Connect with us

Dunia

Ratusan Pengedar Narkoba Ditembak Mati di Bangladesh

Published

on

Pengedar narkoba tewas dalam baku tembak dengan polisi atau dengan geng lainnya. (twitter)

Geosiar.com, Bangladesh – Sekitar 130 orang yang dituduh sebagai pengedar narkoba tewas ditembak dan 13.000 lainnya ditangkap hanya dalam waktu tiga minggu di Bangladesh. Perlakuan ini telah memicu kecaman dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Organisasi HAM PBB menuduh Pemerintah Bangladesh melakukan pembunuhan di luar proses hukum yang menyerupai tindakan Presiden Filipina Rodrigo Duterte dalam pemberantasan narkoba.

“Bahkan jika orang menjual atau menggunakan narkoba, bukan berarti Anda berhak membunuh mereka. Mereka berhak untuk mendapatkan proses hukum,” kata Ravina Shamdasani, juru bicara Komisioner Tinggi PBB untuk urusan HAM.

“Kami khawatir dengan pernyataan pemerintah bahwa tidak seorang oun yang terbunuh yang tidak bersalah,” kata Shamdasani.

“Ini cara berbahaya dalam memandang persoalan. Menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap aturan hukum,” katanya.

Pemerintah Bangladesh menyampaikan 130 orang yang tewas sejak 13 Mei lalu merupakan pengedar narkoba. Mereka tewas dalam tembak-menembak dengan polisi atau dengan geng lainnya.

Namun organisasi-organsasi HAM mengatakan satuan polisi yang diterjunkan memiliki catatan pembunuhan di luar proses hukum.

“Sebelum rangkaian pembunuhan ini diselidiki secara independen, dan prosedur yang tepat diterapkan untuk melindungi masyarakat, kampanye itu harus dihentikan,” kata Brad Adams, Direktur Human Rights Watch Asia.

Kampanye anti-narkoba ini diperintahkan oleh Perdana Menteri Sheikh Hasina untuk menangani penyebaran metamfetamin yang populer disebut “yaba”.

Narkoba ini disembunyikan ke Bangladesh dari negara tetangga Myanmar dan mengandung kombinasi stimulan.(yl)