Connect with us

Sastra

Melirik Sastra Lisan Ritual Mangalahat Horbo Batak Toba

Published

on

Ritual Mangalahat Horbo Batak Toba (flickr.com)

Geosiar.com, Rubrik Sastra – Artikel

MELIRIK SASTRA LISAN DALAM RITUAL MANGALAHAT HORBO BATAK TOBA

Sastra lisan merupakan karya sastra yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat dan beredar di kalangan lingkungan tempat tinggal mereka. Setiap suku memiliki sastra lisan yang bernilai tinggi. Tidak ketinggalan pula salah satu suku di Indonesia, suku batak toba turut andil dalam menambah kekayaan sastra lisan yang melekat pada setiap tradisi yang dimiliki suku Batak Toba. Tradisi setiap suku tentu berbeda dan memiliki kekhasannya sendiri.

Demikian dengan suku yang terkenal dengan suara keras dan mental bajanya ini. Batak Toba memiliki keunikan tersendiri dalam setiap tradisi yang mereka laksanakan. Adat dan budayanya banyak menyimpan filosofi.

Salah satu tradisi yang dapat dikatakan tidak biasa pada suku Batak Toba adalah ritual Mangalahat Horbo. Ritual ini tidak hanya mengandung makna dan nilai yang kosong dalam setiap pelaksanaanya. Ritual ini menyimpan sastra lisan yang berbentuk umpasa yang diucapkan oleh para penatua adat dan masyarakat yang terlibat dalam ritual tersebut.

Keindahan kata-kata yang diungkapkan melalui lantunan syair tercipta sebagai doa, kata-kata penghiburan dengan nilai suri yang tinggi. Ritual Mangalahat Horbo yang dilaksanakan pada Festival Danau Toba 2013 di Tuk-tuk, Kabupaten Samosir memiliki umpasa yang mengungkapkan ucapan syukur dan doa-doa yang ingin dipanjatkan kepasa Sang Pencipta agar segala permohonannya dikabulkan. Konon, ritual ini dilakukan oleh sepasang suami istri yang tidak dikaruniai seorang anak.

Sebagai wujud doa mereka menyembelih kerbau pilihan dengan syarat tertentu untuk persembahan kepada Debata Mula Jadi Na Bolon demi mendapatkan keturunan, seperti yang dikisahkan oleh Datu Soutihon Situmorang. Cerita ini mengungkapkan kentalnya pemahaman masyarakat batak toba terhadap ketidakmamkuran keluarga yang tidak memiliki keturunan (nilai hagabeon/nilai kekayaan).

Dalam pelaksanaan Mangalahat Horbo pemimpin tertinggi atau disebut Malim Parmangmang menyampaikan beberapa umpasa terkait dengan permohonan yang ingin disampaikan kepada Debata Mula Jadi Na. Salah satu umpasa tersebut adalah marmula sian ho do angka situmalo Debata sitompa langit dohot tano, Ho do mula ni duhut marlata, dohot mula ni onggang marsuara yang dalam bahasa Indonesia berarti Debata Mula Jadi Na Bolon berasal dari pada-Mu segala kebijaksanaan Debata pencipta Langit dan Bumi, “Engkau-lah permulaan kebijaksanaan pencipta langit dan Bumi dan segala isinya, Engkaulah permulaan benih rumput dan dentuman berbunyi.

Kalimat ini menjelaskan bahwa masyarakat batak toba menjunjung tinggi nilai religi (ketuhanan). Suku batak toba menghormati dan meyakini Debata Raja Pargomgom sebagai empunya kekuasaan terhadap bumi dan segala isinya. Umpasa ini menyiratkan makna bahwa Debata Mula Jadi Na Bolon adalah asal muasal dari segala sesuatu. Kalimat tersebut merupakan sastra lisan yang berbentuk umpasa sebagai wujud permohanan (doa) kepada Debata Mula Jadi Na Bolon. Dengan melakukan ritual Mangalahat Horbo masyarakat Batak Toba percaya bahwa segala permohonan akan dikabulkan oleh Debata Mula Jadi Na Bolon. Kalimat ini menjelaskan bahwa masyarakat batak toba menjunjung tinggi nilai religi (ketuhanan). Suku batak toba menghormati dan meyakini Debata Raja Pargomgom sebagai empunya kekuasaan terhadap bumi dan segala isinya

Umpasa yang berisikan doa ini hendak menyampaikan kepada suku Batak Toba  Ritual Mangalahat Horbo ini perlu dipertahankan eksistensinya karena upacara ini merupakan salah satu aset kebudayaan yang dimiliki negara Indonesia yang tercermin dalam adat suku Batak Toba. Ditengah maraknya perkembangan IPTEK dewasa ini, diperlukan sikap kecintaan terhadap budaya yang dianut masing-masing masyarakat. Jika budaya yang dimiliki suatu bangsa tidak dijaga maka bangsa itu akan kehilangan identitasnya.* (qkhs)