Connect with us

Nasional

KLHK Ingatkan Bupati Cegah Kebakaran Hutan di Kawasan Danau Toba

Published

on

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Rafles B Pandjaitan saat memberikan bantuan 6 unit sepeda motor dan peralatan pemadam kebakaran hutan kepada komunitas "Rumahela" di Siogungogung Pangururan, Samosir, Kamis (24/5/2018). Bantuan itu diterima langsung Pembina komunitas "Rumahela" DR Hinca IP Pandjaitan XIII SH MH ACCS didampingi Nyonya Angel Bertha Silalahi, Ketua komunitas "Rumahela" Hendrik Naibaho. (Foto: lambok manurung)

Samosir, Geosiar.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Rafles B Pandjaitan mengingatkan seluruh Kepala Daerah (Bupati) untuk tetap melakukan pengawasan ekstra agar tidak terjadi lagi pembakaran hutan di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara. Untuk mengoptimalkan pencegahan itu diminta supaya memberdayakan masyarakat.

Intruksi itu disampaikan Rafles Panjaitan saat pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA) sekaligus membuka pelatihan terhadap 60 orang peserta di Siogungogung, Pangururan Kabupaten Samosir, Kamis (24/5/2018). Pembentukan MPA itu bekerjasama dengan komunitas “Rumahela” dan Pemkab Samosir. Hadir saat itu Pembina Rumahela DR Hinca IP Panjaitan XIII SH MH ACCS bersama Nyonya Angel Bertha Silalahi, perwakilan Bupati Samosir serta para Camat dan Kepala Desa.

Disampaikan Rafles B Panjaitan, pengawasan dan pencegahan kebakaran hutan di kawasan Danau Toba dinila penting guna mendukung kepariwisataan Geopark Kaldera Toba. “Kita harapkan tidak ada lagi titik api dan asap kebakaran hutan di kawasan Danau Toba,” ujar Rafles.

Kepada petugas MPA yang terbentuk diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Tugas MPA dititik beratkan pada upaya pencegahan karhutla.

Ditambahkan Rafles, pelestarian hutan dikawasan Danau Toba sangat penting agar dapat menimbulkan kembali sumber mata air di sekeliling Danau Toba. Dengan munculnya mata air dipastikan menambah sumber kehidupan bagi masyarakat khususnya yang tinggal di kawasan Danau Toba.

Dalam hal itu pihaknya tetap melakukan usaha pencegahan dan langkah langkah pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang sudah terprogram akan tetap dilanjutkan berupa peningkatan SDM. Selain itu akan dakukan pengembangan inovasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta pelatihan Manggala Agni.

Diterangkan Rafles, jumlah MPA hingga Desember 2017 diseluruh Indonesia sebanyak 10.569. Target pembentukan dan pembinaan MPA sejumlah 300 desa. Sedangkan hingga bulan Mei 2018 telah terbentuk 28 kelompok MPA yang terdiri dari 56 Desa.

Seperti dilaporkan usai pembentukan MPA selanjutnya pelatihan selama dua hari di Siogungogung, dusun Simullop dan Rumahela yang berada di kawasan Dolok Pusuk Buhit.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Rafles Pandjaitan usai pembukaan pelatihan menyerahkan secara simboli 6 unit sepeda motor patroli untuk digunakan petugas menjelajah mengawasi hutan bebas dari kebakaran. Selain itu, juga beberapa alat perlengkapan pemadam kebakaran hutan ikut disumbangkan.

Pada kesempatan itu, Hinca Pandjaitan selaku pembina/penasehat komunitas “Rumahela” mengajak masyarakat serta pemerintah untuk peduli lingkungan sekaligus “berikrar” untuk cegah api dari pembakaran hutan dan lingkungan.

Hinca Pandjaitan yang juga Sekjen DPP Partai Demokrat dan anggota Komisi III DPR RI menyampaikan itu, keberadaan komunitas Rumahela adalah untuk mempertahankan program pemerintah tentang Geopark Kaldera Toba. Komunitas Rumahela untuk menjaga keberadaan batu-batuan, tumbuh-tumbuhan dan kultur budaya. “Situs rumahela akan memperjuangkan Samosir bebas kebakaran hutan serta melestarikan kultur budaya,” terang Hinca.

Hinca pun mengajak Pemkab Samosir agar serius mengelola Pusuk Buhit untuk tempat wisata sejarah dan budaya. Sehingga dengan pesta budaya yang dilakukan gagasan komunitas rumahela diyakini dapat mendongkrak peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Samosir.

“Untuk itu, mari kita jaga jangan sampai ada titik api di pusuk buhit. Begitu juga ritual ‘manjou mulak mata mual’ harus tetap diagendakan, sehingga sumber air tetap ada,” ajak Hinca yang juga anggota Komisi III DPR RI itu. (lamru)