersih, penebangan pohon di hutan berhenti,” ujar Hinca Pandjaitan ketika menggelar reses perseorangan di oven stage pagoda Parapat, Pemkab Simalungun, Sumatera Utara, Sabtu (16/6/2018). Hadir saat reses, tokoh masyarakat, tokoh budaya, para penggiat budaya, Camat Sipanganbolon, Kapolsek Parapat dan anggota DPRD Kabupaten Simalungun.

Disampaikan Hinca, kebersihan Danau Toba dan kelestarian hutan lindung akan dapat terjaga jika masyarakat disadarkan akan budaya dan kearifan lokal. Dengan menghormati kearifan lokal, warga tidak lagi menebang pohon secara sembarangan di hutan serta tidak mencemari Danau Toba.

“Budaya leluhur itu yang harus kita hormati. Karena barang siapa yang menghormati leluhurnya, sesungguhnya Ia telah mempersiapkan dirinya untuk dihormati generasi penerusnya. Unang tamagohon ugasan ni daompung. Orang batak akan maju karena budaya, ” imbuh Hinca Panjaitan.

Ditambahkan Hinca, untuk itu, Ianya mengaku siap memfasilitasi seluruh masyarakat sekitar Danau Toba untuk melestarikan budaya leluhur. Karena melalui pelestarian budaya lokal diyakini akan memperkenalkan Danau Toba dimata dunia. Menggali kembali potensi budaya leluhur yang sudah terkikis. “Budaya harus diperjuangakan dan salah satu cara memperjuangkannya adalah politik,” ujar Hinca yang juga menjabat sekjen DPP Partai Demokrat itu.

Menurut Hinca banyak yang harus dilakukan, seperti, ritual manguras di Danau Toba, ritual manjou mulak mata mual di huta Simullop kaki gunung Pusuk Buhit, tarian tor tor toba, turi turian, melestarikan tenunan Ulos, membudidayakan tanaman pohon enau (bagot/pangko) sumber tuak tangkasan dan lainnya. Semua itu dinilai akan mampu meningkatkan minat wisata serta dukungan Geopark Kaldera Toba menuju wisata dunia.

Menurut Hinca, pada pelaksanaan Pesta Danau Toba setiap tahunnya, kiranya panitia dapat memperhatikan agenda yang skala prioritas. Hendaknya, pagelaran budaya harus lebih ditonjolkan ketimbang perlombaan olahraga lainnya.

Sebelumnya, sejumlah penggiat budaya yang dikordinir Corry Panjaitain menyampaikan aspirasi yang intinya bagaimana untuk memajukan pariwisata di Sumatera Utara khususnya kawasan Danau Toba.

Pada kesempatan itu, para komunitas dan pemerintah yang diwakili Camat Sipanganbolon mengaku tetap butuh inovasi akan pengembangan wisata di Danau Toba. Saat ini, Camat mengaku pemerintah dan masyarakat bersinergi akan sadar wisata. (lamru)