Connect with us

Dunia

Miris! Telan 80 Kantong Plastik, Paus Pilot Mati

Published

on

Paus Pilot Jantan Mati Telan 80 Kantong Plastik (sains.kompas.com)

Geosiar.com,Dunia – Melestarikan biota laut sedini mungkin memberikan efek yang luar biasa untuk kehidupan laut. Tidak hanya untuk segala jenis tumbuhan atau karang tetapi juga untuk segala jenis hewan laut. Hal ini sangat mempengaruhi untuk kesinambungan biota laut.

Hal ini terjadi di laut lepas pantai Thailand,  seekor paus pilot jantan ditemukan tewas akibat kantong plastik. Sebelumnya, paus tersebut terdampar selama 5 hari dan tidak dapat berenang maupun bernapas.

Beberapa tim konservasi sempat menggelar pelampung agar hewan tersebut tetap mengapung dan memayunginya untuk menghindari sengatan matahari. Alhasil, paus itu memuntahkan lima kantong plastik. Sayangnya, meski tim berusaha menyelamatkannya, paus ini akhirnya mati.

Hasil nekropsi (autopsi untuk hewan) mengungkapkan, hampir 8 kilogram plastik tersumbat di perut paus tersebut. Inilah yang menjadi alasan hewan ini tidak bisa mencerna makanan bergizi.

Hasil nekropsi (autopsi untuk hewan)

Regina Asmutis-Silvia, direktur eksekutif Konservasi Paus dan Lumba-lumba untuk Amerika Utara menyebut kasus ini sebagai simbol dari masalah polusi plastik di lautan. “Kami tidak tahu berapa banyak hewan yang tidak muncul di pantai,” kata Asmutis-Silvia dikutip dari National Geographic, Senin (04/06/2018).

“Ini adalah salah satu paus pilot, ini tidak mempertimbangkan spesies lain. Itu simbolis, tetapi itu simbolis dari masalah yang sangat signifikan,” sambungnya.

Di luar masalah polusi plastik, hal yang membuat banyak orang penasaran adalah mengapa paus mengonsumsi plastik? Para ahli mengatakan, paus tersebut kemungkinan besar mengira kantong plastik sebagai makanan.

Menurut mereka, akumulasi sampah di perut hewan itu bisa menipunya sebagai ‘kenyang’. Dengan sinyal yang salah ini, paus menjadi kekurangan gizi. Jika sudah begitu, paus kemudian akan sakit dan tidak bisa berburu.

“Pada titik tertentu perut mereka penuh dengan sampah dan mereka tidak bisa makan makanan asli,” kata Asmutis-Silvia. “Anda tidak mendapatkan nutrisi apa pun dan dasarnya Anda benar-benar menyumbat sistem pencernaan Anda,” imbuhnya.

Sebagai informasi, paus pilot biasanya makan cumi-cumi. Kemungkinan, mereka mengira plastik tersebut sebagai hewan seperti gurita, cumi-cumi, atau sotong. Polusi plastik hingga saat ini merupakan masalah besar bagi lautan dunia.

Di perairan Thailand, lebih dari 300 hewan laut telah diketahui mati setelah makan plastik. Frakmen plastik di lautan Arktik Pada April lalu, seekor paus sperma juga ditemukan mati di lepas pantai Spanyol. Paus tersebut terlihat kurus kering. Nekropsi menunjukkan ada 27 kilogram sampah plastik dalam perut paus tersebut.

Beberapa negara kini juga mulai mengurangi dan melarang penggunaan plastik sekali pakai. Malaysia, misalnya, berencana memberlakukan larangan pemakaian kantong plastik secara nasional dalam rentang satu tahun. Hal ini dilakukan karena kesadaran masyarakat terhadap sampah plastik masih rendah.

Komisi Eropa juga berencana melarang penggunaan sedotan dan alat makan sekali pakai dari plastik. Langkah yang sama juga diambil oleh pemerintah Inggris. Mereka akan melarang perdaran sejumlah produk plastik sekali pakai seperti sedotan, pengaduk, dan cotton buds.