Connect with us

Politik

Filosofi Bendera Ala Politik Hinca, “Mangkilap Sian Nadao Manjou Najonok”

Published

on

Medan, Geosiar.com – Tour politik Sekjen DPP Partai Demokrat DR Hinca IP Pandjaitan XIII SH MH ACCS keliling nusantara tergolong super dan unik. Petualangan nya mensosialisasikan partai berlambang mercy dari ibu kota hingga ke desa terpencil tiada hentinya.

“Nonang-nonang” soal partai terus dilakukan dan tidak kenal waktu dan tempat. Kapan dan dimana saja, Hinca kerap menyampaikan pembelajaran politik kepada kader dan pengurus partai. Terbukti, mulai pengurus pusat, DPP, DPD, DPC, PAC, Anak Ranting diupayakan agar mendapat pembelajaran politik demokrasi.

Kendati sudah menjabat Sekjen Partai besar dan pemenang Pemilu Tahun 2009 itu. Bagi Hinca tidak lah gengsi turun gunung demi memajukan Partai. Partai Demokrat yang dibidani Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu pun tetap dikumandangkan kemana dan dimana saja.

Menurut Hinca, berbicara soal politik dan konsolidasi partai tidak musti di kantor. Dimana saja, dari kantor ber AC hingga desa terpencil dibawah pohon kelapa sawit dengan mengelar tikar, strategi pemenangan Partai Demokrat tetap dirancang. Targetnya, Partai Demokrat pada Pemilu Tahun 2019 mendatang dapat berjaya kembali.

Sejumlah rumus dan strategi meraih kemenangan itu tidak lah mudah. Belajar dari itu pula, pendekatan lewat budaya, ekonomi, pendidikan dan politik tetap dilakukan dengan selalu menyesuaikan tempat.

Salah satu upaya manjur dan tindakan yang harus dilakukan mensosialisasikan partai, salah satu nya menurut Hinca adalah pemasangan bendera partai Demokrat dimana saja. Disetiap kegiatan dan yang paling utama di seluruh kantor Partai hingga ke anak ranting harus dipasang bendera Partai Demokrat.

“Bendera demokrat harus dikibarkan menjulang tinggi dimana saja. Dengan cara itu akan memperkenalkan Partai Demokrat kepada masyarakat lebih dekat. Filosofinya sangat tinggi yakni dalam bahasa batak toba disebut ‘Mangkilap sian na dao, Majou na jonok’ artinya memperkenalkan dari kejauhan dan memanggil jika sudah dekat,” terang Hinca yang dikenal selaku pegiat budaya dan tetap menghormati kearifan lokal itu.

Bagi Hinca, berpolitik adalah urusan nomor dua. Sebelum politik adalah menomorsatukan masalah budaya. “Politik adalah urusan nomor dua, yang utama adalah budaya. Namun untuk merealisasikan urusan budaya itu harus menggunakan unsur politik,” ujar Hinca yang juga anggota Komisi III DPR RI itu. (lamru)