Connect with us

Sumut

GPEI Sumut Harap Stakeholder dan Pelaku Usaha Komunikasi Langsung Dalam Atasi Masalah

Published

on

Drs. Hendrik Halomoan Sitompul, MM beserta para peserta rapat GPEI di BICT, Belawan, Rabu (9/5/2018). (dok.redaksi)

Geosiar.com, Medan – Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Sumatera Utara (Sumut) Drs. Hendrik Halomoan Sitompul, MM berharap agar stakeholder dan pelaku usaha dapat berkomunikasi secara langsung jika menemukan masalah.

“Penyelesaian permasalahan sebaiknya dibicarakan tidak hanya pada saat rapat saja, melainkan komunikasi langsung antara stakeholder dan para pelaku usaha,” kata Hendrik Sitompul pada rapat konsultasi yang digelar GPEI Sumut terkait kepelabuhan, di BICT Belawan, Jalan Raya Pelabuhan Gabion, Rabu (9/5/2018).

Pada rapat yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam itu, ditemukan sejumlah masalah yang disampaikan oleh pelaku usaha.

Salah satu peserta rapat, Sutikno mengatakan Depo atau garasi tempat bus sudah berhenti beroperasi pada pukul 17.00 WIB, sehingga proses pengantaran barang sering mengalami keterlambatan.

“Depo kalau sudah pukul 5 sudah tutup. Proses pengantaran barang kan jadi terlambat. Saya harap Pelindo dan seluruh pendukung Depo beroperasi sampai malam,” ujar Sutikno.

Permasalahan juga disampaikan oleh perwakilan Balai Karantina Sudiwan Situmorang, yang menyampaikan beberapa pihak eksportir tidak menginformasikan tentang persayaratan yang diminta oleh negara tujuan. Hal ini, ucap Sudiwan, menimbulkan masalah baru yaitu tertahannya bahan pangan dalam jumlah yang banyak.

“Seperti ekpor pinang ke Iran dan Pakistan. Mereka minta sertifikat keamanan pangan untuk membuktikan bahwa olahan tersebut aman untuk dikonsumsi. Permintaan seperti itu harus segera diinformasikan, sehingga kami juga dapat mengeluarkan Sertifikasi Kesehatan Karantina berupa dokumen jaminan kesehatan ,” kata Sudiwan.

Di samping itu, perwakilan Otoritas Pelabuhan (OP) Moh. Kendeka Bastari menyampaikan bahwa pelayanan keamanan pelabuhan sudah ditindaklanjuti bersama dengan Polres Belawan.

“Ibu Jece Julita Piris  (Kepala Kantor Otoritas Pelabuhgan Utama Belawan) sudah menindaklanjuti  pelayanan keamanan di pelabuhan, dan sudah rapat dengan Kapolres Belawan,” jelas Kendena.

Lebih lanjut, Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut yang hadir pada rapat itu juga menyatakan dukungan terhadap diberlakukannya International Organization for Standardization (ISO) atau standar-standar untuk umum yang berlaku secara internasional.

Seluruh keluhan telah didiskusikan peserta rapat dan akan segera dibawakan ke dalam instansi masing-masing sebagai masukan untuk memperbaiki sistem yang ada.

“Terima kasih untuk partisipasti saudara-saudara sekalian. Semoga kerjasama antarpelaku usaha dan seluruh instansi dapat kita tingkatkan demi kebaikan kita bersama. Sampai jumpa pada rapat berikutnya.” ucap Hendrik Sitompul yang juga Alumni Lemhannas itu.

Rapat Konsultasi GPEI Sumut dihadiri oleh Otoritas Pelabuhan Utama Belawan, Bea Cukai Belawan, Balai Karantina Pertanian Belawan, GM BICT Belawan, Polres Belawan, serta sejumlah asosiasi, di antaranya adalah AEKI SUMUT, PTPN III, PTPN IV, PT Industri Karet Deli, PT. Musim Mas, PT BEST, dan PT MUTIARA LAUT ABADI. (yl)

  • Suasana peserta rapat GPEI.

  • Suasana rapat GPEI.

  • Sutikno memberi pernyataannya terkait keterlambatan barang di Pelabuhan Belawan.

  • Sudiwan Situmorang dari Balai Karantina menyatakan minimnya informasi tentang persyaratan sertifikasi oleh para eksportir.

  • Drs.Hendrik Sitompul MM, bersama peserta rapat GPEI di BICT Belawan.