Connect with us

Nasional

Uskup Agung Jakarta Imbau Teror Bom Surabaya Tak Dipolitisasi

Published

on

Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo (ketiga kanan) menerima bunga mawar putih sebagai simbol solidaritas dari perwakilan Komunitas Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi (kedua kanan) usai memimpin misa di Katedral Jakarta, Minggu petang. (antaranews.com)

Geosiar.com, Jakarta – Mgr. Ignatius Suharyo selaku Uskup Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mengimbau agar para pejabat pemerintahan mau pun tokoh masyarakat agar tidak memanfaatkan tragedi bom Surabaya sebagai ajang politisasi.

Ignatius menilai lebih baik para tokoh itu bahu-membahu mempererat persatuan..

“Pasti suhu akan meningkat dalam rangka tahun politik. Kita semua meminta kepada pimpinan politik, tokoh politik, tokoh kemasyarakatan yang ingin berkompetisi meraih kekuasaan atau jabatan, mohon jangan pernah menggunakan sentimen agama untuk mencapai tujuan,” kata Ignatius saat konferensi pers di Gereja Katedral Jakarta, Senin (14/5/2018).

Menurutnya, penggunaan ujaran-ujaran yang memperalat agama hanya akan memanaskan situasi.

“Kami mengimbau semua tokoh politik dan masyarakat agar mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dan tidak memperkeruh suasana dengan mengeluarkan pernyataan yang tendensius, mencederai perdamaian dan toleransi beragama,” kata Ignatius.

Dalam kesempatan itu, Ignatius juga membacakan pernyataan sikap tokoh lintas agama tentang teror di Surabaya. Pernyataan itu ditandatangani antara lain oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zain, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Pendeta Pendrad Siagiaan, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) YM Maha Bhiksu Dutavira, dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Yanto Jaya.

Dalam pernyataan itu disebutkan, peristiwa terorisme di Surabaya sejak Minggu (13/5/2018) kemarin menunjukkan gerakan yang terpola, terstruktur dan berjenjang yang sengaja dilakukan untuk “melakukan kekacauan dan mengubah haluan negara.”

Ia pun menyerahkan penanganannya ke pihak yang berwenang.

“Kita dukung aparat keamanan, salah satunya dengan tidak ikut menyebarkan isu, gambar korban, dan berita yang belum terverifikasi kebenarannya,” ujar Ignatius. (yl)